
Nasha dan Ummi Rifa menjaga Abi Fadlan yg masih belum juga di rumah sakit, namun Dokter mengatakan kondisi nya sudah stabil.
Beberapa hari mereka lalui dengan belajar apa itu sabar dan ikhlas yg sesungguhnya, ketika takdir tak sesuai dengan apa yg mereka harapkan, ketika harapan mereka kandas begitu saja, ketika rencana mereka yg begitu indah juga hanya tinggal kenangan. Namun mereka harus, yg kandas hanya harapan mereka, bukan kehidupan mereka. Yg gagal hanya rencana mereka, bukan kehidupan mereka.
Kedua wanita itu saling menguatkan satu sama lain, saling memberi dukungan dan tak jarang kedua nya saling berbagi kata kata penyemangat. Apa lagi ketika Abi Fadlan mulai sadar, kedua wanita itu bahwa mereka tidak bisa memperlihatkan kelemahan mereka di depan Abi nya Azhar, yg bahkan tak punya kesempatan untuk mengantar putra nya pulang ke rumah sejati nya.
Hari berganti minggu, dan seiring nya waktu berjalan, perlahan Nasha dan Ummi Rifa dan juga Abi Fadlan mulai menata hati mereka, apa lagi masih ada Abi Fadlan yg Nasha dan Ummi Rifa harus jaga kesehatan nya dan juga ada calon anak Nasha dan Azhar yg harus mereka pastikan perkembangan nya tumbuh dengan baik.
Setelah hampir tiga minggu di rawat, Abi Fadlan akhir nya di perbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan di rumah, tentu dengan berbagai hal yg harus dan tak boleh mereka lakukan. Seperti membuat Abi Fadlan tertekan.
Nasha juga berusaha kembali pada aktifitas nya seperti mula walaupun awal nya terasa begitu sulit, apa lagi semua hal seolah mengingatkan ia pada Azhar.
Nasha juga tidak menyetir dan tidak Akan menyetir sampai ia melahirkan, karena itu adalah perintah suami nya.
Alhasil, setiap kali Nasha ingin pergi, maka dia akan memanggil adik bungsu nya, Mera. Walaupun sebenarnya Nasha mampu mempekerjakan sopir apa lagi orang tua angkat nya dan orang tua kandung nya juga menawarkan hal yg sama, mereka berebut untuk membiayai hidup Nasha dan calon anak Nasha. Namun Nasha menolak nya dengan halus, karena apa yg di tinggalkan Azhar sudah lebih cukup untuk nya dan calon anak nya.
Kedua keluarga Nasha juga ingin Nasha tinggal bersama mereka, namun sekali lagi Nasha menolak, ia bahkan sudah memutuskan tidak akan pernah keluar dari rumah mertua nya itu, karena disanalah ia merasakan sebuah keluarga yg selalu ia impikan selama ini.
Disanalah ia belajar banyak tentang kehidupan dan sebagai nya.
Apa lagi usaha Abi nya yg dulu hanya sebuah toko, kini merangkap akan menjadi sebuah perusahaan dan itu semua rencana dan sudah di persiapkan oleh Azhar.
Alasan Nasha meminta Mera menemani nya tentu supaya adik gadis nya itu tidak keluyuran kemana mana, dan rupa nya rencana itu berhasil. Apa lagi sejak kematian Azhar, Mera jauh lebih sopan dan bersikap lebih lembut pada Nasha.
...
Tak terasa, kini kandungan Nasha sudah memasuki usia 4 bulan. Azhar meminta Nasha melakukan acara 4 bulanan dan Nasha memenuhi permintaan suami nya itu.
Kini di rumah Nasha sudah ramai orang yg akan menghadiri acara tasaykuran 4 bulanan nya, semua nya Nasha undang. Teman teman Azhar dan juga guru Azhar yg bagi Azhar berpengaruh sangat penting dalam hidup nya juga hadir.
"Kamu semenjak hamil semakin cantik ya..."
"Tante Asma bisa saja" kata Nasha sambil tersenyum.
