
Azhar kembali menemui Ramos namun kali ini bukan di rumah nya melainkan di rumah sakit. Sementara Ramos yg melihat kedatangan Azhar malah menyambut nya dengan senyum miring dan ia tampak tenang.
"Soal Nasha lagi?" tanya Ramos dengan tenang nya yg membuat Azhar merasa geram.
"Iya, dulu kamu membuat nya tidak nyaman dan sekarang kamu membuat nya merasa takut. Ini peringatan terkahir ku, jika sekali lagi kau menyakiti nya, aku janji akan membuat mu menyesal" tegas Azhar namun malah di tanggapi dengan senyum sinis oleh Ramos.
"Kau seorang Ustadz, bukan? Aku tidak menyangka kau bisa mengancam juga" ujar nya santai dan ia masih menyunggingkan senyum miring nya.
"Selain Ustadz, aku juga seorang suami yg sangat mencintai istri nya" tegas Azhar dan kemudian ia meninggalkan Ramos.
Ia berjalan di lorong rumah sakit menuju parkiran, dan disana ia bertemu dengan Surya. Azhar pun hanya melirik nya sekilas dan kemudian ia pun bergegas pergi. Saat ini Azhar merasa begitu marah karena ia bisa merasakan ada sesuatu yg aneh pada Ramos, tatapan nya, senyum nya, dan sikap dingin nya.
"Ya Allah, jauhkan lah kami dari orang yg tidak baik" Azhar berdoa dengan tulus.
Sementara di ruangan nya, raut wajah Ramos malah berubah menjadi datar dengan tatapan yg tajam. Ruben datang dan menemui putra nya itu.
"Azhar menemui mu?" tanya Ruben.
"Ya, memperingatkan dan mengancam" jawab Ramos santai.
"Jauhi Nasha, Ram. Dia sudah bersuami dan dia sudah bahagia dengan kehidupan nya sekarang" tegas ayah nya, sekali lagi Ramos malah menyunggingkan senyum yg malah tampak misterius namun ia mengangguk.
"Aku pergi dulu, Pa. Aku ada urusan" ucap nya dingin.
Ruben menghubungi mantan istri nya guna membicarakan Ramos yg semakin hari semakin bertindak aneh sejak pertunangan nya dan Nasha batal.
"Aku khawatir dengan Ramos, dia sangat jarang menginginkan sesuatu. Tapi ketika dia memiliki keinginan, terkadang dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nya" tukas Ruben merasa khawatir dengan tingkah putra nya.
"Aku pun juga takut, dia dingin dan ambisius. Semua ini salah kita, dia merasa tidak puas dengan kehidupan nya karena perceraian kita"
Terdengar jawaban sedih Jessica dari seberang telpon "Apa tidak sebaik nya dia kembali ke Singapore dan tinggal di sini?"
"Tidak akan mau dia, saat aku mengatakan akan menikahkan nya dengan Nasha. Keputusan nya sudah sangat bulat dia akan tinggal di Indonesia" jawab Ruben, merasa menyesal karena sudah memberikan janji yg tak pasti
.........
Raya yg sedang sibuk mengurus butik nya tiba tiba kedatangan tamu yg tidak di undang. Tamu nya itu adalah sepasang suami istri sosialita yg bahkan Raya sendiri mengagumi nya walaupun tak mengenal nya.
Tamu nya itu memperkenalkan diri sebagai orang tua Mera, teman Harry. Yg membuat Raya sangat terkejut karena Harry tidak pernah bercerita bahwa ia berteman dengan putri seorang konglomerat .
"Aku harap kedatangan kami tidak mengganggu" ujar Bu Anjana.
"Sebenarnya ada yg ingin kami bicarakan, ini sangat penting" sambung Pak Niranjan.
"Kenapa? Apakah ini tentang Harry dan Mera?" tanya Raya antusias, berfikir Harry mungkin ada hubungan serius dengan Mera. Tentu itu akan sangat menguntungkan Raya dan keluarga nya.
"Bukan, ini tentang Nasha" jawab Anjana yg membuat Raya semakin terkejut.
"Nasha? Kalian mengenal anak angkat ku?" tanya Raya dan kedua orang tua Mera itu mengangguk.
"Kami ingin tahu identitas Nasha, dari panti asuhan mana Bu raya mengadopsi nya. Karena Nasha memiliki liontin milik putri kami yg pernah di titipkan ke panti asuhan di Panti Kasih Bunda, Bandung" tutur Anjana panjang lebar yg membuat raya semakin tercengang dan bingung.
"Aku mengadopsi nya di panti Pelita Harapan, di Jakarta" jawab Raya sembari menatap sepasang suami istri ini bergantian "Dan Liontin itu memang milik nya, sudah ada pada nya sejak ia kecil" jawab raya yg langsung membuat Anjana meneteskan air mata haru nya.
"Itu arti nya di putri ku" lirih nya dengan suara tercekat "Pa, putri kita...." ia berkata pada suami nya penuh haru.
"Tapi kita menitipkan nya di panti Bandung, kenapa bisa ada di Jakarta?" tanya Pak Niranjan "Mungkin ini salah, Ma. Mungkin liontin itu...."
"Papa itu kenapa sih?" bentak Anjana karena suami nya seolah menolak percaya bahwa Nasha adalah putri mereka "Kalau papa tidak percaya, sebaik nya kita tes DNA" tukas nya.
Sementara Raya yg mendengar hal itu malah tampak kebingungan dan berusaha mencerna apa yg sebenar nya terjadi.
Namun saat ia memikirkan sebuah kemungkinan, ia pun melotot terkejut.
"Jadi maksud kalian Nasha itu anak kalian?" pekik Raya tak percaya.
"Kemungkinan nya sangat besar dia adalah putri kami" jawab Anjana penuh percaya diri.
.........
Sementara itu, Nasha tinggal di rumah nya sendirian dan saat ini ia sedang menyiapkan makan malam, sementara Azhar dan Abi nya sedang di toko. Ummi Rifa pun juga pergi ikut ke pengajian mingguan.
Saat asyik memasak, terdengar suara ketukan pintu di depan.
Nasha pun keluar dan ia melihat Ramos yg berdiri di depan rumah nya dengan senyum seperti biasa. Nasha tampak sangat terkejut dengan kedatangan Ramos.
"Kamu mau apa di sini?" tanya Nasha ketus.
"Hanya ingin berkunjung, tadi pagi Azhar juga mengunjungi ku. Apa salah nya sekarang aku mengunjungi rumah nya" jawab nya santai yg membuat Nasha tampak sangat kesal. Baru saja ia akan menjawab, tiba tiba Ramos membekap mulut nya dengan sapu tangan yg membuat Nasha terkejut namun sesaat kemudian ia kehilangan kesadaran nya.