
Azhar dan Nasha pulang dari pesantren, dan Nasha benar benar enggan menatap Azhar apa lagi berbicara dengan nya. Nasha bahkan mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume full.
"Sayang, kamu masih marah?" tanya Azhar sembari men colek lengan Nasha yg membuat Nasha langsung memalngkan wajah nya dan menarik lengan nya menjauh dari Azhar. Membuat Azhar terkekeh gemas.
"Ya kan itu tugas ku sebagai Ustadz, kalau kamu engga di hukum itu engga adil bagi yg lain" ujar Azhar lagi namun masih Nasha abaikan.
Bahkan saat sampai di rumah, Nasha masih enggan berbicara dengan Azhar. Ia langsung masuk ke kamar nya dan mengunci pintu dari dalam.
Azhar sendiri pergi menjemput ayah nya karena hari sudah sore, dan Ummi Rifa pun juga sudah pulang.
...
Aktifitas di malam hari masih sama, sholat berjemaah yg di lanjutkan berdizkir kemudian membaca Al Qur'an. Namun ada yg berbeda kali ini, Nasha membawa Qur'an nya pada Ummi Rifa.
"Ummi, mau ngaji..." seru Nasha yg membuat Ummi Rifa langsung melirik Azhar, karena biasa nya Azhar lah yg membimbing Nasha mengaji.
"Kenapa engga sama Azhar, Sha?" tanya Ummi Rifa namun Nasha malah langsung memberengut.
"Mau sama Ummi aja..." rengek Nasha lagi. Ummi Rifa sekilas masih melirik Azhar namun kemudian ia mengangguk.
Ummi Rifa pun membimbing Nasha membaca Al Qur'an sampai selesai, sementara Azhar dengan setia menemani Nasha di samping nya. Walaupun demikian, Nasha seolah tak melihat Azhar sama sekali. Bahkan sampai menjelang Isya dan makan malam, Nasha benar benar memperlakukan Azhar seperti manusia asing yg bahkan tak terlihat.
Abi Ummi nya pun hanya bisa saling menatap penuh tanda tanya namun tak berani benar benar bertanya.
Dan setelah makan malam selesei, Ummi Rifa dan Abi Fadlan segera masuk ke kamar mereka tanpa membereskan dapur. Mereka lakukan itu supaya Nasha dan Azhar bekerja sama membereskan dapur.
Namun yg terjadi, Nasha malah juga meninggalkan Azhar dengan setumpuk cucian piring. Membuat Azhar hanya bisa geleng geleng kepala namun ia tetap melakukan semua pekerjaan itu dengan senyum.
Nasha yg kini berada di kamar nya malah kefikiran dengan Azhar, ia pun keluar dan mengintip Azhar.
"Kasian juga ya kerja sendirian, apa lagi tadi seharian juga kerja" gumam Nasha. Ia pun berjalan ke dapur dan membantu Azhar.
"Istirahat saja, Sayang. Aku bisa kok melakukan semua ini sendirian" ujar Azhar dengan senyum lebar di bibir nya "Tapi kalau kamu memang kasihan dan engga tega sama aku, bisa di maklum kok. Nama nya juga cinta" lanjut nya yg membuat Nasha mendengus.
Ia membereskan meja makan, memasukan sisa makanan ke dalam kulksa. Kemudian ia kembali ke kamar dengan menghentakan kaki nya hingga menimbulkan suara yg lagi lagi malah membuat Azhar gemas.
Sementara Abi dan Ummi mertua nya mengintip di balik pintu kamar mereka.
"Mereka kenapa ya, Bi?" tanya Ummi Rifa berbisik.
"Engga tahu juga, Ummi. Tapi kayaknya Nasha benar benar kesal sekarang sama Azhar. Apa masalah cemburu lagi ya?" Abi Fadlan juga bertanya tanya.
"Alamat tidur di luar anak kita, Bi" ucap Ummi Rifa dan tepat setelah ia mengatakan hal itu, Nasha turun dari kamar nya dengan membawa bantal dan meletakkan nya di sofa, kemudian ia kembali ke kamar nya. Menutup pintu dengan keras dan mengunci nya "Alamak... Benar kan kata Ummi, anak kita tidur di sofa"
"Abi penasaran, tanya yuk" ajak Abi Fadlan kopo.
