
Ramos terdiam merenung di kamar mewah nya, ia merasa patah hati karena Nasha menolak nya mentah mentah. Apa yg kurang dari nya? Dia begitu sempurna dari segala aspek tapi Nasha masih menolak nya?
Ramos turun dari kamar nya dan ia mendapati Ruben yg sedang bersiap pergi kerumah sakit.
"Mau kemana, Ram?" tanya Ruben.
"Mau kerumah Mama, Pa" jawab Ramos malas.
"Kamu kenapa? Masih mikirin Nasha?" tanya Ruben dan Ramos tak menjawabnya yg membuat Ruben hanya hanya bisa menghela nafas panjang. Ia sangat menyayangi putra satu satu nya ini dan Ruben sangat ingin Ramos tinggal bersama nya di sisa usia nya "Sini, kita bicara dulu..."
Ruben duduk di sofa dan Ramos pun duduk di sofa yg lain, wajah Ramos tampak lesu.
"Kamu sangat mencintai Nasha?" tanya Ruben, sesaat Ramos terdiam dan seolah memikirkan jawaban itu "Kalau kamu memang sangat menginginkan Nasha, aku akan berusaha sebaik mungkin mendapatkan Nasha untuk kamu"
"Nasha itu sudah punya pacar, Pa"
"Baru pacar, Ram. Belum suami, kamu masih punya kesempatan" mendengar itu Ramos tampak memikirkan sesuatu, senyum samar tercetak di bibir nya.
"Iya, aku sangat menginginkan Nasha, Pa. Dia cantik, pintar, lembut. Dia akan menjadi pendamping ku yg sempurna"
"Baiklah, aku akan bicara lagi dengan Surya dan istrinya"
"Engga usah, Pa. Biar aku aja yg bicara sama mereka"
"Kamu yakin?"
"Iya" Ramos terlihat memantapkan niat nya itu dan Ruben mengangguk mengerti.
"Oke, apapun keputusan mu, aku dukung kamu!"
.........
Azhar memulai hari pertama nya sebagai Dosen. Ia sangat senang karena para mahasiswa nya menyambut Azhar dengan sangat baik. Walaupun awalnya ia sedikit merasa gugup, tapi Azhar bisa menguasai kelas dengan mudah. Penyampaian materi nya pun santai dan tentu itu membuat para mahasiswa nya semakin menyukai Azhar sebagai Dosen baru mereka.
Beda halnya dengan Nasha, yg lagi lagi ia harus menguap di kelas saat Dosen memberikan materi yg terasa membosankanpp. Tapi tiba tiba ia teringat dengan apa yg di katakan Azhar, bahwa Azhar akan sangat bangga jika punya istri hebat sebagai seorang Dokter.
"Aku harus tanya lagi ke Azhar tentang ini..." gumam Nasha sambil senyum senyum sendiri.
Setelah kelas nya usai, Elin mengajak Nasha pergi ke kantin karena perut nya yg sudah keroncongan sejak tadi.
"Emang kamu engga sarapan?" tanya Nasha sambil menyerudup jus jeruk yg baru saja sampai di meja nya.
"Engga, aku kesiangan tadi" ucap Elin. Kedua gadis itu pun memesan bakso.
"Eh, tau engga... Ada Dosen baru lho ganti nya Pak Yunus, nama nya Pak Azhar..." Nasha langsung menoleh pada asal suara itu, ia melihat ada sekelompok mahasiswi yg juga sedang menikmati makanan mereka.
"Oh, yang tadi itu, yg pakek kemeja putih?" tanya wanita yg lain.
"Iya, dia ganteng banget lho. Masih muda, masih 24 tahun..."
"Iya bener, penuh kharisma. Aduh, andai dia mengajar setiap hari, aku engga akan bosan malah akan semakin semangat"
"Semoga saja Pak Azhar masih jomblo..."
"Aamiin, oh ya siapa nama lengkapnya? Siapa tahu aku bisa stalking media sosial nya..."
"Azhar Ubaidillah..." wanita wanita itu langsung mendongak dan mendapati Nasha yg berdiri sambil berkacak pinggang, oh jangan lupakan wajah galak nya itu "Nama nya Azhar Ubaidillah..." lanjut Nasha sambil menatap penuh intimidasi para mahasiswa itu "Usia nya 24 tahun, lulusan S2 Kairo. Dia engga punya akun media sosial apapun, dan dia.... Sudah punya calon istri" tegas Nasha yg membuat para wanita itu meneguk ludah dengan susah payah saat Nasha begitu mengintimidasi mereka sambil memberi tahu bahwa Azhar sudah punya calon istri. Beda hal nya dengan Elin yg terkekeh geli melihat reaksi Nasha itu, seperti nya sahabat Elin itu benar benar sudah tergila gila pada Azhar.
"Emang nya kamu kenal dia, Sha?" tanya salah satu wanita itu.
"Kenal dong, kan calon istrinya aku..." ucap Nasha bangga. Dan bukannya percaya, para wanita itu malah tertawa geli.
"Ish, engga percaya lagi..." gerutu Nasha kesal.
"Ya kami engga akan percaya, Sha. Wong engga ada buktinya, dan masak iya kamu sudah mau menikah. Kamu aja belum genap 20 tahun. Pasti Pak Azhar menganggap kamu masih anak anak lah" seru salah satu dari mereka lagi yg membuat Nasha semakin cemberut.
