
Di pagi hari nya, seperti janji Azhar ia segera menemui Nasha.
Sekali lagi, bati Azhar terkesiap melihat wajah Nasha yg begitu sembab.
"Hari ini kita pergi belanja ya..." ujar Azhar lembut.
"Belanja apa?" tanya Nasha berusaha menyunggingkan senyum nya.
"Apa yg kamu butuhkan, pakaian, sabun, dan sebagainya" jawab Azhar lagi. Ia juga berusaha terlihat tenang dan berusaha menyunggingkan senyum, padahal semalaman ia juga tidak bisa tidur.
"Iya" jawab Nasha pada akhirnya.
"Kita tunggu Ummi dulu..." ujar Azhar lagi dan Nasha hanya mengangguk.
Setelah Ummi Rifa datang, mereka bertiga berangkat untuk berbelanja beberapa keperluan Nasha dan juga terutama pakaian untuk akad nanti malam.
Mereka sampai di pusat berbelanjaan, Azhar membawa Nasha dan Ummi nya memasuki sebuah butik.
"Kamu beli aja apa yg perlu kamu beli, Nasha" ujar Azhar dan Nasha kembali mengangguk.
Ia memang tidak punya apapun saat ini, ia bahkan tidak membawa satu lembar pun pakaian nya dari rumah nya.
Nasha melihat sebuah gamis sederhana namun bahan premium, harga nya cukup mahal. Nasha meninggalkan gamis itu dan mencari yg lain, yg sedikit lebih murah. Nasha malu jika harus membeli barang mahal dari uang Azhar, atau mungkin dari uang orang tua Azhar.
"Ini bagus lho..." ujar Ummi Rifa mengabaikan gamis yg tadi sempat Nasha lihat "Cocok buat kamu, sederhana tapi elegan"
"Jangan, Ummi... Yg ini saja..." Nasha menunjuk gamis yg lebih murah, Ummi Rifa melihat gamis itu dan memeriksa kain nya.
"Lebih bagus yg tadi kain nya, Sha"
"Tapi, Ummi..."
"Mahal dikit engga apa apa lah, yg penting nyaman di pakai" ujar Ummi Rifa dan ia mengambil gamis yg tadi "Ini bukan tentang harga atau merk, tapi tentang kenyamanan" lanjut nya sambil memilih beberapa gamis yg kualitas premium "Ayo, coba semua nya. Kalau cocok semua, ambil aja"
"Jangan, Nasha cuma butuh beberapa lembar saja" jawab Nasha sungkan.
"Ini kan memang beberapa lembar" ujar Ummi Rifa sambil mendorong Nasha masuk ke ruang ganti.
Sementara Azhar yg melihat itu hanya tersenyum samar sambil geleng geleng kepala, mereka memang berasal dari kelas menengah. Tapi mereka tidak pelit untuk kenyamanan hidup dan mereka sangat bersyukur karena masih sangat mampu untuk membuat hidup mereka terasa nyaman.
"Bagaiamana? Ada yg cocok atau cocok semua?" tanya Ummi Rifa dari luar ruang ganti.
"Iya, sudah..." jawab Nasha dan ia keluar "Nasha ambil ini saja...".
"Loh, cuma tiga lembar? Sha, terus kalau nanti baju mu masih basah, atau belum di setrika, atau robek, memang nya kamu mau pinjam baju Ummi apa?" gurau Ummi Rifa yg membuatmu Nasha cengengesan.
"Ambil saja semua nya asal ukuran nya pas" ujar Azhar.
"Tapi, Azhar..."
"Engga ada waktu berdebat, Habibti. Setelah ini kita cari pakaian untuk akad nanti malam dan cari cincin pernikahan" seru Azhar yg membuat Nasha tersenyum manis.
"Maaf ya, ini dadakan dan semua nya malah harus di selesaikan dalam satu hari" seru Azhar dan ia tampak merasa bersalah.
"Engga apa apa, aku senang. Setidak nya dalam satu hari aku mendapatkan keluarga kali" jawab Nasha dengan suara lirih. Mata nya kembali berkaca kaca dan Nasha mengedipkan mata nya berkali kali. Guna menahan air mata yg akan tumpah.
