
Mengingat perkataan Nasha yg mengatakan bahwa hanya Suster Marina lah yg bisa membebaskan Nasha dengan kesaksian nya, Bu Anjana mendatangi rumah Suster Marina. Ia berharap bisa mendapatkan sesuatu apapun dari sana yg bisa membuat Nasha bebas dari hukuman.
Jika benar Ruben mengancam Suster Marina, maka Bu Anjana juga akan mengancam Suster Marina. dan jika benar Ruben menyuap nya maka Bu Anjana bisa menyuap nya berkali kali lipat.
Sementara itu, Bagas yg baru saja datang mengajar dari sekolah merasa terkejut dan heran karena ada mobil mewah yg terparkir di depan rumahnya.
Bagas menghampiri mobil itu dan ia melihat seorang wanita paruh baya yg turun dari mobil nya.
"Anda..." seru Bagas merasa tak asing wanita di depan nya ini.
"Saya Anjana, Ibu dari Nasha..." seru Bu Anjana yg membuat Bagas mengernyit bingung.
"Ibu dari Nasha?" tanya Bagas heran.
"Iya, Nasha yg saat ini menjadi tersangka dalam sebuah kasus yg menyeret nama istri mu sebagai saksi kunci..."
"Oh, aku mengerti..." ucap Bagas "Baiklah, Bu. Silahkan masuk, kita bisa bicara di dalam" ajak Bagas ramah.
Ia mempersilahkan Bu Anjana memasuki rumahnya yg sederhana, Bagas mendesah lesu saat mendapati rumah nya masih sedikit berantakan dan ada sebuah tas yg berisi kresek hitam ada di lantai. Bagas mengambil nya dan melempar nya ke keranjang baju kotor.
"Maaf, rumah kami sedikit berantakan. Karena semenjak ada kasus itu, istriku sedikit tertekan dan akhirnya dia sakit selama beberapa hari" ujar Bagas dan Bu Anjana hanya merespon dengan senyum simpul.
Bagas melirik Bu Anjana sekilas sembari mempersilahkan nya duduk, Suster Marina pernah bercerita kalau Nasha adalah anak angkat dari Dr. Surya dan istrinya, dan karena tidak pernah mengenal kedua orang tua angkat Nasha, Bagas mengira Bu Anjana adalah orang tua angkat Nasha.
"Istri mu masih beruntung karena dia hanya jatuh sakit, apa bisa dia bayangkan bagaimana putri ku harus hidup di penjara? Bagaimana suaminya hidup di luar sana tanpa istrinya? Menyedihkan sekali..."
"Maaf..." sela Bagas "Istri ku hanya melakukan yg seharusnya" ia berkata dengan percaya diri.
"Iya, yg seharusnya di lakukan oleh seseorang yg di tekan entah tekanan dalam uang ataupun ketakutan..." seru Bu Anjana lagi dan Bagas mulai merasa ada yg aneh dengan wanita paruh baya ini apa lagi dengan kata kata nya yg sedikit menyinggung nya.
"Maksud nya apa ya? Apa Ibu menyalahkan istri saya karena wanita itu di hukum?" tanya Bagas kesal.
"Aku tidak menyalahkan nya, aku hanya menyayangkan nya yg tidak mau berkata jujur dan mengorbankan hidup orang lain demi diri nya sendiri. Katakan saja, berapa pihak rumah sakit membayar nya? Aku bisa membayar nya sepuluh kali lipat..." ujar Bu Anjana santai namun itu berhasil membuat Bagas marah.
"Saya tahu saya orang miskin, Bu. Tapi ibu maupun pihak rumah sakit tidak akan bisa membeli kami..." geram Bagas sembari bangkit berdiri "Dan saya tidak menyangka, anda begitu sombong padahal suami anda masih karyawan rumah sakit itu juga"
"Karyawan?" tanya Bu Anjana heran dan ia juga bangkit berdiri "Suami ku adalah Niranjan Randawa, pemilik Niranjan Diamonds dan Niranjan Mart. dan Nasha adalah putri kandung kami..." seru Bu Anjana yg membuat Bagas tercengang dan merasa tak mengerti.
"Istri mu telah memberikan kesaksian yg bohong di pengadilan, dan kesaksian palsu nya itu membuat hidup putri ku dan keluarga nya terutama suami nya sangat menderita..." tukas nya dengan emosi.
"Dia di lecehkan, dan istri mu tahu dengan pasti hal itu. Dia bahkan mengganti pakaian putri ku dan menyembunyikan pakaian nya yg robek, yg bisa menjadi barang bukti..."
Bagas masih terdiam, ia masih tak mengerti apa yg sebenernya di maksud oleh wanita paruh baya ini. Dan apa katanya tadi? Istrinya berbohong?
Bu Anjana berjalan keluar dan ia melihat Gladys yg sedang bermain bersama teman teman nya.
"Kau punya seorang anak gadis, bisa bayangkan bagaimana jika dia yg ada di posisi Nasha..." Bu Anjana berkata lirih, sembari memperhatikan Gladys yg bermain dan tampak sangat senang, Sayang sekali Bu Anjana tidak tahu masa kecil Nasha, pasti senang seperti itu
"Dan kau juga di lahirkan oleh seorang wanita, apa kau akan membiarkan jika seandainya seseorang melecehkan ibu mu?"
"Jaga bicara anda...." tegas Bagas marah, Bu Anjana tersenyum miring melihat kemarahan Bagas.
"Padahal aku baru mengatakan seandainya tapi kau sudah sangat marah, apa kau bisa bayangkan marah nya ayah Nasha dan suami Nasha pada pelaku kejahatan seksual yg hendak melecehkan Nasha? Dan menurut mu, apa kah salah jika Nasha membela diri? Tanyakan pada istri mu juga, apakah dia akan mempertaruhkan nyawa nya untuk menjaga kesucian nya? Karena hanya itu yg di lakukan Nasha... "
Setelah mengucapkan hal itu, Bu Anjana segera bergegas pergi meninggalkan Bagas yg masih tercengang dan memikirkan setiap kata yg di ucapkan oleh Bu Anjana.
Memikirkan istrinya memberikan kesaksian palsu membuat Bagas merasa marah dan kecewa, apa lagi jika istri nya melakukan itu karena uang.
...... ...
Sementara itu, persidangan selanjutnya akan segera di laksanakan.
Pak Sriwijaya dan tim nya menyiapkan semuanya sebaik mungkin, dan karena sejauh ini masih tak ada bukti dan saksi yg menyatakan Nasha tidak bersalah, setidak nya mereka harus bisa meringankan hukuman Nasha.
Sebelum hari persidangan datang, Azhar dan kedua orang tuanya menemui Nasha di penjara.
Dan lagi lagi Nasha menangis di hadapan sang suami.
"Apapun yg terjadi, aku di sini, Sayang" hibur Azhar.
"Kami akan mendukung mu dan bersama mu sampai kapan pun..." sambung Ummi Fadlan.
"Iya, Sayang. Percayalah, keajaiban itu ada..." Ummi Rifa menimpali.