True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 131



Azhar yg merasa sudah lebih baik memutuskan untuk memeriksa toko Abi nya, ia juga sudah merasa bosan di rumah terus dan tentu dengan Nasha yg melarang nya ini dan itu padahal ia hanya demam selama dua hari.


"benaran sudah sehat?" tanya Nasha ingin memastikan. Saat ini ia sedang memakan roti isi daging untuk yg kesekian kali nya, bahkan di tong sampah kamar nya sudah terlihat beberapa bungkus roti yg sama.


"Sudah, Sayang" jawab Azhar kemudian menggigit roti yg ada di tangan Nasha "memang nya kamu engga enek dari tadi makan roti itu terus?" tanya Azhar kemudian.


"Aku juga bingung kenapa rasa nya masih enak dan perut ku masih lapar, padahal sudah tiga bungkus" jawab Nasha.


"6 sayang, kalau itu habis berarti 7" ujar Azhar yg membuat Nasha tercengang.


"Pantas sebenar nya perut ku kenyang tapi entah kenapa di mulut ku tetap terasa enak" kata Nasha yg membuat Azhar tertawa.


"Baiklah, aku pergi dulu. Nanti ke pesantren nya minta anterin Abi ya"


"Pakai apa?" tanya Nasha.


"pakai mobil, Sayang..." jawab Azhar.


"Lah, kan mobil nya di bawa kamu"


"Iya itu mobil Abi, maksud ku pakai mobil kamu" tukas Azhar yg membuat Nasha malah mengejutkan kening nya.


"Mobil ku?" tanya nya bingung dan Azhar mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia membawa Nasha keluar dan di sana sudah ada mobil baru berwarna merah yg di hiasi pita.


Hal itu tentu membuat Nasha memekik girang dan langsung berlari ke mobil yg terparkir indah di depan nya itu.


"Ini mobil ku?" tanya Nasha lagi tidak percaya.


"Iya, hadiah untuk Mama bayi karena akan jadi Mama" kata Azhar dan Nasha pun langsung berhambur ke pelukan suami nya dan mengecup pipi nya.


"Tapi tidak boleh menyetir sampai melahirkan" tukas Azhar yg membuat Nasha tentu sangat terkejut


"Huh?" pekik Nasha "Kenapa begitu?" tanya cemberut.


"Nanti kamu kenapa napa, Sayang. Pokok nya itu perintah ku, okey? kamu akan menyetir hanya setelah melahirkan, dan biarkan aku yg menjadi sopir mu, habibti..." ucapan Azhar itu tentu membuat Nasha berbunga bunga dan merasa sangat bahagia,.


"Jadi kamu harus setia menjadi sopir ku sampai aku melahirkan ya?" tanya Nasha memastikan.


"yupz, Nyonya. Kau hanya perlu duduk manis" kata Azhar sambil tersenyum.


....


Azhar melakukan pengecekan di toko nya yg kini sudah berubah lebih besar karena pelanggan nya semakin banyak dan stock barang nya tentu juga harus selalu banyak.


Benar kata ayah nya dulu, seiring berjalan nya waktu dan semakin maju nya zaman, semua orang membutuhkan alat elektronik dalam berbagai hal.


Saat Azhar berjalan dan mengecek barang barang nya, tiba tiba ia merasa pusing dan pandangan nya menjadi buram. Seketika Azhar teringat dengan Nasha yg tadi masih melarang nya pergi karena takut Azhar pusing, jatuh dan berdarah.


Azhar mengernyit saat ia merasakan seperti ada yg mengalir dari hidung nya. Azhar menyentuh nya dan hidung berdarah, Azhar hendak memanggil karywan nya namun tiba tiba ia ambruk dan tak sadarkan diri.


...


"Pak Azhar, alhamdulillah... Akhir nya Pak Azhar sadar juga" seru salah satu pegawai nya yg berdiri di samping nya, Azhar memperhatikan ruangan itu dan ia sadar kini diri nya sedang ada di rumah sakit.


"Siapa yg membawa ku kesini?" tanya Azhar sambil memegang kepala nya yg terasa sakit dan pusing.


