
Jam menunjukan pukul 8 malam, sejak tadi siang Azhar belum makan apapun dan ia hanya minum air beberapa kali.
Tanpa Nasha di sisi nya membuat Azhar seperti raga tanpa jiwa, tak ada yg harus ia bimbing dalam membaca Al Qur'an. Tak ada yg merengek ini itu, tak ada yg mengganggu dan menggoda Azhar. Tak ada yg curhat pada Azhar mengenai ini itu seperti yg selalu Nasha lakukan, Nasha bahkan curhat karena merasa kesal dengan pelanggan toko Ummi nya yg kata nya mau beli roti tapi di cancel, padahal sudah Nasha bungkus. Dan Azhar akan meminta Nasha bersabar kemudian menghibur nya.
Setelah sholat Isya, Azhar merebahkan diri nya di atas sejadah. Ia merasa hampa tanpa Nasha di pelukan nya, tak terasa air mata Azhar mengalir dengan begitu deras nya. Membuat sejadah di bawah nya basah karena air mata Azhar.
"Ya Allah, Nasha ku, Ya Allah..." rintih Azhar mengadu dengan perasaan yg begitu terluka. Rintihan nya bergetar, ia menggenggam tasbih di tangan nya dengan begitu erat, menahan perasaan yang begitu menyesakkan "Engkau Maha tahu dan Engkau Maha adil, hamba Mu yg lemah dan tak berdaya ini memohon keadilan Mu, Ya Rabb..."
Azhar tak bisa membayangkan bagaimana Nasha di sel tahanan sekarang, sendirian. Nasha pasti sangat sedih dan ketakutan, apakah Nasha bisa tidur? Apakah Nasha sudah makan? Pertanyaan pertanyaan itu membuat hati Azhar semakin sesak dan ia pun kembali memutar tasbih nya, bibir nya terus menggumamkan dzikir dan hati nya terus memohon supaya Rabb nya mengasihani diri nya dan istrinya.
Di sisi lain, Nasha hanya bisa berbaring dengan air mata yang tak ada henti nya mengalir. Ia hanya bisa berdoa dan berharap suaminya bisa segera mengeluarkan ia dari tempat mengerikan ini. Nasha sangat berharap, di malam berikutnya ia bisa kembali tidur dalam pelukan suami nya.
Karena tak bisa tidur, Nasha menghamparkan sejadah yg di bawakan Azhar untuk nya beserta mukena nya lengkap dengan tasbih dan Al Qur'an nya. Nasha memilih melaksanakan sholat dua rakaat dan kemudian ia pun berdoa dengan derai air mata yg tiada henti.
"Hamba memohon, Ya Rabb..." ia memohon dengan begitu lirih, matanya sudah begitu bengkak akibat tangis nya. Ia mengangkat tangan nya yg bergetar ke langit "Azhar bilang, Engkau berfirman dalam Al Qur'an. Jika hamba mu mencari Mu maka sesungguhnya Engkau begitu dekat, dan sekarang Hamba mu yg tak berdaya ini membutuhkan Mu, Ya Rabb. Azhar juga bilang, Engkau Berfirman, bahwa Engkau akan mengabulkan doa Hamba mu yg berdoa. Dan sekarang, Hamba benar benar memohon, tunjukan lah keadilan Mu untuk sahaya lemah mu ini. Engkau Maha tahu yg mana yg benar dan yg mana yg tidak, Hamba sangat memohon kepada Mu"
Seorang sipir penjara tak sengaja mendengar suara lirih Nasha dalam berdoa, ia mendekat dan memperhatikan Nasha yg berdoa dengan begitu khusyuk.
"Oh Tuhan, benarkah dia melukai seseorang tanpa alasan?" sipir itu bertanya tanya sendiri, melihat Nasha seperti ini, ia merasa tidak mungkin Nasha melukai seseorang tanpa alasan. Air mata Nasha, katakutan Nasha, dan juga amarah Nasha saat di introgasi mengenai insiden itu. Mengingat semua itu, sipir itu merasa apa yg di katakan Nasha benar. Ia hanya membela diri.
Setelah berdoa, Nasha merebahkan diri nya di atas sejadah. Ia meringkuk menyamping, mukena dan sejadah nya basah karena air mata nya.
....... ...
Nasha masih meringkuk di pojok sel tahanan, menahan rasa dingin yg menerapa tubuhnya dan menahan rasa sesak, sakit dan takut yg masih melingkupi hati nya. Hingga seorang sipir penjara memanggil nya yg membuat Nasha langsung bangkit berdiri.
