True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 134



Surya berusaha menghubungi salah satu teman nya yg juga seorang Dokter yg saat ini sedang bekerja di Singapore.


Surya ingin memberikan pengobatan yg terbaik untuk Azhar, tentu ia lakukan semua ini demi putri nya. Walaupun semua orang tahu, untuk bisa sembuh dari kanker otak yg sudah stadium lanjut adalah sesuatu yg sulit bahkan bisa di bilang mustahil.


Operasi, terapi dan apapun itu, Azhar bersedia melakukan nya dan meskipun ia tidak bisa sembuh tapi setidak nya ia ingin hidup lebih lama. Ingin melihat anak nya lahir dan tumbuh, ingin menemani Nasha melewati masa kehamilan nya dan menemani nya saat ia melahirkan anak nya.


Tak bisa Azhar pungkiri bahwa apa yg di alami nya sekarang membuat nya begitu takut dan hampir putus asa.


Bahkan saat ini ia sedang menangis di kamar mandi, di bawah shower.


Azhar tidak tahu ia harus bagaimana menyampaikan kabar buruk ini karena cepat atau lambat keluarga nya pasti tahu.


"Papa..." Nasha mengetuk pintu kamar mandi yg di kunci oleh Azhar.


Mendengar suara istri nya membuat Azhar langsung berhenti menangis dan mengusap wajah nya, kemudian mematikan shower dan bergegas memakai handuk dan dengan cepat ia membuka pintu.


"Kok tumben Papa mandi kunci pintu, lagi ngapain hayo..." goda Nasha yg membuat Azhar tertawa dan ia malah membawa Nasha masuk ke dalam.


"Mau ngapain? aku sudah mandi" tukas Nasha /


"Mandi lagi, aku belum selesai. Lagi pula sudah lama kita tidak mandi bersama" ujar Azhar dan ia membawa Nasha ke dalam buthtub.


"Kebetulan aku lagi ngidam, Pa" kata Nasha sambil dan ia duduk bersila di buthtub sementara Azhar menyalakan kran dan menyiram kan sabun yg beraroma mawar.


"Memang nya Mama nya bayi ngidam apa?" tanya Azhar dan ikut bergabung di dalam buthtub bersama Nasha.


"Ngidam mesra mesraan sama Papa" jawab Nasha malu malu dengan wajah yg merona indah, membuat Azhar merasa gemas dan langsung mengecup istri nya itu.


Kedua nya pun berendam selama beberapa menit sambil membicarakan banyak hal, karena Azhar selalu menemukan topik pembicaraan dan yg pasti itu mengarah pada kehidupan masa depan Nasha dan anak nya nanti.


.........


Pak Surya memberi tahu istri nya soal penyakit yg di derita Azhar dan itu juga membuat istri nya sangat terkejut, tanpa mereka sadari Harry tak sengaja mendengar pembicaraan mereka dan itu membuat Harry tak kalah shock nya.


Seketika ia teringat saat pertama kali kakak angkat nya itu mengatakan bahwa ia menyukai Azhar dan memperlihatkan foto pada Azhar pada nya. Harry tahu dengan pasti betapa kakak nya sangat mencintai Azhar. Bahkan demi Azhar, untuk pertama kali nya Nasha melawan kehendak orang tua angkat nya dan rela di usir dari rumah.


"Papa..." seru Harry yg membuat Pak Surya dan istrinya terkejut.


"Har, kamu di sini. Ada apa?" tanya Pak Surya.


"Pa, apa benar kakak ipar mengidap kanker otak?" tanya Harry dan Pak Surya hanya bisa terdiam, membuat Harry seketika merasa terpukul karena ia tak bisa membayangkan bagaimana kakak nya hidup tanpa suami nya?


"Tapi bagaimana mungkin bisa, Pa? Selama ini dia baik baik saja, sehat, dan... Dan Kak Nasha lagi hamil, Pa" Harry berkata lirih di akhir kalimat nya. Ia tampak sangat sedih.