"Tapi memang benar, wajah mu seperti bercahaya. Kira kira anak mu laki laki atau perempuan"
"Aku tidak tahu, Tante. Tapi aku berdoa supaya di karunia anak laki laki" kata Nasha sambil terbayang apa yg pernah di katakan Azhar "Apa lagi mendiang suami ku juga ingin anak laki laki"
Azhar ingin anak laki laki, supaya kelak bisa menjaga ibu nya, tentu Azhar ingin hal itu karena ia tahu ia takkan bisa menjaga ibu dari anak nya.
"Aamiin, semua ayah seperti nya ingin anak pertama nya laki laki' kata Tante Asma nya itu sambil melirik suami nya yg saat ini sedang mengobrol dengan Abi Fadlan.
Semnejaka jatuh sakit karena kematian Azhar, Abi Fadlan berubah total, ia menjadi lebih pendiam, lebih kurus, Nasha mengerti bahwa ayah mertua nya itu pasti sangat terpukul, keadaan Ummi Rifa tak jauh berbeda, namun Ummi Rifa tentu lebih lapang dada, karena ia memikirkan suami nya yg juga sakit sehingga memaksa ia untuk tetap semangat melangkah.
"Apa Om Bilal juga begitu?" tanya Nasha kemudian.
"Iya, pas hamil pertama kali, kata nya anak laki laki atau perempuan sama saja. Tapi pas hamil kedua, setiap malam minta anak lelaki, padahal aku ingin nya anak perempuan" kata tante Asma nya lagi.
"Memang nya kenapa Tante ingin anak perempuan?" tanya Nasha penasaran.
"Karena supaya bisa bantuin tante beresin rumah" jawab tante Asma yg membuat Nasha langsung tertawa.
"Tante ada ada saja" kata Nasha di tengah gelak tawa nya.
"Aku juga berharap ini yg lahir anak perempaun" kata Maryam menyambung obrolan mereka.
"Tapi suami mu ingin anak laki laki" kata Tante Asma.
"Masak sih, Ummi?" tanya Maryam yg membuat Nasha kembali tertawa.
"Iya, tanya saja sendiri. Kata nya supaya bisa melanjutkan perusahaan nya"
"Anak perempuan juga bisa melanjutkan perusahaan" sambung Nasha.
"Anak perempuan nya nanti kata nya, soal nya menantu ku itu ingin punya anak banyak" kata Tante Asma yg lagi lagi membuat Nasha tertawa.
"Andai kamu di sini, Sayang. Menyaksikan semua kebahagiaan ini, semua orang bahagia dan mendoakan anak kita. Apa kabar kamu di sana? aku harap kamu di sana jauh lebih bahagia"
acara tasyakuran 4 bulanan Nasha berjalan dengan lancar, kini ia jauh terlihat lebih baik dari pada beberapa bulan sebelum nya.
Kedua ibu Nasha dan juga mertua nya juga selalu mendampingi Nasha, begitu juga saudara dan sahabat nya.
"Sha..." bisik Elin pada sahabat nya itu.
"hm" Nasha hanya merespon dengan gumaman.
"Liat tuh..." mata Elin melirik seorang lelaki yg berada di samping Harry.
"Kenapa dia? dia teman nya Harry" kata Nasha.
"Naksir" kata Elin sambil cengengesan yg membuat Nasha langsung mengetuk kepala nya.
"Dia lebih muda dari kamu, Lin. Gila saja kamu ini" kata Nasha.
"Kak Nasha..." kini Mera yg berbisik pada nya.
"hmmmm"
"Kak aku sama Harry sudah..."
"Sudah apa?" tanya Nasha panik bahkan ia langsung memelototi Mera, membuat Hanin dan Elin tertawa cekikikan apa lagi saat melihat raut wajah Mera yg tampak shock
"Sudah memutuskan untuk menjalin hubungan yg lebih serius" jawab Mera lirih.
"Kamu kan masih kecil, Mer' kata Nasha
" Sudah dewasa" jawab Mera kemudian ia melirik Mama nya dan Mama nya Harry "Kak Nasha Tolong in bilangin sama para Mama ya"
"Engga mau" kata Nasha yg langsung membuat Mera memberengut.
"Dari pada kami kawin lari..."
"Astagfirullah" pekik Nasha yg kembali membuat Mera cengengesan