
Di kampus, Nasha kembali bertemu dengan Elin. Kali ini Nasha memaksa Elin untuk berbicara dengan nya, karena Nasha sungguh tidak tahu apa masalah nya.
"Aku mau bicara, Lin. Please!" Nasha terus memohon dan merengek pada Elin yg saat ini melangkah cepat menuju kelas mereka. Namun Elin tak sedikitpun menghiraukan Nasha.
"Kamu kenapa sih, Lin? Aku salah apa?" tanya Nasha dengan nada yg sedikit tinggi, membuat Elin seketika menghentikan langkah nya tepat di depan kelas mereka.
"Kamu tanya kamu salah apa?" Elin balik bertanya dengan nada sinis "Kamu tau engga sekarang aku sama Dilan sudah putus?"
"Apa? Tapi... Tapi kenapa? Terus apa hubungannya sama aku?" tanya Nasha yg semakin bingung.
"Dia putusin aku gara gara mu, kamu itu penghancur hidup aku tau engga? Kamu itu cuma bawa sial, bawa sial sama siapapun yang dekat dekat sama kamu" teriak Elin marah yg seketika membuat air mata Nasha mengalir bebas. Apa lagi kini kedua wanita itu menjadi pusat perhatian lantaran Elin yg berteriak nyaring di depan wajah Nasha.
"Kenapa kamu bicara begitu?" lirih Nasha sambil sesegukan.
"Memang itu kan kenyataan nya? Memang nya siapa yg bahagia di dekat kamu, Huh? Engga ada, karena kamu memang cuma penghancur kebahagiaan orang" teriak Elin lagi, yg membuat Nasha semakin sesegukan tak terkendali "Kamu fikir aku engga tahu, Mama angkat mu itu mencoba bunuh diri gara gara keegoisan mu" desis Elin lagi yg semakin mengguncang jiwa Nasha.
"Dan kamu...."
"Cukup!!!" ucapan Elin terpotong dengan kehadiran Dilan "Apa apaan kamu, Lin? Nasha engga salah dalam hal ini" desis Dilan tajam, kemudian ia melirik Nasha yg masih menunduk sambil terus terisak. Elin benar benar menyakiti nya dan mempemalukan nya.
"Mau belain dia kamu? Kamu tahu engga, orang yg kamu sukai ini sudah bersuami" tegas Elin sembari tersenyum miring.
"Aku tahu, aku sangat tahu dan Nasha mendapatkan suami yg sangat baik dan kamu tahu kenapa? Karena Nasha wanita yg sangat baik dan bukan penghancur kebahagiaan orang seperti tuduhan mu" tutur Dilan menahan amarah, yg justru kini membuat Elin marah dan juga sedih.
Semua nya sudah selesai, hubungan nya dengan Dilan dan persahabatan nya dengan Nasha. Dulu mereka yg sering makan bersama di kantin, tertawa dan bercanda, kini harus bersitegang karena masalah asmara.
Sementara Hanin yg tak sengaja melihat pertengkaran ketiga orang itu segera berlari ke ruang dosen untuk memanggil Azhar. Setelah Hanin mengatakan apa yg terjadi, Azhar pun segera berlari menuju kelas Nasha.
"Nasha..." panggil Azhar lembut, hati nya terasa perih dan dada nya terasa sesak saat melihat Nasha yg menunduk sembari sesegukan sementara orang orang di sekitar nya hanya menonton dengan membisu.
Mendengar suara lembut suami nya, Nasha langsung mendongak dan hati Azhar semakin perih melihat air mata Nasha yg berderai bebas di pipi nya "Sayang, ayo ikut aku" ucap Azhar lembut dan ia merangkul Nasha. Sekilas Azhar melirik Dilan dan Elin dimana kedua nya tampak sama sama menahan amarah, Azhar tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi sepertinya nya ini masalah persahabatan.
Azhar membawa Nasha pergi dari sana dengan melewati Elin dan Dilan.
"Kamu itu ke kanak kanan, Elin. Kenapa kamu harus meneriaki Nasha begitu, huh? Dia itu sahabat kamu" tukas Dilan.
"Sahabat yg sudah menghancurkan kebahagiaan ku" desis Elin.
"Aku yg menghancurkan kebahagiaan mu, bukan Nasha" tegas Dilan dengan suara meninggi. Tak peduli jika mereka benar benar menjadi pusat perhatian "Aku yg suka sama Nasha dan bukan Nasha yg suka sama aku. Aku yg mutusin kamu bukan Nasha yg minta aku putusin kamu, dan aku putusin kamu juga demi kebaikan mu sendiri, Lin. Karena hubungan tanpa cinta itu cuma akan menyakiti"
Elin hanya terdiam mendengar penuturan Dilan, sementara Dilan kini langsung pergi meninggalkan Elin yg tetap diam membisu. Dilan merasa bersalah pada Nasha dan Azhar, dan Dilan berniat menyusul mereka untuk meminta maaf atas apa yg terjadi.
