True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 98



Mendapatkan kabar pemindahan Nasha ke sel tahanan wanita membuat Azhar dan pengacara nya sangat terkejut. Apa lagi status Nasha baru tersangka dan Nasha punya alibi yg masuk akal kenapa ia harus melukai Ramos.


Penyidik juga mengatakan bukan hanya karena Nasha tetap berpakaian lengkap maka Ramos tidak bersalah, karena penyidik mangasumsikan jika benar yg di Katakan Nasha maka Ramos belum bertindak lebih jauh saat Nasha menusuk leher nya, karena tak perlu menunggu di lukai, bahkan jika seseorang merasa akan terancam maka pasti secara refleks ia akan melindungi diri. Dan kemungkinan kedua yg membenarkan pernyataan Nasha adalah bekas tamparan di pipi Nasha, tamparan itu pasti sangat keras karena jika tidak, maka tidak mungkin bekas tamparan itu ada sampai keesokan harinya.


Pak Niranjan dan pengacara nya segera mengurus agar Nasha bisa di pindahkan ke sel terpisah dan ke sel yg jauh lebih baik, dan dengan uang, tentu itu akan mudah.


"Terima kasih..." lirih Azhar pada Pak Niranjan, saat ini ketiganya sedang dalam perjalanan menuju penjara "Jika bukan karena mu, Pak. Mungkin aku akan sangat kesulitan dalam menangani kasus istri ku, karena lawan kami adalah orang yg berpegang pada kekuatan uang dan dengan uang yg salah menjadi tidak salah begitu sebaliknya. Mereka bisa membeli hukum dan memutar balikan fakta"


"Tapi mereka tidak akan bisa membeli keadilan..." sela Pak Sriwijaya "Aku sudah menjadi pengacara puluhan tahun, Azhar. Menghadapi orang seperti Ruben bukan hal baru bagi ku, dan orang orang seperti itu memang akan selalu menjadikan uang nya sebagai kekuatan nya. Tapi mereka lupa, yg benar yg akan mendapatkan keadilan. Dan setiap kejahatan pasti akan meninggalkan jejak, tak perduli serapi apapun mereka mencoba menutupi jejak nya"


"Kamu jangan khawatir, Azhar. Kami akan bersama mu sampai kamu memenangkan kasus ini dan nama Nasha bersih kembali" ujar Pak Niranjan.


"Kebaikan mu terlalu banyak, Pak Niranjan. Entah bagaimana aku bisa membalas nya" lirih Azhar.


"Sebenar nya aku punya alasan kenapa aku membantu mu, Azhar" seru pak Niranjan kemudian "Ada kemungkinan yg sangat besar bahwa Nasha adalah putri kandung kami yg pernah kami titipkan di panti asuhan dulu"


"Maksud nya?" pekik Azhar terkejut, Pak Niranjan pun menceritakan Bagaiamana bisa ia berfikir Nasha adalah putri nya, bahkan Pak Niranjan dan istri nya juga sudah menemui orang tua angkat Nasha untuk mencari tahu asal usul Nasha. Dan dari sana, Pak Niranjan dan istri nya semakin yakin bahwa Nasha adalah anak mereka. Pak Niranjan berkata jujur pada Azhar kenapa ia menitipkan Nasha di panti asuhan, karena Nasha adalah anak di luar nikah sementara baik Pak Niranjan maupun istri nya saat itu sangat takut pada keluarga mereka. Sehingga mereka terpaksa meninggalkan putri mereka di panti asuhan.


Azhar hanya bisa mendengarkan dengan seksama dan berusaha mencerna cerita Pak Niranjan.


"Liontin ini memang milik Nasha, saat itu aku juga bingung kenapa dia berbohong pada kalian" ucap Azhar sembari menggenggam liontin Azhar yg menggantung di leher nya "Saat aku bertanya, dia bilang dia hanya tidak ingin terus di ingatkan bahwa dia anak ygg di buang dan juga anak adopsi" mendengar penuturan Azhar, membuat Pak Niranjan merasa sangat bersalah dan juga sedih.