"Iya, tadi aku liat Pak Azhar justru dekat sama mahasiswi nya, em namanya siapa? Anak di kelas bahasa Arba itu ? Yg sering pakek hijab panjang itu lho?"
"Hanin, iya... Nama nya Hanin" seru salah satu mereka dan hal itu menyalakan percikan api cemburu di hati Nasha "Nah, kalau Pak Azhar sama Hanin cocok, sama sama di bidang Bahasa Arab. Sholeh dan sholehah lagi..."
Oh, api cemburu di hati Nasha mulai berkobar. Ia langsung menarik ranselnya dan pergi dari sana dengan menghentakan kaki nya saking kesal nya.
"Sha, mau kemana? Bakso nya...." bahkan teriakan Elin yg sampai memenuhi kantin itu pun tidak di dengarkan oleh Nasha.
Tujuan Nasha hanya satu saat ini, melabrak Azhar. Belum apa apa Azhar sudah berani mendekati wanita lain, awas saja! Batin Nasha menggeram penuh emosi.
Nasha mencari Azhar ke ruangan Dosen, dan pria itu tak ada di sana. Ia pun bergegas menuju kelas Azhar dan benar saja, Azhar masih ada di kelas itu dan ia tampak sibuk dengan laptop nya.
"Azhar..." seru Nasha dengan suara nyaring nya, beberapa mahasiswa yg ada di kelas itu terkejut dan langsung menatap heran pada Nasha, begitu juga dengan Azhar.
"Kamu tega banget sih sama aku, baru tadi malam kamu bilang kita dewasa bersama dan sholeh sholehah bersama. Sekarang nyata nya apa?" seru Nasha dengan nada tinggi, Azhar hanya bisa melongo sebelum akhirnya ia sadar bahwa saat ini diri nya masih ada di kelas dan masih ada beberapa anak didik nya di sana.
Azhar pun berdiri dan berjalan menghampiri Nasha yg masih berdiri tegak di ambang pintu.
"Kamu bicara apa, Nasha?" tanya Azhar dengan lembut, bahkan terlalu lembut setelah di teriaki oleh Nasha di hari pertama nya menjadi Dosen dan di depan anak didik nya.
"Kamu deketin cewek lain..." lirih Nasha sambil menunduk sedih, Azhar mengerutkan dahi nya, bahkan kedua alis nya sampai menyatu, ia merasa heran dan sangat tidak mengerti apa maksud Nasha.
"Kita bicara di luar ya..." seru Azhar lagi dan masih dengan lembut. Nasha tak bergeming "Nasha, kita bicara di luar ya. Engga enak di sini..." ucap Azhar setengah berbisik dan akhir nya pun Nasha mengangguk.
Azhar membawa Nasha ke taman kampus, dimana meraka bisa bicara berdua dan tetap aman karena berada di tempat umum.
"Jadi, maksud kamu apa? Deketin cewek apa?" tanya Azhar masih mempertahankan kelembutan nya yg sebenarnya membuat emosi Nasha reda tapi jangan tanya kabar api cemburu nya. Sudah jelas masih berkobar...
"Katanya..." Nasha menatap Azhar "Kamu deketin mahasiswi kamu, nama nya Hanin. Terus karena aku belum genap 20 tahun, apa benar kamu anggap aku masih anak anak?" tanya Nasha lirih dan seketika Azhar tertawa geli
"Kata siapa?" tanya Azhar.
"Kata teman teman tadi di kantin..." jawab Nasha memberengut. Azhar menghela nafas panjang.
"Kamu itu engga berubah ya, selalu menyimpulkan semuanya sendiri" ujar Azhar masih tertawa kecil "Aku engga mungkin deketin cewek lain apa lagi mahasiswi aku, kan di hati aku sudah ada kamu. Nanti malam juga aku akan datang kerumah mu kan? Jadi engga mungkin aku melakukan hal yg tidak tidak..." ujar Azhar dan Nasha langsung mendongak, menatap Azhar penuh tanda tanya seolah ingin memastikan jawaban itu.
"Dan soal usia, aku engga mungkin anggap kamu masih anak anak meskipun sikap kamu kadang memang menggemaskan seperti anak anak" ujar Azhar lagi sambil terkekeh "Apa lagi saat tanpa fikir panjang, kamu meneriaki aku di hari pertama aku jadi Dosen dan itupun di depan mahasiswa ku"
"Maaf..." cicit Nasha dan ia langsung menunduk, merasa menyesali kebodohan nya.
"Engga apa apa, tapi lain kali jangan begitu ya. Kamu sendiri nanti ya malu. Kalau ada apa apa, kamu bisa tanya langsung sama aku dan kita bisa bicara baik baik. Aku janji engga akan bohong dan akan selalu jujur sama kamu" tutur Azhar masih dengan nada yg sangat lembut. Hal itu sekali lagi membuat hati Nasha menghangat dan ia semakin terbuai dengan pujaan hati nya ini. Dan yg bisa Nasha lakukan hanya mengangguk pelan "Ya udah, aku mau ke kelas lagi. Kamu masih ada kelas?"
"Masih..." jawab Nasha pelan.
"Okey, belajar yg bener ya. Biar ilmu nya nanti bermanfaat" ujar Azhar dan sekali lagi Nasha hanya mengangguk.
Azhar pun kembali ke kelas nya dan Nasha kembali ke kantin. Perut nya keroncongan dan ia teringat dengan bakso nya.
"Bakso, semoga engga keburu dingin apa lagi sampai di habisin Elin..."
▫️▫️▫️
Tbc....