
Pak Niranjan dan Azhar bergerak cepat untuk menangani kasus yg menjerat Nasha dan mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi, mereka menyewa seorang pengacara kondang bernama Sriwijaya Saputro.
Dan saat ini, Azhar beserta Pak Niranjan juga pengacara mereka sedang dalam perjalanan ke kantor polisi. Azhar sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya itu dan mengetahui keadaan nya.
Sesampainya di sana, seorang sipir polisi datang membawa Nasha menemui Azhar dan yg lain nyau.
Nasha langsung berlari memeluk Azhar dan ia kembali menangis sesegukan.
"Aku... takut di sini..." lirih Nasha dengan terbata bata. Ia memeluk Azhar dengan begitu erat.
"Jangan takut, Sayang. Aku janji akan mengeluarkan mu dari sini" ucap Azhar sembari melerai pelukan nya dan menghapus air mata Nasha dengan tangan nya "Aku di sini, kami semua sedang berusaha mengeluarkan mu" lanjut nya, meyakinkan Nasha dan menguatkan nya.
"Aku engga salah...." lirih Nasha lagi.
"Kami percaya, Nak..." sambung Pak Niranjan "Dan perkenalkan, ini pengacara mu. Nama nya Sriwijaya Saputro" lanjut Pak Niranjan lagi.
"Kami perlu tahu apa yg sebenarnya terjadi, Nasha" seru sang pengacara "Beri tahu kami semua nya, secara detail. Tanpa ada yg terlewat satu pun!" tegas nya.
Nasha melirik Azhar, dan Azhar langsung merengkuh tubuh istri nya itu.
"Jangan takut, Sayang. Katakan saja apa yg sebenarnya terjadi. Kenapa kamu bisa ada di rumah sakit dan sampai terjadi hal seperti ini..."
"Aku sedang memasak di rumah..." lirih Nasha sembari mengingat kejadian sebelum Ramos datang, saat Ramos datang dan mereka sempat berbicara. Nasha memberi tahu semua nya, ia punya daya ingat yg kuat. Nasha bahkan mengingat apa saja yg di katakan Ramos saat itu sampai akhirnya Nasha di bius.
Saat terbangun, Nasha sudah berada di ruangan yg serba putih dengan cahaya yang terang benderang. Nasha baru menyadari bahwa itu di rumah sakit saat malam hari.
Dan saat larut tengah malam, Nasha mendengar langkah kaki yg mendekat. Nasha tahu itu Ramos dan ia bersembunyi di balik pintu, berharap ia bisa menyerang Ramos diam diam dan melarikan diri. Namun ia hanya menggunakan tangan kosong nya untuk menyerang Ramos dan tentu itu tidak berarti apapun bagi Ramos.
"Azhar...." lirih Nasha kemudian setelah dengan susah payah menceritakan kejadian yg menakutkan itu "Dia.... mencoba melecehkan ku..." dan air mata Nasha kembali mengalir bebas tanpa bisa di bendung lagi, ia tak kuasa mengingat kejadian bagaimana Ramos menamparnya dan melecehkan nya, Azhar yg mendengar kata pelecehan itu langsung meradang, darah nya seperti naik ke ubun ubun. Ia mengepalkan tangan nya dan rahang nya mengeras, tatapan nya seolah akan membakar apapun yg ia lihat
"Aku hanya membela diri, dia juga menampar ku... Hikss.... Azhar" lirih Nasha dan Azhar langsung kembali memeluk istrinya, mata Azhar begitu memerah dan ia memeluk Nasha dengan begitu erat.
Pak Niranjan yg mendengar cerita Nasha tentu juga meradang.
"Aku tidak bermaksud melukai nya, Azhar..." Nasha kembali berkata lirih di pelukan Azhar, dada Azhar basah karena air mata sang istri.
"Tidak apa apa, Sayang" Azhar berkata dengan begitu dingin "Bahkan jika kamu membunuhnya untuk melindungi kesucian mu" ia menggeram tertahan dan Nasha kembali menangis sesegukan.
Azhar kembali melerai pelukan nya, menghapus air mata Nasha dan menatap tepat di kedua mata istrinya itu.
"Jangan takut, Nasha. Tidak perlu takut jika kamu tidak melakukan hal yg salah"
"Tapi seorang suster di sana bersaksi sebalik nya..." seru pengacara Sriwijaya.
