
Bi Tanti yg mendengar suara bel rumah segera berlari untuk membukakan pintu. Sementara Raya dan suami nya masih kalang kabut mencari Nasha, mereka menghubungi semua teman Nasha namun tak ada yg mengetahui keberadaan Nasha, bahkan juga Elin.
"Non Nasha, Alhamdulillah. Non Nasha pulang" pekik Bi Tanti yg melihat Nasha pulang bersama Azhar dan kedua orang tua nya.
Raya dan suaminya yg mendengar itu segera berlari keluar.
"Nasha, Oh Tuhan... Kami sudah sangat mengkhawatirkan mu, Nak" ujar Surya dan ia langsung memeluk Nasha.
"M.. Maaf, Pa" cicit Nasha dan ia menatap takut pada Mama nya yg terlihat sangat marah.
"Kenapa Nasha bisa bersama kalian? Kalian mau membawa nya lari?" tuduh Raya menatap Azhar dengan begitu sengit.
"Bukan salah Azhar, Ma. Tadi Nasha yg pergi sendiri ke sana karena...."
"Mau jadi perempuan murahan kamu, huh?"
PLAKKKK
Tamparan yg sangat keras mendarat di pipi Nasha dan keras nya tamparan itu membuat dia hingga terdorong ke Azhar, Azhar secara reflek memeluk Nasha dan merengkuh pundak nya.
Seketika air mata Nasha menetes dan reflek ia mememgang pipi nya yg terasa panas dan perih.
"Kamu engga apa apa?" tanya Azhar lembut bahkan ia mengusap pipi Nasha yg merah dan ada bekas jari sang Mama angkat.
Nasha tak menjawab dan ia hanya menangis, Ummi Rifa dan Abi Fadlan yg melihat itu sangat terkejut, Ummi Rifa juga merengkuh Nasha, seolah memberi nya dukungan dan kekuatan.
"Tante, kan bisa bicara baik baik" ujar Azhar dan ia terlihat menahan amarah. Tak bisa Azhar pungkiri, ia merasa marah melihat Nasha di perlakukan dengan begitu sadis dan tidak di izinkan berbicara. Azhar bisa memaklumi jika seorang anak mendapatkan tamparan teguran dari orang tua nya, tapi Azhar tak bisa menerima kata tak pantas yg sudah di ucapkan seorang ibu kepada anak gadis nya.
"Kamu engga usah ikut campur, ini urusan keluarga kami" tegas Raya. Sementara Surya hanya bisa membisu dan menatap sendu putri nya itu.
"Setidaknya dengarkan penjelasan Nasha" ucap Abi Fadlan berusaha menenangkan diri, padahal ia juga tak bisa menerima apa yg sudah Raya lakukan pada Nasha apa lagi sampai mengucapkan kata 'murahan' itu "Nasha ini putri kalian, dengarkan isi hati putri kalian walaupun cuma sekali. Dan jangan mengucapkan hal yg tidak tidak pada anak gadis kalian" lanjut nya.
"Dia putri ku dan aku berhak atas diri nya, jadi sebaiknya sekarang kalian pergi" usir Raya "Dan kamu, Nasha! Masuk ke kamar mu sekarang juga!" desis Raya tajam dan tatapan nya sungguh mengintimidasi Nasha. Tentu membuat Nasha merasa takut pada Mama nya ini.
"Maaf, Tante...." dengan cepat Azhar berbicara "Aku tidak mengembalikan Nasha untuk di intimidasi apa lagi mendapatkan tamparan dan makian" tegas Azhar "Aku membawa dia kembali ke sini supaya kalian bisa mendengarkan isi hati Nasha dan membicarakan masalah ini baik baik, Nasha berhak memilih jalan hidupnya sendiri"
"Jangan menggurui ku untuk mendidik anak ku!" seru Raya, ia menarik tangan Nasha dengan kasar bahkan membuat Nasha sampai meringis, merasakan cengkraman yg sangat kuat di lengan nya.
Hingga tiba tiba Harry datang dan melepaskan Nasha dari Mama nya "Ini sudah cukup!" seru Harry. Ia menatap kakak nya yg hanya bisa menangis, Harry juga melihat pipi Nasha yg terlihat masih memerah akibat tamparan Raya.
"Kak Nasha berhak memilih jalan hidupnya, Ma!" tegas Harry dan ia mendorong Nasha pelan mendekati Azhar.
"Benarkah?" desis Raya menatap tajam Nasha "Apa kamu ingin memilih jalan hidup mu sendiri, Sha?" tanya nya "Memilih Azhar?"
