True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 106



Pak Niranjan membuat surat laporan kepada polisi, ia melaporkan Ramos atas penculikan, penyekapan dan pelecehan terhadap putri sulung nya itu. Tak lupa ia juga menyeret Ruben dan pihak rumah sakit yg telah bekerja sama mencemarkan nama baik Nasha dan keluarga nya dengan memaksa saksi memberikan kesaksian palsu juga usaha untuk melenyapkan barang buktinya.


Pak Niranjan melakukan semua itu tanpa sepengetahuan Azhar maupun Nasha, sebenarnya ia ingin membicarakan itu dengan mereka namun Pak Niranjan melihat seperti nya Nasha masih lelah dengan kasus sebelumnya dan bahkan mungkin juga trauma.


"Pa..." seru Bu Anjana yg saat ini memasuki ruang kerja suaminya "Sudah buat laporan nya?"


"Sudah" jawab Pak Niranjan sembari menutup laptop nya.


"Pa..." seru Bu Anjana lagi "Kapan kita beri tahu Nasha dan yg lainnya kalau Nasha itu putri kita?" tanya Bu Anjana tidak sabar.


"Sabar dulu, Ma... Nasha masih shock dan pasti masih trauma karena kejadian sebelumnya, setidaknya biarkan dia tenang dulu sama Azhar. Kan Azhar juga sudah bilang, sepertinya Nasha membenci kita karena kita membuang nya..."


"Aku tidak membuang nya, Pa. Aku cuma menitipkan dia ke panti" jawab Bu Anjana dan ia sudah hendak menangis lagi, karena topik tentang anak Mereka yg tak di harapkan itu selalu membuat Bu Anjana sensitif, mudah menangis.


"Ayo lah, Ma... Jangan menangis..." Pak Niranjan segera berdiri dari kursi nya dan memeluk sang istri "Yg penting kan kita tahu, Nasha itu Alezhea, putri kandung kita. Bukan nya itu sudah lebih dari cukup, hm?" hibur sang suami.


Mera yg tak sengaja mendengar pembicaraan keduanya pun hanya bisa merasa kasihan pada sang Mama.


Mera sendiri benar benar tidak menyangka, wanita menyebalkan itu ternyata kakak kandung nya. Mera merasa bahagia karena benar dugaan Mama nya bahwa kakak nya masih hidup, tapi bersaudara dengan Nasha?


"Semoga saja dia nanti jadi baik kalau tahu aku itu adik nya..." gumam Mera "Soal nya mau bagaimana pun aku sayang kakak ku..."


..........


Azhar mendekap Nasha dengan sangat erat, seolah ia takut Nasha hilang jika ia melonggarkan dekapan nya sedikitpun. Azhar bahkan terus menerus mengecup Nasha, melampiaskan rasa rindu yg tersimpan dalam hati nya selama ini.


Sedangkan Nasha juga memeluk sang suami dengan sangat erat, menghirup aroma suami nya yg selama ini sangat ia rindukan.


Keduanya saling memeluk dan enggan memejamkan mata hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Menikmati pelukan hangat dari pasangan nya yg sempat hilang.


"Sayang..." lirih Azhar sembari membelai rambut hitam sang istri yg kini sudah sangat panjang bahkan melebihi pinggang nya.


"Aku merindukanmu..." Nasha berkata dengan suara sangat lirih "Aku takut di sana, sendirian"


"Maafkan aku, seharusnya aku bisa mengeluarkan mu lebih cepat" ucap Azhar dan ia kembali mengecup kening sang istri entah untuk yg ke berapa kali nya. Nasha semakin mengeratkan pelukan nya.


"Sayang, jangan tinggalin aku ya..." lirih Nasha dengan suara tercekat "Aku sangat takut kamu meninggalkan ku karena kasus itu, aku benar benar..... Takut" ia berkata terbata bata dan bahkan air mata tidak bisa di tahan nya.


"Kamu belahan jiwa ku, Habibti. Bagaimana bisa aku meninggalkan mu? Dan kamu adalah cinta sejati ku, lalu bagaimana aku bisa hidup tanpa mu?" Azhar berkata dengan begitu tulus dan lembut, seperti biasa. Selalu mampu membuat perasaan Nasha menghangat.


