
Nasha menjalani hari hari nya dengan berbeda, raut bahagia selalu terpancar di wajah cantiknya. Apa lagi tiada hari tanpa komonikasi dengan Azhar, komonikasi yg kian hari kian intim.
Rasa rindu pun mulai tumbuh ketika komonikasi mereka terhambat karena perbedaan waktu dan juga Azhar yg pasti sibuk dengan aktifitas nya disana.
Namun hambatan itu justru membuat keduanya semakin menyadari ada rasa yg tak biasa di hati mereka.
Nasha juga semakin sering mampir ke toko Ummi Rifa walaupun bukan untuk membeli roti, dengan caranya sendiri ia membuat tempat di hati Ummi Rifa untuk dirinya. Bahkan ia sering membawa oleh oleh entah itu makanan, cemilan, dan sebagainya.
Dan soal Mama nya, Nasha masih mengalami hal yg sama. Sebuah titah yg harus ia patuhi, dan seperti biasa Nasha selalu mematuhi nya walaupun dengan hati yg memberontak tak suka.
Namun kedekatan nya dengan Azhar membuat hati Nasha dan hari hari nya menjadi lebih baik dan lebih indah, sebuah pengalihan yg sempurna dari segala kejenuhan dan tekanan dalam hidup nya.
"Harry benar benar berharap Azhar itu jodoh kak Nasha" ujar Harry karena ia menyadari besarnya perbedaan dalam hidup Nasha semenjak ia dekat dengan Azhar.
"Aamiin, harus Kakak akui kakak mencintai nya" jawab Nasha tersipu.
Saat ini keduanya sedang berada di kolam renang dan berenang bersama, dan satu hal lagi yg Harry lihat perbedaan dalam diri Nasha. Kini Nasha jarang memakai pakaian terbuka di rumahnya, bahkan saat berenang ini pun ia tak mengenakan bikini seperti dulu. Dan Harry merasa senang dengan perubahan itu, semua itu berkat kedekatan Nasha dengan Azhar.
"Hp kakak bunyi..."seru Harry saat Nasha kembali nyebur kedalam kolam.
"Siapa?" tanya Nasha pada Harry dan Harry pun mengambil ponsel Nasha.
"Ramos" jawab Harry tak suka, Nasha pun terlihat jauh lebih tak suka lagi.
"Ish, itu manusia satu kenapa lah telpon terus" gerutu Nasha kesal.
"Kakak sih kasih nomor nya, blok aja lah" Saran Harry.
"Mama yg kasih, jangan di blok nanti kakak yg di marahin" jawab Nasha "Kamu jawab aja, bilang aja kakak lagi mandi" seru nya dan ia kembali berenang.
Harry pun menjawab panggilan dari Ramos dan seperti permintaan Nasha, ia mengatakan Nasha sedang mandi. Ramos malah meminta Harry agar memberi tahu Nasha untuk menghubungi nya nanti.
"Kayaknya sih Ramos ini naksir deh sama kak Nasha" ujar Harry kemudian ia mengambil handuk yg ada di kursi.
"Semoga engga, bahaya" jawab Nasha dan ia pun menepi, berniat menyudahi sesi berenang nya.
Nasha memeriksa ponsel nya dan ia terlihat kecewa saat tak mendapati pesan dari Azhar. Sudah seharian ini pesan Nasha selalu di abaikan oleh Azhar dan paling di balas juga cuma dengan kata kata yang singkat.
"Harry masuk duluan ya, Kak" seru Harry pada Nasha yg saat ini masih sibuk dengan ponsel nya, Nasha hanya menggumam sembari mencari kontak Azhar dan kemudian ia mencoba menghubungi nya. Namun ponsel Azhar tak aktif, dan hal itu berhasil membuat mood Nasha jadi rusak.
.........
"Bukannya satu atau dua bulan? Ini baru dua minggu..."
"Aku engga terlambat kan?"
Wanita cantik dengan seragam pramugari itu terkekeh dan mengangguk "Dan selamat atas pertunangan mu"
"Terima kasih, Azhar. Jangan lupa seat belt nya, dan selamat menempuh hidup baru"
"Hidup baru apa nya?"