"Dia berbohong..." tukas Nasha
"Azhar, lihat baju ini... Ini bukan baju ku" seru Nasha dan Azhar pun memperhatikan nya, dan ia sangat mengenal betul setiap lembar pakaian istrinya itu.
"Dimana Pakaian mu, Sayang?" tanya Azhar.
"Robek?" pekik Azhar dan Nasha mengangguk "Bajingan itu...." geram Azhar dan Nasha hanya bisa mengangguk lemah.
"Itu bisa jadi bukti yg kuat, Nasha..." seru Pak pengacara.
"Orang orang percaya kamu menyerang Ramos bukan untuk membela diri, karena kamu terlihat baik baik saja"
"Aku tidak baik baik saja..."seru Nasha "Lihat ini, bekas tamparan nya bahkan masih ada" Nasha menunujuk pipi nya dan pipi nya itu memang masih sedikit memerah yg berarti tamparan Ramos begitu keras, Azhar memperhatikan pipi istrinya itu dan membelai nya dengan hati yg semakin terluka.
"Dia harus membayar semua ini..." desis Azhar.
"Dan bekas tamparan ini bisa hilang, tapi aku tetap tidak baik baik saja" seru Nasha lagi dan ia menatap tajam sang pak pengacara "Bagaiamana dengan luka di sini, di hati ku? bagaimana dengan harga diri ku? bagaimana dengan tergoncang nya jiwa ku? Bagaimana dengan perasaan hancur suami dan keluarga ku? Itu tidak akan pernah baik baik saja" Nasha melontarkan pertanyaan beruntun itu dan masih mempertahankan tatapan nya pada sang pengacara, membuat pengacara itu hanya bisa menelan ludah nya. Nasha tak hanya terlihat sedih dan terluka namun ia juga terlihat marah.
Azhar mengusap punggung dan pundak Nasha, menguatkan nya.
"Sabar lah, Sayang. Allah itu Adil, sangat adil" tegas Azhar dan Nasha hanya mengangguk.
"Kamu akan pergi?" tanya Nasha kemudian dan ia kembali terlihat lemah.
"Aku tidak pergi, Sayang. Aku hanya akan mengumpulkan bukti dan mengeluarkan mu dari sini. Tunggulah di sini sebentar saja" pinta Azhar dan akhir nya air mata itu pun lolos begitu saja dari pelupuk mata nya.
"Tapi aku takut di sini..." lirih Nasha dengan suara bergetar.
"Allah yg melindungi mu, jadi jangan takut, hm..." Azhar mengusap kepala Nasha dengan sayang.
.........
Ummi Rifa dan Abi Fadlan saat ini hanya bisa berdiam diri sembari terus berdoa, berharap menantu kesayangan mereka mendapatkan keadilan dan sang penjahat mendapatkan penghakiman yg adil.
Ummi Rifa bahkan terus menangisi nasib malang menantu nya sampai mata nya bengkak.
Kabar Nasha itu kini sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri, teman teman kampus nya juga tahu bahkan juga Elin. Dan Elin tentu saja tidak percaya begitu saja dengan berita yg menyebar itu.
Bahkan di sekolah Mera dan Harry berita itu hangat di perbincangkan karena yg Nasha lukai adalah orang yg punya status sosial.
Surya dan istri nya pun tak kalah terkejut nya dan mereka mencari tahu apa yg terjadi dengan menemui Ruben. Namun di depan mereka, Ruben masih membenarkan putra nya dan menyalahkan Nasha. Surya dan Raya tidak tahu harus mempercayai siapa.
"Tapi sejauh aku mengenal Nasha, dia bukan orang seperti itu" ujar Surya yakin yg membuat Ruben menggeram kesal.
"Jadi menurut mu ini salah Ramos?" seru Ruben.
"Nasha tidak pernah menyakiti orang yg sudah menyakiti nya, kecuali.... Kecuali itu di perlukan atau dia sangat terdesak" ujar Surya melirik tajam Ruben.
"Jadi menurut mu Ramos menyakiti Nasha sampai membuat dia sangat terdesak?" Ruben bahkan sudah meninggikan suara nya.
"Sudah sudah..." seru Raya menengahi.
"Kita lihat saja di pengadilan nanti, apakah Nasha bersalah atau tidak"