True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 100



Persidangan masih berlanjut, dan giliran Azhar yg memberikan kesaksian nya.


"Saat itu, Nasha di rumah sendirian. Saat aku pulang bersama ayah ku, aku melihat pintu rumah yg terbuka. Aku mencari Nasha ke dapur, dapur sedikit berantakan karena dia memang ingin memasak. Sementara ponsel Nasha ada di meja makan, setelah mencari nya ke kamar dan dia tidak ada. Saat itulah aku merasa ada yg tak beres, karena Nasha tidak pernah meninggalkan rumah seperti itu dan tidak pernah pergi kemana pun tanpa izin ku"


Azhar menjawab dengan lugas sembari menatap Nasha, dan Nasha pun menatap nya dengan senyum samar.


"Apa saat itu kau mencurigai seseorang?" tanya Pak Sriwijaya.


"Tidak terbersit hal seperti itu, aku dan kedua orang tua ku terlalu kalang kabut mencari Nasha" jawab Azhar.


Setelah di rasa cukup, Azhar di persilahkan kembali ke kursi nya.


"Yang Mulia, apa yg di katakan Azhar sama seperti apa yg di katakan klien saya. Klien saya di culik, dan kenapa tidak ada bukti, itu pasti karena pelaku telah memusnahkan bukti nya. Apa lagi klien saya di sekap di rumah sakit, di tempat kekuasaan Ramos. Menghapus jejak cctv bukanlah hal yg sulit" seru sang pak pengacara.


"Keberatan, Yang Mulia..." seru Pak Bramasta dan hakim mempersilahkan Pak Bramasta berbicara.


"Yang Mulia, ada saksi dan bukti yg memberatkan tersangka. Gunting itu ada di tangan nya dengan berlumuran darah dari suadara Ramos, dan ada Suster Marina dan juga Suster yg lain yg bersaksi dengan sebenarnya benar nya bahwa Nasha memang melukai Ramos" seru nya.


"Yang Mulia..." pak Sriwijaya kembali angkat bicara "Jika di perkankan, saya ingin memanggil suster Marina sekali lagi ke meja saksi"


"Di izinkan..." jawab hakim yg membuat Bramasta tampak mulai gelisah. Ruben yg ada di sana juga mulai gelisah.


Suster Marina pun di panggil ke meja saksi, dan masih seperti sebelumnya. Ia tampak terlihat tenang dan bahkan tanpa ekspresi.


"Suster Marina..." seru Pak Sriwijaya "Apakah anda yg memanggil polisi saat itu?"


"Iya" jawab nya.


"Apakah anda yg menangani saudara Ramos?"


"Iya"


"Bagaiamana keadaan nya saat itu?"


"Dia kehilangan banyak darah"


"Lalu bagaimana keadaan Nasha?"


Suster Marina terdiam, ia melirik Nasha yg saat ini menatap nya.


"Dia... Dia hanya diam berdiri dengan gunting di tangan nya" jawab suster Marina yg membuat Nasha menatap nya marah, karena itu adalah kebohongan yg sangat nyata.


"Bagaiamana anda bisa sampai ke ruangan itu? Bukankah itu ruangan tidak terpakai?"


"Aku hendak meletakkan beberapa alat medis ke gudang..."


"Sendirian?" tanya pak Sriwijaya yg membuat Suster Marina tampak bingung.


"Maaf?" tanya nya.


"Anda pergi kesana sendirian?" tanya Pak Sriwijaya lebih jelas.


"Apakah ada suster yg sering berlalu lalang di disana?"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Karena di sana hanya ada gudang dan beberapa ruangan tak terpakai"


"Baiklah, jadi anda pergi kesana sendirian untuk meletakkan alat alat medis ke gudang, di sana juga tidak ada suster yg berlalu lalang. Lalu anda melihat Dr. Ramos yg terkapar di lantai dengan luka di leher nya, sementara tersangka berdiri dengan memegang sebuah gunting bedah. Lalu, anda memanggil polisi, dan juga dari daftar panggilan anda, anda juga memanggil Dr. Ruben. Lalu setelah itu, apakah anda pergi memanggil suster untuk menahan Nasha agar tidak kabur?"


Pertanyaan itu membuat Suster Marina mulai mengeluarkan ekspresi nya, ia terlihat bingung dan menoleh ke jaksa penuntut. Ia juga mencuri pandang pada Dr. Ruben yg ada di meja pengunjung.


"I... Iya..." jawab Suster Marina.


"Apakah anda melihat langsung saat tersangka menusuk Dr. Ramos?"


"Tidak"


"Terima kasih, Suster Marina. Silahkan kembali ke tempat mu..." ujar Pak Sriwijaya dan suster Marina pun kembali ke tempat nya.


"Yang Mulai..." Pak Sriwijaya mendongak tegas dan menatap sang hakim "Keterangan Suster Marina tidak sinkron dengan apa yg seharusnya terjadi. Yg pertama, tinggi tubuh Nasha hanya sampai di dada Dr. Ramos. Jadi tidak mungkin Nasha bisa dengan mudah menusuk leher Dr. Ramos tanpa perlawanan dari Dr. Ramos.


