
Elin mendatangi rumah Azhar dan ia di sambut oleh Ummi Rifa.
"Elin...." seru Ummi Rifa merasa terhibur dengan kehadiran Elin, Elin yg melihat ibu mertua Nasha ini tampak bersedih langsung memeluk nya "Nasha, Lin..." lirih nya sedih.
"Nasha engga salah, Ummi" jawab Elin sembari melerai pelukan nya "Aku ingin sekali menjenguk Nasha" ucap Elin lagi dan ia tampak merasa bersalah atas apa yg pernah ia lakukan pada Nasha.
"Kata Azhar besok saja, tadi Azhar dan pengacara sudah kesana" jawab Ummi Rifa dan Elin pun mengangguk mengerti.
"Ummi tidak buka toko?" tanya Elin lagi dan Ummi Rifa menggeleng pelan "Sebaiknya Ummi buka toko ya, setidaknya biar Ummi ada kegiatan dan tidak terlalu memikirkan Nasha"
"Tapi kasihan dia, Lin. Dia ada di tahanan dan di jadikan tersangka" ujar Ummi Rifa sedih.
"Nasha itu wanita yg kuat, Ummi. Dan sebentar lagi dia pasti bisa keluar. Nasha juga akan sedih kalau Ummi terpuruk begini" sambung Elin lagi yg membuat Ummi Rifa justru semakin sedih.
Dan Elin mengatakan yg sebenarnya bahwa Nasha akan sangat sedih jika mertua tercinta nya terpuruk, karena Elin sangat mengenal Nasha yg berhati sangat baik.
Sementara Harry juga segera mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi pada kakaknya, Harry menemui Azhar yg saat ini sedang berada di kantor pengacara Nasha.
"Azhar... Kak Nasha kenapa?" tanya Harry dengan panik.
"Tenang dulu, Har..." seru Azhar namun Harry tampak tidak bisa tenang.
"Ini pasti salah pria psikopat itu kan..." seru Harry marah.
"Pria psikopat?" tanya Pak Sriwijaya karena ia melihat Harry yg tampak sangat marah. Azhar sudah memberi tahu semua tentang Nasha pada Pak Sriwijaya untuk memudahkan nya dalam membela Nasha, juga termasuk bahwa Raya yg adalah ibu angkat nys dulu menjodohkan Nasha dengan Ramos namun Nasha kabur saat malam pertunangan.
"Kenapa kamu bisa menyebut nya psikopat?" tanya Pak Sriwijaya.
"Karena dia memang psikopat berdarah dingin, Kak Nasha takut pada nya tapi Mama sangat menyukai nya dan ingin Kak Nasha menikah dengan nya" seru Harry.
"Azhar sudah menceritakan bagian itu..." ujar nya Pak Sriwijaya "Ada informasi lain? Setelah sekian lama dia membiarkan Nasha dan Azhar hidup dengan tenang, kenapa dia baru muncul sekarang?"
"Itu karena Mama..." seru Harry sedih "Mama dan Om Ruben masih sering membicarakan hal hal yg seolah mereka akan jadi besan. Mama juga sering bertemu dengan pria psikopat itu dan terus memuji nya, bahkan mengatakan ia lebih suka Kak Nasha jika menikah dengan nya" tukas Harry.
Azhar yg mendengar itu sedikit terkejut namun kemudian ia tersenyum masam, ternyata keluarga angkat Nasha memang tidak akan pernah bisa menerima nya sampai kapan pun.
"Apa menurut mu itu yg memicu Ramos kembali dalam kehidupan Nasha?" tanya Azhar kemudian dan Harry mengangguk yakin.
"Dia tipe pria yg aneh, Azhar. Pertama kali aku dan Kak Nasha bertemu dengan nya, dia sangat dingin dan tanpa ekspresi. Tapi kemudian tiba tiba ia seperti tergila gila pada Kak Nasha, dia juga punya ego yg sangat tinggi"
"Tapi sakit hati yg mana? Apakah karena sudah merebut Nasha dari nya? Jika ya, kenapa baru sekarang?" tanya Pak pengacara dan Azhar pun baru terfikirkan akan hal itu.
