True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 99



Harry bersiap siap untuk pergi ke sekolah, karena ia sudah kelas tiga maka ia memiliki banyak sekali ulangan. Itu membuat nya sangat sibuk namun Harry tetap menyempatkan diri menjenguk kakak nya di penjara walaupun hanya sebentar, karena Harry tidak bisa tenang jika tidak tahu dan tidak melihat keadaan kakak nya secara langsung.


Harry melihat kedua orang tua nya yg sarapan di meja makan.


"Kalian bilang akan mengunjungi Kak Nasha, kapan?" tanya Harry dingin.


"Nanti Har, Mama lagi sibuk. Butik rame banget dan ada banyak barang datang" jawab Raya sembari mengunyah makanan nya.


"Lalu Papa?" tanya Harry sembari menatap ayah nya.


"Papa ada jadwal operasi hari ini, kamu kan tahu sendiri pekerjaan Dokter itu seperti apa. Tidak bisa di tunda" jawab Surya yg membuat Harry tersenyum masam.


"Memang nya butuh waktu berapa lama sih mengunjungi anak kalian sendiri?" tanya Harry sinis "Oh ya, Kak Nasha kan bukan anak kalian, dia hanya anak angkat kalian. Kalau kalian tidak bisa di peduli pada nya, seharusnya kalian juga tidak berhak mengatur hidup nya. Asal kalian tahu saja, penyebab Ramos bertindak gila seperti itu karena kalian. Kalian yg terus saja menyanjung Ramos membuat dia lupa diri dan merasa bisa merebut Kak Nasha dari suaminya"


"Cukup, Harry..." seru Raya setengah berteriak "Kamu memang selalu menyalahkan kami jika terjadi sesuatu pada kakak mu..." seru nya antara marah dan sedih.


"Karena kalian memang patut di salahkan" Harry balas berteriak kesal bahkan itu membuat sang ayah langsung berdiri.


"Harry, tidak perlu berteriak pada Mama mu..." geram nya.


"Terus saja bela dia..." desis Harry dan ia pun melangkah keluar rumah dengan kesal, membuat Raya dan Surya hanya bisa menghela nafas panjang. Baru saja Surya akan duduk di kursi nya kembali, tiba tiba Harry kembali masuk dan melemparkan sebuah buku dairy milik mendiang kakaknya, Harry melempar nya ke meja makan membuat kedua orang tua nya itu terkejut dan tercengang.


"Baca itu dan sadarlah akan kesalahan kalian..." desis Harry "Kalian fikir anak anak kalian bahagia dengan hanya terus di berikan uang, huh? Kalau begitu, teruslah berikan aku uang sampai aku mati dan tidak perlu memperdulikan ku ataupun Kak Nasha..." desis Harry yg membuat kedua orang tua nya tak bisa berkata kata dan hanya bisa menatap Harry dengan nanar.


Harry pun langsung bergegas pergi, sementara Raya mengambil buku itu dan tentu ia tahu siapa pemilik buku dairy itu. Seketika air mata Raya menetes, teringat kembali dengan mendiang putri nya.


..........


Mahardika dan tim nya menyelidiki semua suster maupun Dokter yg menamgani Ramos saat itu, karena mereka pasti tahu bagaimana keadaan Nasha namun semua nya memberikan jawaban yang sama.


Namun sebagai penyidik yg sudah sangat berpengalaman, Mahardika tentu tidak mempercayai mereka begitu saja. Ia juga mencari tahu latar belakang Nasha dari semua orang, termasuk teman teman kampus Nasha. Dan tentu nya juga Elin.


Hal itu membuat Mahardika semakin penasaran apa yg sebenarnya terjadi, dan jika ia berfikir seperti orang biasa dan bukannya penyidik, Mahardika merasa Nasha memang tidak bersalah. Namun dalam sebuah kasus, perasaan itu tidak lah berguna. Yg berguna adalah saksi dan bukti.


Setelah melalui beberapa proses penyidikan, akhirnya kasus Nasha di bawa ke pengadilan.