Kedua, jika memang Nasha ingin melukai Dr. Ramos maka dia tidak akan berdiri saat Dr. Ramos sudah terkapar. Dia pasti akan berjongkok, berlutut atau sebagai nya tapi tidak akan berdiri kecuali dia memang berniat kabur. Karena seperti yg saya bilang, tinggi Nasha tidak memungkin ia melakukan itu kecuali jika sebelumnya kedua nya bergelut dan saat itulah Nasha memiliki kesempatan untuk menusuk leher Dr. Ramos. Ke empat, sudah pasti terjadi pergelutan antara kedua nya. karena jika tidak, mana mungkin Nasha bisa mengambil gunting bedah yg ada di saku jas Dr. Ramos. Itu artinya, benar benar terjadi pergelutan dan pertanyaan saya, kenapa pergelutan sampai terjadi?


Dan juga, jika saat itu Suster Marina sempat pergi untuk memanggil suster yg lain, kenapa saat itu Nasha tidak mencoba melarikan diri padahal dia memiliki kesempatan yg cukup banyak? Dan juga, Nasha mengaku ia di paksa berganti pakaian, karena pakaian yg sebelumnya robek akibat ulah Dr. Ramos, pakaian yg di pakai Nasha saat tertangkap bukanlah pakaian Nasha dan itu terbukti dari merk dan jenis pakaian nya, yaitu sebuah rok kain berwarna hitam dan sebuah kemeja berwarna putih dengan hijab berwarna putih pula. Sementara sebelumnya Nasha memakai daster rumahan dan ia tidak pernah memakai rok kain yg biasa nya di pakai untuk bekerja kantoran, suster mau pun guru. Karena Nasha masih mahasiswi dan ia tidak pernah memiliki pakaian seperti itu. Lalu bagaimana Nasha berpakaian seperti itu? Siapa yang mengganti nya? Kenapa memaksa Nasha mengganti nya?"


Pertanyaan pak Sriwijaya membuat jaksa penuntut tak bisa berkata kata lagi untuk tetap memojokan Nasha. Dan pertanyaan itu cukup kuat untuk melemahkan saksi dan bukti yg sebelumnya memberatkan Nasha apa lagi pernyataan Suster Marina yg memang tidak sinkron. Asumsi demi asumsi membuat kebenaran masih terlihat abu abu.


Hal itu menyebabkan sidang di tunda sampai ada bukti dan saksi yg membuka tabir kebenaran sebenar benar nya.


.........


"Tenang lah..." Azhar memeluk Nasha yg saat ini kembali di borgol karena akan di kembalikan ke sel.


"Ini engga selesai, Azhar. Sampai kapan?" tanya Nasha lirih dengan berderai air mata. Azhar pun menghapus air mata istri nya itu dengan lembut.


"Akan segera selesai, Sayang. Tunggu sebentar lagi ya..." hanya kata itu lagi dan itu lagi yg mampu Azhar ucapkan dan Nasha lagi dan lagi mengangguk percaya.


Sementara Ummi Rifa saat ini sedang di mobil, menunggu Azhar yg masih menemui Nasha. Ummi Rifa melihat Suster Marina yg keluar dari gedung persidangan. Ummi Rifa tampak sangat marah, ia pun keluar dari mobil dan menghampiri Suster Marina yg saat ini sedang bersama Bramasta dan Dr. Ruben.


"Hey, anak muda..." teriak Ummi Rifa "Kau berbohong, apa kau tahu siapa yg kau bela? Iblis, iblis yg mau menodai kesucian seorang wanita. Apa kau wanita? Bagaimana jika kamu yg ada di posisi Nasha, huh?" teriak Ummi Rifa Sementara Suster Marina hanya terdiam membisu "Kamu mau membohongi kami semua? Mau menutupi kebenaran? Yg maha benar akan menguak kebenaran itu, lihat saja nanti. Jika saat itu tiba, kau hanya akan bisa menyesal..." teriak nya marah dan bersamaan dengan itu Bu Anjana datang.


Ia segera membawa pergi Ummi Rifa ke dalam mobil dan Azhar pun juga datang, Azhar sempat melihat apa yg di lakukan Ummi nya tadi.


"Ummi, tenanglah..." lirih Azhar memeluk ibu nya itu "Jangan seperti ini..."


"Tapi dia berbohong, Azhar. Dia bersumpah akan memberikan kesaksian yg benar dan jujur, tapi dia bohong..."


"Kita akan ungkap kebohongan nya, Bu..." seru Bu Anjana menguatkan Ummi Rifa. Bu Anjana melihat Umi Rifa sangat mencintai Nasha, membuat Bu Anjana merasa senang karena jika memang Nasha benar putri nya, maka putri nya itu adalah menantu paling beruntung di dunia.