True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 69



Setelah makan malam, Azhar dan Nasha membereskan meja makan dan juga membersihkan dapur. Sementara Azhar menyuruh ibu nya untuk istirahat saja karena pasti sangat lelah setelah seharian menjaga toko begitu juga dengan Abi nya.


Dan setelah semua nya beres, Nasha dan Azhar kembali ke kamar mereka. Nasha mengganti warna cahaya led strip di kamar nya menjadi berwarna warni dan bersamaan dengan itu terdengar suara ketukan di pintu. Nasha pun bergegas membuka pintu kamar nya lebar saat ia mendapati ibu mertua nya disana.


"Eh, Ummi..." seru Nasha dan seketika Ummi Rifa menganga lebar.


"Astagfirullah..." seru Ummi Rifa sambil menutup mulut nya, ia, tampak sangat terkejut membuat Nasha keheranan.


"Kenapa, Ummi?" tanya Nasha.


"Kenapa kamar kalian jadi seperti diskotik?" pekik Ummi Rifa kemudian ia melongos masuk ke dalam, kamar putra nya yg sebelumnya begitu natural dan terlihat cerah dengan lampu bercahaya putih terang kini berubah menjadi cahaya sedikit remang dengan cahaya warna warni.


"Hehe, biar bagus" ucap Nasha sambil garuk garuk tengkuk nya. Azhar yg baru keluar dari kamar mandi tadi sempat mendengar ucapan Ummi nya dan ia hanya tertawa kecil.


"Kalau cahaya nya begini apa kalian bisa membaca dengan jelas? Emang engga pusing?" tanya Ummi Rifa dan Nasha pun langsung mengganti cahaya nya menjadi warm white.


"Bisa di ganti ganti, hehe..." ucap Nasha lagi.


"Ada ada saja kamu ini, Nasha Nasha..." ucap sang ibu mertua.


"Ummi belum istirahat?" tanya Azhar kemudian.


"Oh ya, tadi Ummi ke sini mau ngasih tahu kalau tadi Bu Tanti nganterin makanan dan cemilan. Katanya selametan cucu nya"


"Kami masih kenyang, Ummi" jawab Azhar.


"Iya, siapa tahu kalian mau nyemil. Ya sudah, Ummi turun dulu" ujar Ummi Rifa sembari masih menatap plafon kamar anak nya di mana led strip yg terpasang disana menampilkan cahaya yg sebenernya indah "Kaget tadi Ummi, kirain salah masuk kamar karena kamar nya tadi seperti diskotik" Azhar langsung tertawa geli mendengar gerutuan Ummi nya itu.


"Memang nya Ummi tahu diskotik?" tanya Nasha.


"Tahu lah, dari tv tv. Tadi saja Ummi nonton film, suami nya sering pergi ke diskotik sama wanita lain. Sedangkan istrinya di rumah ngurusin anak nya yg lagi sakit, ugh, pengen Ummi ulek itu laki laki. Eh, ternyata pas pulang dari diskotik kecelakaan. Lumpuh, deh, syukurin tuh. Em judul nya kalau engga salah azab sering ninggalin istri ke diskotik" papar sang Ummi yg membuat Azhar dan Nasha tertawa.


"Malah tertawa, memangnya kalian engga bisa bayangin sedih nya si istri?" tanya Ummi Rifa cemberut.


"Ya sedih, kasihan sekali. Semoga tidak terjadi di dunia nyata" ucap Azhar lembut.


"Aamin, ya sudah. Ummi ke kamar dulu"


.........


"Ma..." Mera menghampiri ibu nya yg duduk merenung di ranjang nya sembari memeluk sebuah bingkai foto "Mama..." seru Mera lagi karena sang ibu tidak menyahut "Mama kenapa? Sakit?" tanya nya sembari duduk di samping sang ibu.


"Engga, Sayang. Cuma kangen sama kakak mu" ucap Anjana. Mera pun mengambil bingkai foto yg di peluk ibu nya, ia membelai foto bayi yg baru saja lahir itu.