"Okey, jadi sekarang kita bayar ini dan cari kebaya. Adegan romantis nya nanti malam saja ya..." goda Ummi Rifa yg membuat Nasha tersenyum malu malu.
Setelah membayar, mereka memasuki butik yg lain dan mencari kebaya serta kemeja untuk Azhar.
Nasha tidak terlalu pilih pilih, ia mengambil kebaya warna putih dengan bordiran yg indah. Simple namun elegan. Begitu juga dengan Azhar, ia tak terlalu memikirkan banyak nya pilihan jas.
Setelah itu, mereka ke toko perhiasan.
"Mbak, saya mencari cincin pernikahan" ujar Azhar pada pegawai nya.
"Oh ya, bagian sini, Pak..." jawab pegawai itu dan menunjukkan beberapa cincin pernikahan yg cantik cantik.
"Nasha, kamu mau yg mana?" tanya Azhar.
"Yg mana saja..." jawab Nasha karena ia takut salah memilih dalam hal harga.
"Tolong tunjukan yg paling bagus..." ujar Ummi Rifa.
"Saya rekomendasikan ini, Pak..." pegawai itu menunujukan sebuah cincin dengan ukiran yang indah nan unik, cincin itu sangat cantik dengan permata berbentuk hati.
"Ya, ini sangat cantik..." ucap Azhar, sementara Nasha malah sibuk memikirkan harga nya. Karena terlihat sekali kalau cincin itu pasti sangat tidak murah "Coba dulu..." seru Azhar.
"Tapi, Azhar... Apa kita engga cari yg lain?" tanya Nasha.
"Engga ada waktu untuk mencari yg lain, memang nya kamu engga suka yg ini?"
"Ini.... Ini terlalu mahal" jawab Nasha setengah berbisik.
"Murah kok..." jawab Azhar dengan tenang "Semua akan terasa murah jika untuk orang yg kita cintai. Kamu tahu kenapa? Karena cinta sendiri tidak ternilai..." jawab Azhar dengan suara rendah.
"Ambil ini ya..." Ujar Ummi Rifa "Oh ya, habis ini aku sama Nasha mau pergi cari pakaian dalam. Kamu tunggu aja di mobil..." seru nya pada Azhar dan Azhar hanya mengangguk.
.........
Raya duduk termenung di kamar nya sambil memperhatikan foto dua putri nya. Kenapa semua putri nya harus pergi? Raya tahu dia salah karena tidak memperhatikan Laura, tapi Nasha? Raya sudah sangat menjaga Nasha dan memperhatikan nya. Tapi anak angkat nya itu tetap saja pergi meninggalkan Raya.
"Ma..." Surya datang membawa makanan untuk istri nya itu "Makan dulu ya, biar engga sakit"
"Nasha benar benar tega, tidak tahu berterimakasih..." geram Raya secara tiba-tiba "Berani berani nya dia meninggalkan ku hanya demi seorang pria, apakah dia lebih mencintai pria itu dari pada ibu nya?"
"Ma, sudah... Jangan begini terus, lagi pula Nasha tidak pernah pergi. Mama yg mengusir dia..."
"Bagaiamana mungkin aku tidak mengusir anak tidak tahu di untung itu? Dia pantas mendapatkan semua itu...." seru Raya penuh amarah, namun di detik selanjutnya ia malah menangis tersedu sedu "Kenapa semua orang meninggalkan ku? Kenapa anak anak ku meninggalkan ku? Aku sudah berusaha melakukan yg terbaik, tapi dia begitu tega... Hanya demi seorang pria..."
Raya bahkan menangis meraung, ini tampak sangat stress dan mulai hilang kendali. Surya berusaha menenangkannya tapi Raya malah terus memberontak dan semakin meraung, hingga terpaksa Surya menyuntik nya dengan obat penenang.
Sementara Harry yg mengintip dari balik pintu hanya bisa menangis dalam diam, ia juga tidak tega melihat keadaan Mama nya. Tapi Harry juga tidak mau Nasha bernasib sama seperti Laura, Harry tidak mau Nasha menjadi boneka Mama nya.
"Maafin Harry, Ma... Harry cuma bisa berharap Mama sadar, sadar bahwa apa yg Mama lakukan itu salah. Mama tidak mencintai Kak Nasha, itu obsesi, Ma"
▫️▫️▫️
Tbc....