Dari pihak Ruben ada jaksa penuntut yang bernama Bramasta, ia sudah mengumpulkan beberapa bukti dan saksi yg menyatakan Nasha bersalah.


..........


Persidangan pertama...


Semua orang datang ke persidangan Nasha, termasuk kedua orang tua angkat nya dan Nasha tidak tahu apakah ia merasa senang atau tidak melihat mereka. Karena jika bukan karena mereka yg memaksa untuk menjodohka Nasha dengan Ramos, maka semua ini pasti tidak akan terjadi.


Azhar dan keluarga nya menunggu persidangan di buka dengan gugup, mereka sangat berharap Nasha bisa di bebaskan dan persidangan tidak berlarut larut.


Persidangan di buka dengan hakim yg memanggil Nasha untuk duduk di meja terdakwa. Kemudian di lanjutkan dengan jaksa penuntut yg menyatakan bahwa Nasha memang bersalah berdasarkan bukti dan saksi.


Suster Marina dan suster yg lain nya di panggil untuk memberikan kesaksian nya, dan kesaksian mereka masih sama seperti kesaksian yg mereka berikan kepada Mahardika.


Dan saat giliran pengacara Nasha yg di berikan kesempatan untuk berbicara, ia menepis semua tuduhan itu termasuk keterangan dari sang saksi.


"Yang Mulia, sebelum saya memberikan pembelaan untuk klien saya. Saya akan memberitahukan siapa klien saya, yaitu seorang putri angkat dari Dr. Surya, manager City Hospital. Dimana rumah sakit itu adalah milik sahabat Dr. Surya, yaitu Dr. Ruben yg juga ayah dari korban. Sebelum nya klien saya dan korban di jodohkan, namun klien saya tidak mau di Karena kan dia mencintai pria lain. Dan di malam pertunangan nya, klien saya kabur karena dia tidak bisa menerima pertunangan itu. Kemudian Pria yg dicintai nya saat itu mengantar klien saya kembali pulang ke keluarga angkat nya, tapi mereka menolak klien saya yg di anggap sudah mempemalukan keluarga mereka. klien saya di usir, dan pria itu pun akhir nya menikahi klien saya.


Sebelum menikah, selaku anak dari manager rumah sakit, klien saya sering keluar masuk rumah sakit entah untuk menemui ayah nya atau pun ada keperluan yg lain. Namun, semenjak ia di usir dari rumah nya dan menikah, klien saya tidak pernah lagi terlihat di sekitar rumah sakit maupun di dalam rumah sakit bahkan sampai insiden itu terjadi, saya sudah memeriksa semua cctv di rumah sakit dan di sekitar rumah sakit.


Klien saya dan suami nya menjalani pernikahan mereka dengan tenang dan bahagia tanpa gangguan dari siapa pun. Lalu tiba tiba, ibu angkat nya datang kerumah suami klien saya dan menerima klien saya dan suami nya. Namun bersamaan dengan itu, mantan calon tunangan nya yakni korban yg bernama Ramos, tiba tiba kembali ke dalam kehidupan klien saya, ia mengirim pesan yg berisi pujian pujian yg membuat klien saya merasa tidak nyaman, kemudian suami nya menegur Ramos karena istri nya mengaku tidak nyaman dengan pesan itu. Lalu setelah beberapa hari kemudian, Ramos kembali menemui klien saya di kampus nya, Ramos menawarkan diri untuk mengantar klien saya pulang, namun klien saya menolak dan kemudian Ramos memaksa nya, dia bahkan mencengkram lengan klien saya sampai memerah seusai dengan keterangan dari suami nya dan dari klien saya langsung.


Sejak saat itu, klien saya merasa takut pada Ramos. Kemudian suami klien saya mendatangi Ramos dan kembali memperingatkan nya untuk menjauhi istri nya. Dan keesokan hari nya, klien saya di culik, di sekap, dan di lecehkan. Ia di tampar dan itu pun sudah di visum. klien saya bukanlah wanita gila yg akan menusuk orang tanpa alasan yg jelas, Yang Mulia. Dia menusuk korban itu untuk membela diri..."