Sementara di ruangan Azhar, Nasha masih menangis di pelukan Azhar, ia sesegukan tanpa henti dan punggung nya bahkan bergetar.
"Ssshtt, tenanglah, Sayang" bisik Azhar lembut sembari mengusap punggung Nasha yg bergetar.
Perlahan Nasha kembali tenang, walaupun masih terdengar isakan kecil yg lolos dari bibir nya.
Kini Azhar melerai pelukan mereka, Azhar mengusap lembut pipi Nasha yg basah karena air mata. Azhar mengecup lembut sudut bibir Nasha yg masih sedikit bergetar "Ada apa? Apa yg terjadi?" tanya Azhar kemudian.
Belum sempat Nasha menjawab, terdengar suara ketukan pintu yg di susul suara Dilan.
Dilan masuk, dan ia sungguh sedih melihat wajah sembab Nasha.
"Aku.. Aku minta maaf, semua masalah ini di sebabkan oleh ku" ucap Dilan begitu tulus.
"Memang apa yg terjadi?" tanya Azhar "Bukan nya Elin dan Nasha sahabat?"
"Iya, dan maaf karena aku sudah menghancurkan persahabatan mereka"
"Maksud nya?"
"Aku memutuskan hubungan ku sama Elin, karena hati ku sudah berpaling" Dilan berkata ragu ragu "Sama Nasha" ucap nya lirih kemudian yg membuat Nasha dan Azhar terbelalak kaget.
"Kau!!!" geram Azhar "Dia istri ku!" tegasnya sembari menggenggam erat tangan Nasha.
"Aku tahu, aku juga tidak bermaksud mengutarakan perasaan ini ataupun merebut nya dari mu. Selama ini aku menyimpan nya sendirian, kejadian ini membuat ku harus mengakui nya"
Azhar dan Nasha menatap Dilan tak percaya, walaupun sebenarnya Nasha sudah mencurigai Dilan sejak beberapa waktu yg lalu dan ia bisa merasakan sesuatu yg tidak beres.
"Lalu?" tanya Azhar tegas.
"Aku tidak akan mendekati Nasha, aku janji. Lagi pula aku akan pindah ke London. Jadi kita mungkin tidak akan bertemu lagi" ucap Dilan melirik Nasha "Aku minta maaf, Nasha. Gara gara aku Elin membenci mu"
Nasha hanya bisa membisu, ia tak tahu harus menjawab apa karena Elin sudah sangat menyakiti nya.
"Terima kasih atas permintaan maaf mu" ucap Azhar dingin "Semoga kamu meraih kesuksaan di London, Dilan. Dan semoga mendapatkan pengganti Nasha di sana, karena Nasha akan selalu menjadi milik ku"
Dilan tersenyum tipis mendengar ungkapan Azhar, namun ia tetap mengangguk setuju.
"Kalau begitu aku permisi" ucap Dilan dan Azhar langsung mempersilahkan nya.
"Apa aku berdosa?" tanya Nasha lirih.
"Kenapa bertanya begitu, Sayang?"
"Karena Dilan menyukai ku sementara sahabat ku mencintai nya, dan aku juga sudah bersuami"
"Tidak sama sekali, Sayang. Perasaan seseorang itu urusan pribadi mereka, apakah mereka membenci atau mencintai itu hak mereka, urusan mereka. Perasan itu hanya milik mereka, dan tidak ada hubungan nya dengan kita, hm?"
"Tapi Elin membenci ku, semua orang membenci ku sekarang. Papa Mama bahkan Elin hiks hiks" Nasha kembali terisak dan Azhar langsung menarik nya ke pelukan nya.
"Ssshtt, mereka hanya sedang marah sebentar. Nanti juga meraka akan sadar, betapa beruntung nya mereka jika memiliki Nasha nya Azhar di samping mereka" hibur Azhar yg membuat Nasha berhasil menyunggingkan senyum samar.
"Nanti malam kita ke pesantren ya" dan Nasha hanya mengangguk pelan
"Kamu harus belajar menulis tulisan arab" Nasha kembali mengangguk pelan.
"Belajar baca kitab kayak kitab ku itu ya, yang engga ada harakat nya"
"Huh?" pekik Nasha langsung mendongak, ia menatap Azhar dengan mata lebar nya dan bibir yg cemberut, sangat menggemaskan. Membuat Azhar terkekeh geli dan mengecup sudut bibir Nasha dengan gemas.