"Mungkin dia masih sangat mencintai Nasha, sehingga saat Tante Raya masih menginginkan nya menjadi suami Nasha, dia ingin merebut Nasha" Azhar berasumsi sendiri namun itu tidak di setujui Harry.
"Aku yakin dia bukan tipe yg punya cinta" tukas Harry kesal.
"Cinta dan ambisi terkadang beda tipis, kedua nya terlihat samar untuk bisa di bedakan" ujar pak pengacara.
..........
Sementara itu, pihak kepolisian menugaskan seorang tim penyidik yg bernama Mahardika untuk menyelidiki kasus Ramos ini.
Mahardika beserta tim nya pun bergerak cepat, dari memeriksa cctv rumah sakit dan sekitar nya. Memintai keterangan orang orang yg ada di sekitar kejadian, namun ia tak mendapatkan apapun.
Tak ada satu pun jejek rekaman cctv yg memperlihatkan Nasha memasuki rumah sakit itu atau pun berkeliaran di sekitar sana.
Mahardika juga meminta keterangan Ruben selaku orang tua Ramos, dan tentu dengan tegas Ruben mengatakan Nasha bersalah.
"Tapi apa motif Nasha?" tanya Mahardika yg membuat Ruben langsung terdiam, ia berfikir kenapa tak memikirkan pertanyaan ini?
"Apa motif seorang wanita yg sudah bersuami menyerang dan melukai seorang pria asing di rumah sakit yg jarak nya cukup jauh dari rumah wanita itu?" tanya Mahardika lagi.
"Ramos bukan pria asing, mereka sempat di jodohkan dan akan segera bertunangan tapi Nasha kabur di malam pertunangan nya" jawab Ruben kemudian.
"Aku juga sudah mendapatkan keterangan itu, dan jika itu memang fakta nya maka seharusnya Ramos lah yg menyerang dan melukai Nasha dengan motif balas dendam atas sakit hatinya" tukas sang penyidik yang malah membuat Ruben semakin tidak bisa berkata kata. Ucapan nya malah berbalik pada nya dan membungkam nya
"Pihak kepolisian juga sudah mendapatkan keterangan dari Nasha di kantor polisi, dan ia bersumpah bahwa apa yg di lakukan nya untuk membela diri karena Ramos ingin melecehkan nya. Nasha bahkan di culik di depan rumah nya sendiri di sore hari, di sekap di ruang isolasi yg ada di pojok gedung. Dan saat larut malam, Ramos menemui nya, dia menampar Nasha karena Nasha memukul nya untuk lari. Dan itu bisa terlihat di hasil visum, kemudian Ramos mencoba menodai nya. Nasha melawan dengan cara segala cara, mencakar, menendang, memukul. Pasti semua itu juga ada bekas iya di tubuh Ramos kan?" tanya penyidik itu memojok kan Ruben" kembali ke cerita Nasha. katanya, saat itu ada gunting bedah yg jatuh dari saku jas Ramos dan tentu tanpa berfikir panjang Nasha menggunakan itu untuk membela diri. Bagaimana menurut mu tentang cerita versi Nasha ini? "tanya penyidik itu.
"Wanita itu berbohong, kalau dia mencoba di lecehkan, dimana bukti nya? Anda pasti melihat, dia sangat baik baik saja bahkan masih berpakaian dengan sangat lengkap. Sementara anakku sedang sekarat sekarang!" tegas Ruben marah.
"Penyidikan masih akan berlanjut" ujar penyidik itu kemudian ia meninggalkan Ruben di ruangan nya dengan amarah.
Ruben memijit kepala nya yg terasa sakit, ia harus bisa mengeluarkan Ramos dari masalah ini karena bukan hanya demi kebaikan Ramos agar terlepas dari jerat kasus penculikan dan pelecehan. Tapi juga demi nama baik Ruben dan juga rumah sakit ini...
Ruben mengambil ponsel nya yg ada di atas meja, ia menekan sebuah nomor dan saat panggilan itu terjawab ia segera memberi perintah dengan tegas.
"Bakar satu satunya barang bukti itu...!!!"