
Hari pertama setelah kematian Azhar terasa begitu berat bagi Nasha dan juga Ummi Rifa, sementara saat ini Abi Fadlan masih tak kunjung siuman di rumah sakit.
Untuk menangis pun rasa nya sudah lelah dan air mata sudah lelah juga untuk terus mengalir di pipi kedua nya.
Malam ini Bu Anjana dan semua keluarga nya yg lain sengaja menginap di rumah Nasha untuk menjaga putri dan juga besan nya yg masih sama sama dalam keadaan begitu terpuruk.
Kedua nya juga tak makan apapun seharian, minum pun hanya sesekali.
Nasha meringkuk di ranjang nya, di sisi dimana Azhar berbaring untuk terkahir kali nya. Nasha memakai bantal yg di pakai Azhar untuk terkahir kali nya, yg masih meninggalkan aroma Azhar yg melekat dengan sempurna. Nasha menghirup aroma nya dalam dalam. Nasha bahkan memakai baju Azhar yg belum di cuci, dimana aroma Azhar juga masih begitu tercium di sana.
"Aku merindukanmu, Papa nya bayi" lirih Nasha dan mata nya kembali berkaca kaca, Nasha masih tidak percaya Azhar akan meninggalkan nya secepat ini, mendadak seperti ini. Padahal mereka baru merancang mimpi dan masa depan mereka, anak mereka bahkan belum terlahir ke dunia.
Setiap saat Nasha berharap ini hanya mimpi buruk nya dan ia berharap ia segera bangun, melihat Azhar di sisi nya seperti biasa. Kemudian memeluk Azhar dengan manja dan Azhar pasti akan selalu memanjakan nya.
Namun kenyataannya ini adalah sebuah kenyataan yg tak bisa Nasha tawar lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun Nasha tak bisa tidur dan masih terus memikirkan sang suami. Perut nya kosong namun ia tak merasa lapar sedikit pun karena rasa sedih dan rasa kehilangan begitu mendominasi diri nya.
Nasha menutup mata namun tiba tiba ia seolah melihat suami nya yg sedang tersenyum pada nya saat ini, hal itu membuat Nasha berfikir jika dengan menutup mata ia bisa melihat Azhar maka dia akan menutup mata. Namun Nasha tersentak kaget dan langsung membuka mata ketika ia juga seolah mendengar suara suami nya yg berbisik di telinga nya.
"Sayang, bayi kita..."
"Egh..." Nasha langsung terduduk dari tidur nya, pandangan langsung menjelajah ke setiap sudut guna mencari sosok sang suami, namun ketika ia menyadari sang suami takkan lagi ada di sisi nya, Nasha kembali menangis sesegukan, ia memeluk lutut nya sendiri dan seluruh tubuh nya langsung bergetar. Cukup lama Nasha menangis hingga ia merasakan perut nya yg keroncongan nya, Nasha memegang perut nya dan Seketika itu ia sadar, masih ada kehidupan dalam diri nya yg harus Nasha jaga dan Nasha sudah berjanji pada suami nya untuk itu.
Nasha mengatur nafas nya, menghapus air mata nya dan berusaha tegar. Kemudian ia turun dari ranjang nya, keluar dari kamar nya dan berjalan pelan menuruni tangga.
Nasha hendak memeriksa keadaan ibu mertua nya di kamar nya, saat Nasha hendak mengetuk pintu, terdengar suara tangis sang ibu mertua. Hal itu membuat nafas Nasha langsung terasa tercekat di tenggorokan nya.
Ia pun membuka pintu yg ternyata tak di kunci itu, Nasha mendapati ibu mertua nya yg sedang meringkuk di atas sejadah nya masih dengan mukena yg membungkus tubuh nya.
"Ummi..." panggil Nasha lembut, dan seketika Ummi Rifa mengangkat wajah nya yg sudah basah karena air mata nya.
Saat melihat wajah sang mertua, satu hal lagi yg baru Nasha sadari, Azhar tak hanya meninggalkan anak nya untuk Nasha jaga, tapi juga kedua orang tua nya.
Kini Nasha harus tegar, demi janin nya dan demi kedua orang tua mendiang suami nya.
"Ummi pasti belum makan, ayo makan" ajak Nasha bahkan ia membukakan mukena Ummi Rifa.
Ummi Rifa mengatur nafas nya dan berusaha menghentikan tangis nya. Melihat Nasha membuat ia juga menyadari, bahwa kematian putra nya bukan akhir dari segalanya, justru awal dari segalanya. Kini ia harus menjaga menantu dan calon cucu nya. Ia merasa harus tegar demi mereka.
"Kamu sendiri sudah makan?" tanya Ummi Rifa dengan bibir yg masih bergetar.
"Kami semua belum makan" tiba tiba terdengar suara Mera dari ambang pintu, Nasha dan Ummi Rifa menoleh dan melihat Mera dengan rambut yg acak acakan.
"Kenapa kamu bangun, Mer?" tanya Nasha kemudian.
"Lapar" jawab Mera lirih, ia juga menangis karena terus terusan melihat Nasha yg menangis. Membuat Mera juga seolah merasakan apa yg Nasha rasakan.
"Mama sama Kak Hanin lagi panasin makanan" kata Mera lagi, Nasha membantu Ummi Rifa berdiri karena Ummi Rifa sempat limbung saat berusaha berdiri, mungkin karena ia tidak makan apapun seharian.
Ketiga nya pun berjalan menuju meja makan, di sana bahkan sudah ada Pak Niranjan yg sedang menyajikan makanan di piring yg sudah tersedia di sana.
"Kalian bisa langsung makan" kata Pak Niranjan kemudian.
Nasha menarikan kursi untuk Ummi Rifa.
"Ummi harus tetap jaga kesehatan ya..." kata Nasha lirih.
"Kamu juga, Nak" Ummi Rifa menarik Nasha supaya duduk di kursi nya.
Mereka semua memang belum makan, dan saat Nasha keluar dari kamar nya, Papa nya tidur di sofa menyadari itu. Ia pun segera bangun dan membangunkan yg lain nya untuk mempersiapkan makanan.
Nasha menyuapkan satu suap nasi ke mulut nya, rasa nya begitu sulit untuk sekedar mengunyah apa lagi menelan makanan itu, namun Nasha memaksakan diri dan ia meminum air supaya makanan itu tertelan. Begitu juga dengan Ummi Rifa yg dalam keadaan yg sama.
"Ikhlas, Nasha. Demi anak kami, demi ketenangan Azhar, cinta sejati ku"