Nasha tak bisa menjawab dan hanya menunduk, namun tiba tiba Harry mencengkram lengan Nasha membuat Nasha langsung mendongak. Nasha juga meringis sakit, tenaga Harry tak jauh berbeda dengan Mama nya. Azhar yg melihat itu langsung menarik paksa tangan Harry.
"Jangan kasar, Harry!" tegas Azhar namun Harry mengabaikan nya, kini ia tetap fokus menatap Nasha.
"Ini saat nya Kak Nasha memilih, menjadi boneka Mama atau menjadi diri sendiri?"
"Harry tahu Kak Nasha sayang sama Mama dan ingin mengabdi sebagai balas budi, tapi bukan begini caranya, Kak. Bagaimana kalau suatu hari nanti Kak Nasha sudah muak dengan semua ini, merasa tidak sanggup lagi dan bagaimana jika saat itu datang, Kak Nasha merasa ingin mati saja dan kemudian bunuh diri seperti Kak Laura?"
"Harry...!!!" bentak Raya marah dan ia sudah mengangkat tangan hendak menampar Harry, namun Azhar berhasil menahan tangan Raya.
"Maaf, Tante. Bukan maksud ku ikut campur tapi alangkah baik nya tidak selalu main tangan" ucap Azhar.
"Ma...." Nasha bersuara dengan lirih, ia melangkah maju dan hendak menggapai tangan Raya namun Raya menepis nya dengan kasar, Nasha kembali menangis di perlakukan seperti itu "Nasha bisa melakukan apapun yg Mama mau, tapi tidak dengan pernikahan, Ma" ucap Nasha sambil menghapus air matanya "Azhar pria yg sangat baik, dia akan membahagiakan Nasha. Nasha mohon, Ma...."
"Jadi kamu tetap ingin bersama Azhar?" tanya Raya dingin.
"Kami saling mencintai, Ma" jawab Nasha.
"Pergi dari sini atau tinggalkan Azhar dan menikah dengan Ramos!" tegas Raya yg membuat nafas Nasha langsung tercekat. Air mata kembali mengalir deras di pipi nya.
"Ma, dengerin Nasha dulu..." lirih Nasha.
"Hanya itu pilihan mu, Nasha!" tegas Raya "Mama sudah sayang sama kamu, Mama mengadopsi kamu sejak kamu kecil, Mama memberikan segala nya buat kamu, dan ini balasan kamu? Seandainya Laura yg ada di posisi kamu sekarang, dia pasti sudah sangat berterima kasih" tutur Raya.
Dan untuk pertama kalinya, Nasha memperlihatkan kemarahan nya atas ucapan yg sudah sering ia dengar itu. Azhar sendiri tak menyangka Raya tega mengucapkan hal itu pada Nasha.
"Aku engga pernah minta di adopsi" lirih Nasha berusaha menahan isak tangis nya "Maaf, Ma. Tapi aku bukan Laura"
"Benar, kamu bukan Laura dan engga akan pernah menjadi Laura, engga akan pernah menjadi putri ku. Jadi sebaiknya tinggalkan kami, karena kamu bukan bagian dari kami lagi"
"Ma..." tegur Surya marah "Bicara apa kamu ini? Nasha ini putri kita"
"Bukan, Pa..." sela Harry "Putri Mama cuma Laura. Dan Kak Nasha..." Harry menatap sendu kakak nya itu, Harry menghapus air mata Nasha "Kak Nasha bukan Laura, Kak Nasha berhak memilih jalan hidupnya sendiri"
Nasha tersenyum tipis mendengar ucapan Harry, mereka berpelukan dan Harry mengusap punggung Nasha "Engga apa apa, Kak. Pilihlah jalan hidup yg kakak mau"
Nasha mengangguk "Maafin Nasha, Ma, Pa... Tapi Nasha benar benar tidak bisa menikah Ramos"
Raya hanya terdiam dengan tatapan kemarahan nya, sementara Surya hanya bisa menatap tak berdaya.
"Azhar..." lirih Nasha.
"Kamu yakin?" tanya Azhar dengan begitu lirih, tatapan nya begitu dalam menatap Nasha, Nasha mengangguk yakin.
"Tapi, Nasha..."
"Aku mohon, Azhar. Kamu bilang kamu sangat mencintai ku kan? Apa kamu mau menikahi ku?"
"Pasti" jawab Azhar yakin "Tapi orang tua mu juga penting..."
"Dia sudah tidak punya orang tua..." sela Raya dengan begitu dingin. Hati Nasha begitu sesak mendengar itu. Azhar pun tak bisa menerima lagi segala sikap buruk itu.
"Baiklah, sekarang Nasha milik ku, hanya milik ku" tegas Azhar.