
Nasha merasakan ada sesuatu yg berbeda dari suami nya, Nasha tahu suami nya memang sangat memanjakan nya tapi selema beberapa hari ini Azhar lebih memanjakan nya dan bahkan sudah jarang pergi ke toko.
"Sayang, kamu engga niat mau memadu aku kan?"
"Astagfirullah..." pekik Azhar karena ia tak menyangka Nasha akan berkata demikian.
"Ya habis nya kamu akhir akhir ini beda, jauuuuhh lebih perhatian, lebih sering di rumah juga"
"Kalau aku tidak perhatian dan jarang di rumah, baru kamu patut curiga sama aku, Mama" tukas Azhar yg membuat Nasha cengengesan.
Saat ini kedua nya sedang berada di rumah, dan Azhar juga melarang ibu nya pergi ke toko begitu juga dengan ayah nya. Azhar ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama mereka.
Ummi Rifa pun bergabung dengan mereka yg saat ini sedang di ruang keluarga, Ummi Rifa membuat pisang keju untuk cemilan mereka.
"Sudah kayak pejabat sukses saja kita ini, seharian cuma bersantai" kata Ummi Rifa.
Sementara Abi Fadlan memperhatikan Azhar lekat lekat, seolah ia bisa menangkap ada yg di sembunyikan oleh putra nya itu.
"Azhar, sewaktu kamu di rumah sakit karena pingsan itu, Dokter bilang apa?" tanya Abi Fadlan.
"Hanya kelelahan, Bi" jawab Azhar dengan senyum yg bahkan tak sampai ke mata nya.
"Tapi kata pegawai toko, hidung Mu berdarah" tukas Ummi Rifa yg tentu masih mengkhawatirkan Azhar.
"Iya, Papa... Papa baik baik saja, kan?" tanya Nasha lagi dan Azhar memaksakan bibir nya tersenyum lebar. Ia mengacak rambut Nasha dengan gemas.
"Papa baik baik saja, Mama. Jangan khawatir, ya? Mama jangan banyak fikiran, kasian bayi kita nanti ikutan stres" tukas Azhar menenangkan.
"Iya sih, kata nya kalau lagi jamil tidak boleh stres" gumam Nasha.
"Oh ya, Bi. Kalau misal nya nanti penjualan toko kita meningkat lagi dan kita perlu memesan barang lebih banyak, Abi cari karyawan lagi ya. Terus sebaik nya kita juga nanti cari kasir, jadi Abi tidak perlu ke toko setiap hari. Abi hanya perlu visit dalam beberapa waktu" ujar Azhar kemudian.
"Ya itu terserah kamu saja, Nak. Kan toko sudah di ambil alih sama kamu" jawab Abi Fadlan yg kembali memukul perasaan Azhar.
"Entah sampai kapan aku bisa mengurus toko dan keluarga kita, Bi"
Mata Azhar bahkan sudah panas dan ia segera mengerjapkan mata nya berkali kali. Ia tidak ingin ada yg tahu bahwa diri nya sedang sekarat saat ini, apa lagi di tengah kebahagiaan mereka dengan kehamilan Nasha.
Sementara itu, Ummi Rifa juga bisa merasakan ada yg berbeda dengan putra nya sejak ia masuk rumah sakit. Akhir kahir ini perasaan nya juga sering gelisah dan ia seolah merasa sedih walaupun ia tidak tahu kenapa.
"Kehamilan Nasha makin terlihat ya..." ujar Ummi Rifa kemudian.
'iya, nanti acara 7 bulanan nya kita undang semua anggota keluarga pesantren ya" ujar Abi Fadlan' Dan ya, kita undang Rafa juga. Karena bagaimana pun juga kalian ketemu berkat Rafa"
Azhar tertawa mendengar kata kata Abi nya itu, seketika ia teringat pertemuan pertama nya dengan Nasha. Gadis kota yg aneh, polos, apa ada nya tapi juga sedikit nakal dan agresif.
"Iya, tidak masalah" jawab Nasha.
...
Azhar pergi ke rumah sakit secara diam diam untuk kembali melakukan pemeriksaan dan mencari solusi untuk penyakit nya.
Dan disana ia malah bertemu dengan Surya, Azhar berusaha pura pura tak melihat nya namun itu gagal.
"Azhar..." teriak Surya sambil berlari mengejar Azhar, mau tak mau Azhar pun harus berhenti.
"Kenapa kamu ada di sini? Nasha sakit?" tanya Surya dan Azhar menggeleng.
"Pak Azhar, kau sudah datang?" seru Dokter Azhar dan Dokter itu terkejut melihat Surya.
"Dr. Surya, ada apa kau kesini? Apa kau pindah bekerja ke rumah sakit ini" tanya Dokter yg ternyata teman nya Surya itu.
"Aku ada keperluan di sini" Jawab Surya "Azhar pasien mu, Dr. Boyce?" tanya Surya.
"Om..." lirih Azhar sebelum dokter nya menjawab pertanyaan Surya.
"Ada apa Azhar? kamu sakit?" dan Azhar mengangguk lemah, membuat Surya seketika merasa cemas.
"Sakit apa menantu ku, Dr Boyce?" tanya Surya kemduan.
"Jadi dia menantu mu?" Dokter Boyce tampak terkejut.
"Ayo kita bicara ke ruangan ku"
..
Surya hanya bisa menganga setelah mendengar apa yg di katakan Dr. Boyce tentang kondisi Azhar. Yg pertama kali terlintas dalam benak Surya adalah putri nya yg sangat mencintai Azhar dan tak bisa hidup tanpa nya.
"Tidak, dr. Boyce. Kita harus menemukan cara untuk menyembuhkan Azhar, putri ku sedang hamil anak nya Azhar, putri ku tidak bisa hidup tanpa suami nya" tukas Surya.
"Aku sedang berusaha, Dr Surya. Tapi kita tahu, Kanker otak stadium akhir seperti ini sangat sulit bahkan hampir mustahil di sembuhkan. Tapi walaupun begitu, kita tidak boleh menyerah dan harus melakukan yg terbaik"
"Om..." Azhar kembali berkata lirih "Aku ingin sembuh" Azhar berkata dengan suara tercekat dan mata nya kembali berkaca kaca.
"Aku tidak mau meninggalkan Nasha dan bayi kami yg bahkan belum lahir" dan Azhar pada akhir nya tetap tak mampu membendung air mata nya. Ia menangis sedih, ia sungguh tak ingin meninggalkan istri dan calon anak mereka.
"Azhar, kami akan melakukan yg terbaik untuk mu membuat mu bertahan, Nak" kata Surya dengan begitu tulus.