"Har, kamu doakan saja semoga kakak ipar mu baik saja" ujar Mama nya.


"Papa sedang berusaha, Har. Papa akan berusaha memberikan pengobatan yg terbaik untuk Azhar. Kamu doakan saja ya, dan ingat, jangan sampai Nasha dan mertua nya tahu hal ini. Apa lagi Pak Fadlan itu punya penyakit jantung dan dia sangat mencintai putra nya"


Harry mengangguk lemah, raut sedih di wajah nya tak bisa ia sembunyikan.


Harry kembali ke kamar nya dan ia melihat layar ponsel nya menyala. Harry mengambil ponsel nya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Mera dan teman teman tim basket nya.


Harry mengirim pesan pada Mera dan mengajak nya bertemu, Harry ingin memberi tahu Mera apa yg terjadi pada Azhar. Harry berharap orang tua Mera bisa membantu pengobatan Azhar.


.........


Mera hanya bisa memegang dada nya yg berdebar hebat karena mendengar berita buruk dari Harry.


"Tapi bagaimana bisa?" lirih Mera.


"Entahlah, Mer. Entah kenapa takdir selalu mempermainkan kehidupan Kak Nasha, selalu membuat Kak Nasha terombang ambing dalam derita yg tiada henti. Aku fikir kehidupan Kak Nasha sudah sangat sempurna sekarang, semua nya dia miliki. Keluarga, harta, sahabat dan bahkan anak. Tapi jika dia harus kehilangan suami nya, aku yakin semua yg Kak Nasha miliki tak kan lagi berarti bagi nya. Azhar adalah yg terpenting bagi kak Nasha, semangat nya, hidup nya, belahan jiwa nya"


"Kakak ipar menyembunyikan ini dari keluarga nya?" tanya Mera kemudian dan Harry mengangguk.


"Tidak mungkin dia langsung memberi tahu kan berita buruk ini, Om Fadlan punya penyakit jantung sementara Kak Nasha sedang hamil muda"


"Kenapa harus sesulit ini takdir mereka?" gumam Mera sedih "Kakak ipar adalah orang yg sangat baik, tapi kenapa hal seburuk ini harus menimpa pada nya?"


...


Di jam makan malam, Azhar tiba tiba memeluk ibu nya yg sedang membuat teh hangat sementara makanan sudah siap tersaji di meja makan.


Pelukan Azhar yg tiba tiba itu membuat Ummi Rifa memekik kaget.


"Ada apa?" tanya Ummi Rifa heran.


"Kangen dengan masa kecil ku, Ummi. Dulu aku hanya bisa memeluk kaki Ummi saat Ummi sibuk mondar mandir di dapur sambil menyiapkan makanan untuk ku dan Abi" tutur Azhar yg membuat Ummi Rifa tertawa saat ia juga mengingat masa itu.


"Iya, kamu terus merengek minta gendong sementara Abi mu sudah merengek lapar. Kalian berdua hanya merepotkan" tukas Ummi Rifa sambil terkekeh.


Azhar pun melepaskan pelukan nya dan membawakan teh hangat nya ke meja makan.


Ia bahkan menarikan kursi untuk ibu nya dan mempersilahkan nya duduk, setelah itu, Azhar mengambilkan piring dan mengisi nya sendiri nasi dan lauk pauk. Azhar melayani ibunya itu bak ratu, membuat Ummi Rifa hanya terdiam heran namun tentu ia juga merasa senang.


"Kamu sebenarnya kenapa, Azhar? Akhir akhir ini kamu bertingkah aneh, Nak" tanya Ummi Rifa lembut.


"Hanya ingin mengabdi pada Ummi dan Abi" jawab Azhar, ayah mertua nya datang dan Azhar melakukan hal yg sama begitu juga dengan Nasha yg datang paling belakangan.


Meraka sungguh merasa aneh namun juga senang, walaupun sebenarnya terselip perasan resah karena perubahan Azhar itu.