"Saya sama teman teman, pak. Tapi sekarang mereka kembali ke toko"


"Terima kasih ya, oh ya, apa kalian menghubungi keluarga ku?" tanya Azhar karena ia tak mau keluarga nya khawatir apa lagi ayah nya yg punya penyakit jantung dan istri nya yg sedang hamil.


"Iya, Pak. Mereka lagi di jalan, kata nya masih terjebak macet tadi"


"Astagfirullah..." gumam Azhar. seorang Dokter datang dan ia membawa sebuah laporan medis Azhar.


"Dok..." seru Azhar dan ia berusaha duduk "Bagaiamana keadaan saya? tadi Tiba tiba saya pusing dan hidung saya berdarah" ujar Azhar dan Dokter itu tampak ragu untuk berbicara, raut wajah nya juga terlihat sangat terlihat prihatin pada Azhar dan tentu hal itu membuat Azhar cemas dan was was.


"Dokter, saya baik baik saja, kan? saya hanya demam dan flu selama dua hari ini, mungkin karena saya kelelahan" tutur Azhar,


"Pak Azhar, dengan berat hati harus saya katakan bahwa... Bahwa anda mengidap kanker otak stadium akhir"


Azhar seperti di sambar petir mendengar kabar itu, ia bahkan merasakan seolah nya jantung nya berhenti berdetak dan nafas nya tercekat di tenggorokan nya.


"Ka...kanker?" tanya Azhar setengah berbisik dan bahkan mata nya sudah memerah sekarang, seluruh tubuh nya terasa gemetar. Ia menatap nanar dokter itu dan sang Dokter hanya bisa mengagguk lemah.


Pegawai Azhar tak kalah terkejut nya mendengar berita yg bak mimpi buruk bagi siapapun. Azhar memegang kepala nya yg terasa semakin sakit.


Seketika yg ia ingat sekarang adalah istri nya dan calon bayi nya, air mata Azhar bahkan sudah menyelinap dari sudut mata nya.


"kanker otak, ya Allah..." gumam nya dengan dada yg terasa begitu sesak.


"Tapi Bagaiamana bisa? selama ini aku baik baik saja, Dok" tutur Azhar dengan suara yg sangat tercekat dan ia menghapus air mata nya dengan punggung tangan nya.


"Gejala kanker otak bisa berkembang lebih lama Sehingga dalam beberapa kasus memang gejala nya ringan sehingga pengidap nya tidak menyadari nya, Pak Azhar. Sehingga tumor ini terus berkembang dalam otak anda dan menjadi kanker yg mematikan" tutur Dokter itu yg membuat Azhar merasa mulai kesulitan bernafas.


"Dan sayang nya, kanker ini tidak bisa di sembuhkan dengan terapi maupun operasi. Saya hanya bisa memberikan obat obatan untuk mencegah tumor ini berkembang lagi"


...... ...


Nasha dan mertua nya berlarian di lorong rumah sakit untuk menemukan kamar rawat Azhar, Nasha bahkan sudah menangis sejak tadi saat ia mendapatkan kabar kalau suami nya pingsan dan masuk rumah sakit.


"Sayang, jangan lari ya. Azhar pasti baik baik saja, mungkin dia pingsan karena pusing" ujar Ummi Rifa berusaha menenangkan Nasha padahal ia sendiri sebagai ibu tentu sangat mengkhawatirkan buah hati nya itu. Apa lagi sampai masuk rumah sakit, anak nya sakit demam saja sudah membuat nya takut dan tidak bisa tidur.


Mereka sampai di depan kamar rawat Azhar dan tiba tiba Azhar keluar dari ruang rawat nya dan Azhar malah tersenyum lebar pada keluarga nya yg panik itu.


Abi Fadlan bahkan sudah panas dingin dan ia juga merasa seolah akan pingsan.


"Papa nya bayi baik baik saja dan jangan khawatir" tukas Azhar masih tersenyum lebar "Sekarang kita pulang ya"


"Hua..." tiba tiba Nasha malah menangis nyaring dan ia langsung berhambur ke pelukan Azhar.


"Sudah aku bilang jangan kemana mana" rengek Nasha kemudian yg membuat Azhar terkekeh.