"Kami sangat menyesal, Azhar. Seandainya kami bisa memutar waktu, kami tidak akan membuang anak kami apapun yg terjadi" lirih Pak Niranjan. Azhar tak sempat menjawab nya karena kini mobil berhenti tepat di depan kantor polisi.


Ketiga pria itu pun segera bergegas untuk mengurus kepindahan Nasha, Pak Sriwijaya menemui kepala sipir penjara dan menyerahkan sebuah surat pada nya.


"Ini adalah surat resmi untuk memindahkan Nasha ke sel tahanan terpisah, dan jangan lupa Nasha itu belum di sidang. Kasus nya masih abu abu dan dia belum di nyatakan bersalah" seru Pak Sriwijaya.


"Silahkan baca surat ini..." tegas Pak Niranjan "Ini juga perintah langsung, dan jika kau tidak menyetujui nya maka aku bisa memastikan pekerjaan mu akan di gantikan oleh orang lain" sipir itu sangat mengenal pengusaha emas dan berlian ini, dan ia tahu dengan pasti apa yg di katakan nya sangat mudah di jadikan kenyataan dengan uang dan status yg ia miliki.


Dengan sangat terpaksa, kepala sipir itu menandatangani surat itu kemudian memerintahkan sipir untuk memindahkan Nasha ke sel yg lain, yg sudah Pak Niranjan siapkan untuk Nasha.


"Azhar...." seru Nasha saat ia di bawa oleh sipir "Azhar, aku mau di bawa kemana?" tanya Nasha bingung.


"Pindah ke sel khusus, Sayang. Kata Mera di sana kamu di bully sama tahanan yg lain, karena itulah kami ingin kamu pindah ke sel yg lain. Kamu jangan takut" ujar Azhar lembut.


"Kamu jangan khawatir, Nasha...." seru Pak Niranjan kemudian "Sel kamu jauh lebih baik dari sel yg lain, di sana ada ranjang dan bantal. Di sana bersih, ada kipas angin nya juga. Bahkan ada kamar mandi nya di dalam"


"Memang nya bisa di penjara seperti itu?" tanya Nasha dengan polos nya, karena setahu nya penjara itu ya seperti penjara yg ia tempati sejak kemarin.


"Bisa, Nak. Untuk mu apa yg tidak bisa..." seru Pak Niranjan yg membuat Nasha tersenyum, melihat itu hati Azhar merasa sedikit lega dan bahagia.


"Kamu baik baik di sini ya, Sayang. Sabar dulu, jangan lupa terus lah berdoa" pinta Azhar dan Nasha mengangguk. Ia memeluk Azhar dan mencium pipi suami nya itu.


"Terima kasih..." ucap Nasha kemudian menatap ketiga pria itu bergantian, ia tak menyangka, orang asing seperti Pak Niranjan mau membantu nya begitu banyak. Nasha bahkan belum melihat batang hidung ayah angkat nya sendiri.


"Kembali kasih, Nak" ucap Pak Niranjan.


Sipir pun membawa Nasha ke sel yg memang jauh lebih baik. Ada ranjang di sana meskipun itu memang ranjang kecil, ada bantal, ada kipas angin dan lampu nya juga sangat terang. Berbeda dengan sel sebelum nya yg cahaya nya tak seberapa. Nasha menyusun mukena, baju, Al Qur'an dan makanan yg di berikan Bu Anjana di ranjang.


"Ya Allah, padahal mereka orang asing. Tapi aku bisa merasakan kepedulian mereka pada ku, sedangkan Mama Papa ku? Apa mereka tidak mengkhawatirkan ku sedikit pun? Apa mereka lebih percaya teman mereka dari pada anak mereka?"


Pertanyaan pertanyaan itu sungguh membuat Nasha merasa sedih, namun ia tak bisa apa apa. Karena dukungan yg ia dapatkan saat ini sudah lebih dari cukup untuk nya. Dan Nasha sangat bersyukur, karena masih banyak yg percaya pada nya bahwa ia memang tidak bersalah.