"Ada yg ingin bertemu dengan mu" seru sipir itu kemudian ia membuka pintu cell dan menuntun Nasha untuk mengikuti nya.
Saat di ruang pertemuan, Nasha langsung meneteskan air mata nya melihat orang orang yg dia sayangi ada di sana. Suami, adik, sahabat dan kedua mertua tercinta nya.
"Nasha..." seru Elin dan ia langsung memeluk Nasha, Nasha pun tak kuasa menahan isak tangis nya di pelukan sahabat nya.
"Kamu udah engga marah?" tanya Nasha dengan suara serak. Elin pun melerai pelukan nya dan ia langsung memukul pelan pipi Nasha.
"Masih marah lah, karena kamu salah menyerang target. Kamu itu calon Dokter, tahu kan di bagian mana yg harus di sayat untuk mengakhiri hidup pasien dalam beberapa detik..." goda Elin yg malah berhasil membuat Nasha tertawa kecil.
"Ya, itu masuk akal. Kamu yg memegang senjata, tapi sebentar lagi pasti akan terungkap kenapa kamu harus memegang nya" hibur Elin dan Nasha tersenyum geli.
"Kak..." kini Harry yg langsung memeluk Nasha "Elin benar, Kak. Seharusnya kakak bunuh saja dia" seru Harry marah.
"Shhttt, jangan seperti itu, Har..." lirih Nasha dan kini ia menatap Azhar, menatap nya penuh rindu. Begitu juga dengan Azhar.
Harry melepaskan pelukan nya dan kini Nasha langsung berhambur ke pelukan Azhar, di pelukan Azhar Nasha kembali memperlihatkan keterpurukan dan ketakutan nya. Ia kembali menangis sedih. Azhar mendekap Nasha dengan begitu erat, mengusap punggung nya untuk menenangkan Nasha.
"Bawa aku keluar dari sini, Azhar. Aku mohon..." rengek Nasha "Tadi malam aku tidak bisa tidur, aku sangat takut" Nasha berkata dengan suara yang bergetar.
"Tenanglah, Sayang. Kami semua sedang berusaha mengeluarkan mu dari sini" bujuk Azhar "Kamu yg sabar dulu ya, Allah tidak akan membiarkan ketidak adilan terjadi pada mu, Insya Allah" hibur Azhar sembari mengusap air mata Nasha.
"Kami membawakan makanan, pakaian dan selimut untuk mu, Nak" seru Ummi Rifa sembari mengusap pundak Nasha "Kamu makan ya, biar engga sakit"
Nasha hanya mengangguk lemah dan berusaha berhenti menangis.
"Jangan sedih, kamu tidak sendirian" Abi Fadlan berkata sembari mengusap kepala menantu nya itu "Kamu wanita yang kuat, bukan?" tanya nya dan Nasha mengangguk sembari memaksakan diri nya tersenyum.
.........
Bu Anjana sangat tidak percaya dengan kabar yg beredar tentang Nasha, begitu juga dengan Hanin. Meskipun Hanin tidak begitu mengenal Nasha, tapi Hanin yakin istri dosen nya itu tidak mungkin melakukan hal sedemikian rupa.
"Aku ingin sekali tahu, apakah Nasha benar benar putri ku atau bukan" seru Bu Anjana.
"Tapi tidak bisa melakukan tes DNA di saat seperti ini, Ma. Nasha dan keluarga nya sedang tertimpa musibah" seru Hanin.
"Iya, Mama tahu, Hanin. Mama cuma bisa berharap Nasha itu benar benar putri Mama, Nin. Tadi malam Mama tidak bisa tidur, terus memikirkan Nasha. Mama seolah bisa merasakan apa yg Nasha rasakan di sel. Kasihan sekali dia, apa menurutmu Nasha bisa melakukan hal buruk?"
"Setahu ku tidak mungkin, Ma. Apa lagi dia istrinya Pak Azhar, Pak Azhar itu pria yg sangat sholeh dam aku sangat yakin dia pasti membimbing Nasha menjadi wanita sholehah juga" jawab Hanin dan Bu Anjana pun mengangguk mengerti.
"Besok kita jenguk Nasha ya, Nin. Mau ikut?"
"Iya, Ma. Sekalian ajak Mera, soalnya tadi aku sempat dengar Mera telponan sama Harry. Dia tampak nya juga mengkhawatirkan Nasha" jawab Hanin yg membuat ibu nya mengerutkan kening nya, merasa tak percaya jika Mera khawatir pada Nasha yg ia anggap musuh bebuyutan.