
Nasha memutar tubuh nya di depan cermin, ia mengagumi kecantikan nya sendiri dan benar kata Azhar. Ia terlihat sangat anggun dengan menutup aurat.
"Sayang, sudah belum?" tanya Azhar yg muncul dari balik pintu.
"Sudah" jawab Nasha dan ia mengambil tas yg sudah berisi buku buku dan kitab pelajaran nya yg sudah di belikan oleh Azhar.
Nasha dan Azhar bergandengan tangan menuruni tangga, ini hari minggu dan mereka ke pesantren lebih pagi. Sementara hari jumat itu libur.
"Wih, udah kayak pengantin baru aja kalian gandengan tangan terus" goda Abi Fadlan yg saat ini sedang menyesap kopi.
"Abi, ingat takaran kopi nya ya. Engga boleh lebih dari tiga sendok" ujar Azhar yg sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Abi nya.
"He'em" jawab Abi Fadlan sembari menyesap kopi nya lagi.
Azhar mengintip gelas kopi yg sudah sisa separuh "Abi habisin setengah gelas?" tanya Azhar.
"Oh bukan, Ummi mu yg minum" ucap Abi Fadlan kemudian ia bergegas masuk ke kamar nya karena ia juga harus segera membuka toko nya. Dan Azhar akan mengantar nya dulu kemudian baru lah Azhar ke pesantren bersama Nasha.
Saat Abi Fadlan masuk, Ummi Rifa keluar dan ia juga sudah siap untuk pergi ke toko roti nya.
Ummi Rifa hendak meminum kopi yg sudah ia buat tadi pagi "Loh, gelas nya bocor? Kenapa tinggal setengah?" tanya nya sembari memperhatikan gelas nya baik baik.
"Kata Abi, Ummi yg minum" seru Nasha dengan polos nya sementara Azhar sudah mengerti apa yg terjadi.
Azhar dan Ummi Rifa melirik Abi Fadlan yg baru saja keluar dari kamarnya, Abi Fadlan yg menyadari tatapan istri dan anak nya malah menyunggingkan senyum tanpa dosa nya.
"Udah yuk, pergi yuk... Waktu nya beraktifitas... " seru nya dan ia segera bergegas keluar duluan, membuat Azhar dan Ummi Rifa menghela nafas lesu.
"Ummi bikin sedikit saja kopi nya lain kali, terus habisin. Biar Abi engga minta terus"
"Ya nanggung kalau bikin sedikit, Azhar. Terus masak iya satu gelas mau langsung Ummi seruput habis? Tadi Ummi cuma tinggal sebentar ke kamar"
"Abi engga boleh minum kopi?" tanya Nasha.
"Engga boleh banyak banyak, Sayang. Engga boleh merokok juga. Abi punya penyakit jantung"
"Ya juga ya..." gumam Nasha.
.........
Setelah mengantar Abi nya kr toko, Azhar dan Nasha langsung menuju ke pesantren. Azhar memerintahkan Nasha agar langsung ke kelas nya.
Nasha merasa sedikit canggung disana, karena semua teman kelas nya ia anggap masih kecil.
"Duduk sini, Kak" seru salah seorang gadis cantik sembari tersenyum pada Nasha. Nasha pun duduk di samping gadis itu dan ia langsung mengeluarkan kitab yg akan di pelajari hari ini.
"Oh ya, sebelum nya kakak mondok dimana?" tanya gadis itu lagi dan Nasha menggeleng "Sekolah madrasah dimana?" tanya nya lagi dan Nasha kembali menggeleng "Oh begitu, oh ya nama ku Wina, Kak"
"Nasha" jawab Nasha singkat.
"Kenapa?" tanya Nasha masih menaikan sebelah alis nya.
"Tanya saja, oh ya, Ustadz Azhar sudah punya calon istri engga?" tanya nya lagi. Hem, Nasha mencium aroma taksir menaksir di sini.
"Eh, Win. Masih santri baru sudah tanya tanya status Ustadz, naksir kau?" seru murid yg lain dan gadis yg bernama Wina malah cengengesan.
"Buang saja perasaan naksir mu itu jauh jauh, Ustadz Azhar sudah menikah. Malah pernikahan nya di adakan di pesantren" seru santri yg lain lagi dan seketika Wina cemberut. Sementara Nasha tersenyum puas, baru saja ia membuka mulut hendak mengakui diri sebagai istri Azhar, seorang Ustadzah datang dan langsung membuat semua murid terdiam dan kini semua nya duduk rapi. Nasha pun ikut ikutan duduk rapi. Saat di lihat nya Ustadzah itu masih sangat muda bahkan mungkin seumuran dengan Nasha, Nasha menjadi minder.
Bahkan saat pelajaran di mulai, Nasha hanya menunduk diam dan tak bersemangat seperti kemarin.
"Nasha..." panggil Ustadzah itu yg langsung membuat Nasha mendongak.
"Ya?" jawab Nasha.
"Kamu sakit? Kenapa menunduk terus?" tanya nya.
"Tidak, saya baik baik saja" jawab Nasha sembari tersenyum tipis.
Sang Ustadzah itu memegang mata pelajaran fiqih, ia menerangkan dengan sangat baik dan hati hati. Nasha pun dengan seksama mendengarkan nya.
Walaupun awalnya ia merasa minder, namun setelah mengetahui betapa luas ilmu yg di miliki Ustadzah nya itu dan betapa pandai ia menyampaikan ilmu nya, rasa minder Nasha hilang. Ia merasa memang sangat pantas dia menjadi seorang Ustadzah meskipun masih sangat muda karena ilmu nya luas. Dan tidak masalah ia masih menjadi santri meskipun usia nya sudah dewasa karena ilmu nya masih sedikit.
Setelah pelajaran selesai, santri di persilahkan untuk beristirahat.
Sementara Nasha menghampiri Ustadzah itu yg sedang membereskan barang barang nya di meja guru.
"Ada apa, Nasha?" tanya Ustadzah itu dengan nada yg sopan dan ramah.
"Mau saya bantu?" tanya Nasha menawarkan diri. Sang Ustadzah terkekeh dan menggeleng.
"Tidak usah, terima kasih. Kamu juga bisa beristirahat"
Nasha mengangguk, sang Ustadzah pun keluar dari kelas dan Nasha juga ikut keluar.
Ia bergabung dengan teman teman nya di depan kelas, ada yg sedang membaca kitab, ada yg sedang menghafal, ada juga yg sedang memakan cemilan. Nasha tidak tahu harus apa.
Ia pun kembali ke kelas, mengambil kertas dan belajar menulis tulisan arab lagi. Wina kembali datang dan menghampiri Nasha.
"Kak Nasha lagi apa?" tanya nya.
"Belajar menulis" jawab nya.
"Huh? Kak Nasha baru belajar menulis?" tanya Wina bingung dan Nasha tertawa kecil sembari mengangguk.
"Hem, semangat Kak Nasha.... Pasti bisa" seru Wina yg membuat Nasha kembali tertawa.