"Kak Niranjana cantik ya, Ma. Padahal masih bayi, bagaimana saat dewasa? Apa akan lebih cantik dari Mera?" tanya Mera yg membuat sang ibu terkekeh.


"Tapi Kak Niranjana pasti lebih cantik, Ma. Karena sekarang kan dia sudah di surga, disana engga ada polusi dan engga akan bertambah tua. Dia pasti memiliki wajah dan tubuh yang indah seperti bidadari"


Anjana menahan senyum sedih nya mendengar ucapan Mera, sedih rasa nya setiap kali ada yg mengatakan bahwa putri nya sudah berada di surga. Karena yg ia inginkan adalah putri nya berada di sisi nya, tapi apalah daya? Takdir berkata lain.


.........


Hari yg di tunggu Mera akhirnya sampai juga, sweet seventeen. Acara nya di adakan di rumah nya atas permintaan sang ibu, walaupun begitu acara nya sangat mewah dan megah tak kalah dari acara di gedung gedung hotel.


Yg hadir bukan hanya undangan dari Mera yg semuanya adalah remaja seumuran nya, melainkan juga rekan rekan bisnis Niranjan maupun Anjana.


Mera sudah sangat cantik dengan gaun berwarna pink dan mahkota di kepala nya. Hari ini dia adalah tuan putri yg harus tampil dengan sangat memukau dan menjadi pusat perhatian.


Semua tamu sudah hadir, kecuali tamu yg sangat di harapkan Mera.


"Nunggu siapa, Dek?" tanya Hanin yg melihat adik tersayang nya itu celengokan kesana kemari.


"Harry, Kak" jawab Mera dan terlihat pipi nya merona. Anjana yg sejak tadi mendampingi putri nya itu menyadari bahwa sang putri merona saat menyebutkan nama Harry.


"Hem, jangan bilang putri Mama ini lagi naksir seseorang" ucap Anjana yg membuat Mera semakin tersipu.


"Tapi engga di restui sama kakak nya Harry, Ma" seru Hanin.


"Oh ya? Kenapa? Memang siapa yg berani menolak tuan putri Mera? Biar nanti Mama yg bicara sama kakak nya" seru sang ibu.


Tak lama kemudian Harry muncul dengan penampilan yg sangat mempesona, membuat Mera terpana. Senyum lebar mengembang di bibir nya saat Harry berjalan mendekat ke arah nya, namun seketika senyum itu musnah saat sang kakak dari Harry muncul dari belakang Harry dan kini berjalan berdampingan. Harry berada di tengah di antara Azhar dan Nasha.


"Perasaan yg aku undang cuma Harry" gumam Mera kesal.


"Hai..." sapa Harry "Happy birthday" ucap Harry Sementara Nasha langsung menyodorkan hadiah pada Mera, dengan enggan Mera menerima nya kemudian ia menyunggingkan senyum pada Harry.


"Terima kasih, Har" ucap Mera sambil mesem mesem.


"Aku yg ngasih hadiah kenapa Harry yg dapat ucapan terima kasih?" ketus Nasha yg membuat Mera mendelik.


"Sayang..." tegur Azhar kemudian melingkarkan tangan nya di pinggang Nasha, berharap Nasha tidak bertingkah. Sementara Anjana yg melihat itu hanya menatap bingung Nasha karena seperti nya Nasha dan Mera adalah musuh bebuyutan, Hanin pun berbisik ke Mama nya bahwa dialah Kakak Harry yang sangat tidak menyukai Mera. Ajana mengangguk mengerti.


"Selamat ulang tahun, Mera. Semoga Allah selalu merahmati mu dan memberi mu berkah yg berlimpah. Semoga dengan bertambah nya usia mu, bertambah pula rezeki mu dan kesehatan mu, kedewasaan mu dan cinta mu. Baik dalam di cintai maupun mencintai" ucap Azhar tulus dan Mera pun tersenyum.


"Terima kasih banyak, Kak" ucap Mera tersenyum tulus, kini Nasha yg mendelik.


"Terima kasih, Nak. Doa mu sangat menyentuh" ucap Anjana yg di balas senyuman oleh Azhar.


Tbc....