"Kamu senyum senyum seperti orang yg sedang kasmaran" kini Azhar yg terkekeh, karena saat ini ia memang sedang ada dala fase itu dan itu terasa sangat indah. Inilah alasan Azhar mempercepat kepulangan nya dan ia sengaja tak memberi tahu Nasha, Azhar ingin memberikan kejutan pada gadis nya itu. Ck, gadis nya?
Azhar ingin memastikan semua nya, namun sebelum itu ia harus punya pekerjaan terlebih dahulu. Setidak nya agar ia percaya diri untuk berbicara pada Nasha terutama pada kedua orang tua Nasha. Azhar memutuskan untuk bisa mengenal Nasha lebih dekat lagi dan memastikan perasaan keduanya seperti yg di sarankan Ustadz Bilal nya itu.
"Mohon doa nya" ucap Azhar pada pramugari itu dan wanita itu mengangguk dengan senyum lebar sembari mengacungkan jempol nya.
.........
Sudah dua hari Azhar tak bisa di hubungi oleh Nasha, dan hal itu benar benar membuat gadis itu merasa sangat kesal.
Saat ini ia sedang di kantin kampus, mengaduk bgaduk semamgkuk bakso yg entah kenapa membuat nya sangat tak berselera.
"Kamu kenapa sih, Sha? Kayak orang lagi patah hati aja" tanya Elin yg selama dua hari ini melihat sikap Nasha yg agak berbeda.
"Kamu kan engga punya pacar, masak iya patah hati" sambung Dilan sambil tersenyum samar.
"Engga apa apa, cuma lagi bad mood aja" jawab Nasha.
"Ya udah, aku ke toilet dulu ya sebentar" ujar Elin. Dilan dan Nasha pun mengangguk.
Kemudian Nasha menyuapkan satu sendok kuah bakso ke mulutnya dan itu malah belepotan bahkan sampai jatuh mengenai dagu hingga hijab nya.
Dengan cepat Dilan mengambil tisu dan mengelap dagu Nasha yg tentu saja membuat Nasha langsung melotot terkejut dan langsung menghentikan aksi Dilan itu.
"Kamu apa apaan?" pekik Nasha tak suka.
"Cuma bantuin kamu, Sha" jawab Dilan santai.
"Aku bisa sendiri" jawab Nasha ketus dan ia mengelap dagu dan hijab nya.
"Sha, sejak kamu pakai hijab kamu cantik banget ya. Anggun" ujar Dilan sambil menatap intens Nasha dan hal itu membuat Nasha merasa sangat tidak nyaman.
Dan ini bukan yg pertama kali nya Dilan memuji dan menatap Nasha seperti itu.
"Kalau gitu kamu suruh aja Elin pakek hijab, dia pasti juga cantik dan Anggun kok" seru Nasha dingin.
"Kayak nya ini bukan tentang hijab nya deh, tapi tentang kamu nya" ujar Dilan lagi dan Nasha menatap nya tak suka "Aku serius, Sha. Kami itu cantik, baik, lembut, pintar.." dan Dilan mengatakan nya sembari tangan nya bergerak pelan menyentuh punggung tangan Nasha dan sontak Nasha langsung berdiri kaget dengan perilaku Dilan.
"Ada apa, Sha?" tanya Elin yg tiba tiba datang dan ia tampak terkejut melihat Nasha yg langsung berdiri dengan ekspresi yg tampak aneh itu.
"Engga apa apa, aku duluan ya. Sebentar lagi Mama pasti udah jemput" ujar Nasha sedikit gugup.
Ia pun meletakkan uang limah puluh ribuan di meja untuk membayar bakso nya dan setelah itu ia langsung pergi.
"Dia kenapa sih? Aneh banget" ujar Elin dan ia kembali ke meja nya.
"Buru buru kali...." jawab Dilan enteng dan tanpa sengaja ia melihat gelang Nasha di lantai yg seperti nya terjatuh tadi. Dilan menarik nya dengan kaki nya, kemudian ia mengambil nya diam diam tanpa Elin sadari dan Dilan langsung memasukkan itu kedalam saku nya.
"Kenapa aku engga ketemu kamu lebih dulu sebelum Elin, Sha"
▫️▫️▫️
Tbc....