"Ayuk..." ajak Ummi Rifa, dan saat mereka hendak keluar, Nasha kembali turun dan kali ini membawa selimut. Mertua nya pun kembali masuk ke dalam kamar dan mengintip Nasha.
Setelah memastikan Nasha masuk ke kamar nya, Abi dan Ummi Azhar itu pun segera menghampiri putra mereka yg masih sibuk di dapur.
"Belum selesai, Azhar?" tanya Ummi Rifa.
"Sudah, Ummi" jawab Azhar sembari tersenyum.
"Azhar, Nasha kamu apain? Kayak nya benar benar kesal sama kamu" ujar Abi Fadlan setengah berbisik, takut di dengar Nasha.
"Tadi aku hukum dia sama Wina" jawab Azhar santai sembari mengelap tangan nya dengan handuk kecil
"Di hukum lagi?" pekik Ummi Rifa.
"Ya habis nya mereka ngobrol di kelas" jawab Azhar lagi.
"Wah, malam ini kamu engga dapat jatah plus tidur di luar" seru Abi Fadlan sembari terkekeh.
"Maksud nya?" tanya Azhar.
Ummi Rifa dan Abi Fadlan menarik Azhar menuju sofa, dimana sudah ada bantal Azhar di sana.
"Maka nya kalau jadi Ustadz jangan terlalu galak, apa lagi kalau murid mu itu istrinya. Karena di rumah, istri mu itu the real queen. The real owner. Habis kau..." ledek Abi Fadlan sembari tertawa. Sementara Azhar hanya bisa menghela nafas panjang.
"Abi, malah di ejek. Kasian kan Azhar nya, lagian kamu juga sih, Azhar. Kenapa engga lembut sedikit gitu sama Nasha. Sama istri sendiri juga..."
"Ya kan tugas ku sebagai Ustadz di sana harus tegas, Ummi. Engga bisa pilih kasih" jawab Azhar sembari merebahkan diri nya di sofa.
"Ya sudah, sabar ya..." ujar Abi Fadlan sembari mengacak rambut Azhar kemudian ia dan Ummi Rifa kembali ke kamar mereka.
"Ya Allah, cobaan..." gumam Azhar dan ia pun tidur meringkuk di sofa, karena tubuh nya yg tinggi tentu saja tidak muat di sofa berukuran sedang itu.
Sementara di kamar nya, Nasha tidak bisa tidur. Biasanya ia selalu tidur dalam pelukan Azhar, biasa nya Azhar selalu mengelus kepala nya dengan sayang dan mengecup wajah nya, biasanya Azhar selalu menggoda nya mau pun memberikan beberapa nasehat bijak untuk nya sebelum tidur. Nasha juga merasa kasihan bagaimana jika badan Azhar sakit jika tidur di sofa yg panjang iya tak seberapa itu.
"Kasian juga" gumam Nasha.
Ia pun turun dari kamar nya, berjalan pelan pelan mendekati sofa. Dan ia melihat Azhar yg sedang memejamkan mata. Nasha langsung menarik bantal Azhar membuat Azhar terkejut dan terbangun.
Tanpa berbicara sedikitpun, Nasha memeluk bantal itu di dada nya dan ia membawa nya ke kamar nya.
Sementara Azhar masih tercengang, namun kemudian ia tersenyum lebar dan segera mengikuti Nasha yg sudah masuk ke dalam kamar nya dan pintu kamar nya di buka lebar.
"Sayang..." Seru Azhar girang dan ia segera melompat ke ranjang, menarik Nasha ke dalam pelukan nya dan memeluknya dengan erat "Engga bisa tidur ya tanpa ku, pasti mau di peluk kan" goda Azhar dan semakin mendekap Nasha di pelukan nya.
"Engga" jawab Nasha ketus namun malah melingkarkan lengah nya di pinggang Azhar. Membuat Azhar terkekeh geli.
"Engga salah lagi" ujar Azhar lagi.