"Aku mencintaimu, Sayang..." ucap Nasha dan ia pun mengecup pipi sang suami.


"Aku juga mencintai mu, Sayang. Sangat mencintai mu..." ucap Azhar "Sekarang tidur ya, kamu harus beristirahat yg cukup"


"Hem, jangan lepaskan pelukan mu..." pinta Nasha.


"Tidak akan, aku juga sangat merindukan mu. Ranjang ini terasa begitu dingin tanpa mu" lirih Azhar yg membuat Nasha terkekeh dan semakin mengeratkan pelukan nya.


"Sekarang aku di sini..."


"Ayo tidur, Sayang. Sudah malam, nanti kamu sakit kalau begadang"


.........


Seperti saat ini, ia kembali melamun saat menyisir rambutnya di depan kaca.


"Nasha..." panggil Azhar namun Nasha tak menanggapi.


"Sayang..." Azhar menyentuh pundak sang istri yang seketika membuat Nasha tersentak.


"Iya, Kenapa?" tanya Nasha gelagapan.


"Lagi mikirin apa, hm?" tanya Azhar lembut sembari memberikan sedikit pijatan mesra di pundak sang istri.


Nasha menarik tangan Azhar dan mengecup nya, ia menatap Azhar dari pantulan cermin di depannya.


"Aku masih takut..." lirih Nasha dengan suara tercekat, ia masih tak bisa mengenyahkan ingatan nya akan perbuatan Ramos pada nya "Dia monster, di jahat..."


"Sshhttt, semua sudah berakhir, Sayang. Sekarang kamu di sini, bersama ku. Tidak akan ada apapun yg terjadi dengan mu" hibur Azhar sembari menarik Nasha ke dalam pelukan nya.


Pelukan Azhar berhasil membuat Nasha merasa jauh lebih tenang.


"Apa aku boleh kembali kuliah?" tanya nya kemudian sembari melerai pelukan nya.


"Tentu saja" jawab Azhar tersenyum "Sekarang kita turun ya, Ummi sama Abi menunggu kita di bawah"


"He'em, aku kangen sama masakan Ummi" jawab Nasha kembali tersenyum sumringah. Azhar mengambilkan jilbab rumahan Nasha dan memakaikan nya pada Nasha. Setelah itu ia membawa Nasha turun.


Di bawah, Nasha terkejut karena ada Bu Anjana dan Mera.


"Hai..." sapa Mera girang sembari melambaikan tangan nya namun Nasha tak menyambut nya dengan hangat.


"Sok akrab saja kau..." seru Nasha yg membuat Mera langsung memberengut dan ia melirik Anjana seolah mengadu.


"Sha, aku bawakan sarapan untuk mu..." seru Bu Anjana yg mengabaikan Mera, membuat Mera semakin memberengut.


"Oh ya?" seru Nasha antara heran dan tak percaya, karena menurut nya keluarga Nasha ini terlampau baik pada nya.


"Iya, aku dengar kamu suka kare tapi tidak suka kuning telur. Aku sudah pisahkan kuning nya" ujar Bu Anjana lagi.


Nasha menatap Azhar dan Azhar hanya menyunggingkan senyum nya sembari mengusap kepala sang istri.


"Terima saja, niat nya baik" ucap nya kemudian.


"Kenapa Tante dan Mera tidak sarapan bersama kami saja di sini?" tawar Nasha yg tentu saja membuat Bu Anjana senang dan langsung setuju.


Mereka pun sarapan bersama dan sesekali di selipi candaan. Apa lagi Nasha dan Mera yg juga sesekali ber argumen dan tampak seperti tikus dan kucing saja.


"Kalian seperti saudara saja..." ujar Abi Fadlan "Berdebat terus tapi terlihat nyaman satu sama lain dan menikmati perdebatan itu"


Mere, Bu Anjana dan Azhar hanya saling melempar pandangan dan kemudian mereka hanya menyunggingkan senyum tipis nya.


Sementara Nasha masih sibuk menikmati masakan ibu mertua nya dan ibu kandung nya yg terasa sangat lezat. Apa lagi selama di penjara dia di berikan seadanya, Nasha sangat merindukan masakan rumahan seperti ini.