True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 145



Pagi telah hadir, mentari telah menyapa, memancarkan sinar indah yg menghantarkan kehangatan setelah malam dingin yg terasa begitu panjang, menegangkan dan mencekam.


Keresahan yg di rasakan kini terganti dengan senyum bahagia yg tak pernah musnah dari bibir keluarga besar bayi yg bernama Muhammad Habiburrahman itu dimana kini ia sedang di kelilingi oleh oleh orang yg mencintai ibunya dan yg pasti juga akan mencintai nya, seperti arti dari nama yg di pilih oleh ayah dan ibu nya.


"Mirip Kak Nasha ya" kata Harry setelah memperhatikan bayi mungil yg kini tertidur di pangkuan ibunya.


Nasha duduk bersandar di ranjang dengan menselonjorkan kaki nya dan memangku bayi nya. Harry menunduk dan mencium bayi yg kini menguap itu.sed


"Hah, wangi nya" pekik Harry.


"Kayak nya itu mirip kakak ipar deh" sambung Mera yg saat ini sedang melihat album foto dimana di sana memang ada foto Azhar saat bayi.


"Coba lihat?" tanya Elin antusias, Mera pun memperlihatkan foto itu. Hanin yg juga ada di sana ikut memperhatikan, mereka membandingkan foto Azhar dan Baby Habib.


"Mirip sih, seperti kembar ya dengan Pak Azhar" kata Hanin.


Nasha yg mendengar hal itu tersenyum, karena Nasha sendiri memang merasa bayi nya ini mirip sekali dengan suami nya.


"Oma mau gendong Baby Habib, boleh?" tanya Bu Anjana berbicara dengan cucu pertama nya itu. Nasha pun memberikan putra nya itu pada Oma nya.


"Masya Allah, kamu benar benar anugerah" kata nya.


"Aku hampir jantungan waktu dengar Nasha sudah melahirkan di rumah, padahal Dokter bilang perkiraan nya sekitar dua minggu lagi" sambung Bu Raya sambil membelai kepala cucu nya itu "Rambut nya sudah lebat ya"


"Iya, dulu rambut Nasha memang lebat juga" kata Bu Anjana yg lagi lagi membuat Nasha tersenyum.


"Dia memang mirip sekali dengan Azhar, Azhar dulu juga di lahirkan di tengah malam tapi di rumah sakit" kata Ummi Rifa.


"Iya, dulu istri ku melahirkan Azhar dengan operasi. Tapi Alhamdulillah Nasha termasuk gampang saat melahirkan Baby Habib, meskipun dia sempat pingsan sebentar tapi Allah masih menjaga kedua nya"


"Ingin rasa nya Papa menuntut Dokter yg salah perkiraan itu" tukas Pak Niranjan yg malah membuat Nasha dan Pak Surya tertawa, begitu juga dengan Elin.


"Om, Dokter itu cuma mendoagnosa dan melakukan perkiraan. Kalau salah ya wajar, kan Dokter juga manusia" jawab Elin.


"Iya, Pa. Masak iya harus sampai menuntut Dokter" sambung Nasha.


"Tapi kan bisa saja itu bahaya, Sha. Bukti nya kamu tiba tiba melahirkan, mana hujan lagi, tidak ada Dokter"


"Itu ada calon bidan, Ma" ujar Nasha sambil melirik Mera yg masih sibuk melihat album foto Azhar. Bu Anjana pun ikut melirik putri kedua nya itu dan ia menghela nafas panjang.


"Alhamdulillah juga sih, memang benar kata orang, semua ada hikmahnya. Kalau begini, biar aku masukan saja Mera ke sekolah kedokteran juga"


"Kan ada cucu kita, Pa" jawab Bu Anjana yg masih menimang cucu nya saat ini.


"Iya sih, sehat sehat ya, Nak. Biar jadi pewaris kakek"


"Sudahlah, Pa. Jangan bicarakan itu sekarang" kata Nasha sambil mengulurkan tangan nya pada Bu Anjana, meminta anak nya kembali. Bu Anjana pun memberikan nya dan Nasha langsung mengecup kening putra nya itu.


"Putra ku akan memutuskan sendiri dia akan jadi apa nanti, Pa, Ma. Aku harus mengajari nya, memberikan beberapa aturan tapi aku tidak akan mengekang nya selama dia berada di jalan yg benar. Hidup nya milik nya" kata Nasha sambil tersenyum.


Lagi lagi ia teringat dengan pesan suami nya, dimana Azhar berpesan supaya Nasha mengatur anak nya tapi bukan mengendalikan nya. Azhar juga menuliskan hal itu dalam jurnal nya. Nasha tentu akan mengikuti apa perintah suami nya itu, seperti ia yg di perintahkan untuk tidak menyetir sampai melahirkan.


"Tumbuh lah seperti ayah mu, Putra ku. Yg selalu lembut kepada siapa saja, berbakti pada orang tua, Sayang pada sesama dan yg pasti taat pada agama. Menjadi pria yg bertanggung jawab dan dewasa, memiliki kesabaran yg tiada batas dan memiliki hati yg lapang dan ikhlas. Karena seperti itu lah ayah mu, Nak"


.........


Nasha Sayang ku, seorang anak akan menjadi apa nanti itu tergantung dari bagaimana ibu nya merawat nya sejak dalam kandungan nya dan mendidik nya saat ia lahir.


Ajarilah ia hal hal yg baik, biasa kan lah dia dengan hal yg baik pula.


Jagalah penglihatan dan pendengaran nya agar tak melihat dan tak mendengar yg buruk.


Jaga lah apa yg ia konsumsi, pastikan halalan thayyiban.


Agar ia menjadi anak yg terjaga, sholeh sholehah, dan juga supaya memudahkan ilmu masuk dan meresap dalam jiwa nya.


Saat dia bisa berbicara, ajarilah dia mengucapkan hal yg baik, ajarilah dia membaca kitab suci.


Saat dia bisa berdiri dan berjalan, ajaklah dia sholat supaya ia belajar sholat.


Jika anak kita perempuan, ajarilah dia menjaga aurat nya sejak dini. Dan jaga lah dia agar tetap menjaga kehormatan dan martabat nya sebagai wanita muslimah.


Nasha Sayangku, maaf karena kamu harus melakukan hal hal itu tanpa aku di sisi mu.


Tapi aku ingin kamu tahu, kamu jauh lebih kuat dari yg kamu fikir, Sayang.


Aku percaya, kamu akan menjadi ibu terbaik untuk anak kita dan anak kita akan menjadi anak yang sholeh sholehah dan berbakti kepada mu.


Bersabarlah dalam merawat nya, Sayang. Didiklah ia sebaik mungkin, karena anak itu bisa menjadi investasi akhirat mu kelak.