True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 58



Harry menikmati acara pernikahan kakaknya itu penuh suka cita, Harry sendiri tidak menyangka acara pernikahan yg mendadak itu ternyata cukup ramai dan tak kekurangan apapun. Ini berkat orang orang yg ada di sekeliling Azhar, yg saling membantu sehingga acara itu berjalan penuh suka cita. Nasha pun terlihat sangat bahagia, senyum merekah tak pernah hilang dari bibir nya.


Hingga tiba tiba Harry mendapatkan panggilan "Kak, Harry pulang dulu ya" ucap Harry setengah berbisik.


"Di cariin ya?" tanya Nasha yg sudah mengerti dan Harry mengangguk "Hati hati ya, makasih sudah datang, Dek" ucap Nasha sambil memeluk Harry.


"Kakak jangan khawatirkan apapun, ini saat nya Kak Nasha bahagia" jawab Harry sambil mengurai pelukan nya "Selamat atas pernikahan nya"


"Terima kasih"


Setelah itu, Harry pun berpamitan untuk pulang. Acara masih berlanjut sampai beberapa saat kemudian.


Dan acara baru selesai sekitar jam 10 malam, karena Abi Khalil harus istirahat, begitu juga pada Ustadz dan Ustadzah harus kembali ke tempat mereka.


Nasha mengucapkan banyak terima kasih kepala Ummi Mufar dan Abi Khalil karena telah merayakan dan mendoakan pernikahan mereka.


Memberi mereka tempat dan kenyamanan.


"Semoga Allah selalu merahmati mu, Nak!" ucap Abi Khalil saat Nasha dan Azhar berpamitan juga untuk pulang.


"Terima kasih banyak, Abi..." lirih Nasha "Walaupun cuma sehari di sini, tapi Nasha merasa sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Terima kasih banyak" ucap Nasha penuh haru.


"Kita memang keluarga, Nak. Seorang muslim adalah keluarga muslim lain nya" jawab Abi Khalil.


"Kami pamit, Abi..." ujar Azhar.


"Jaga istri mu, Azhar"


"Inysa Allah, Abi..."


Setelah Azhar dan Nasha berpamitan, kini Abi Fadlan juga berpamitan.


Setelah itu, mereka pun pulang dengan membawa anggota keluarga baru. Seorang menantu yg sangat cantik.


Jarak antara pesantren dan rumah Azhar tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit saja.


Di sepanjang perjalanan, Nasha dan Azhar terus saling menggenggam tangan seolah mereka takut terpisah atau salah satu nya pergi.


Sesampainya di rumah, Azhar menuntun Nasha memasuki rumah nya.


"Ucapkan salam dan dahulukan kaki kanan mu, Sayang" ucap Azhar lembut yg membuat Nasha langsung merona. Kali ini, dengan sengaja dan jelas. Dengan tulus dan penuh cinta Azhar memanggil nya Sayang.


Nasha pun mengikuti perintah suami nya itu, ia mengucapkan salam dan melangkah bersama sama dengan Azhar dengan mendahulukan kaki kanan nya.


"Selamat datang di rumah baru mu, Nak" ucap Abi Fadlan sambil mengelus kepala Nasha "Sekarang kamu adalah bagian dari kami, kami juga orang tua mu. Kami berhak mendapatkan kebahagiaan dari mu dan kami juga berhak mendengarkan keluh kesah dari mu atau pun mendengarkan masalah mu. Jadi, kami siap menjadi teman curhat mu juga"


Nasha tersenyum penuh haru mendengar penuturan tulus itu. Sekarang ia merasa begitu beruntung karena sudah menjadi bagian dari keluarga penuh cinta ini.


"Besok saja bicara nya ya..." sambung Ummi Rifa "Malam ini seperti nya kami akan tertidur sangat pulas, jadi kalian jangan khawatir" lanjut nya yg membuat Nasha dan Azhar tersipu malu mengerti apa maksud sang ibunda.


"Kami ke kamar dulu..." ujar Azhar.


"Ya, jangan lupa berdoa"


"Ummi..." seru Abi Fadlan sambil terkekeh.


Azhar membawa Nasha memasuki kamar Azhar yg ada di lantai dua, dan saat membuka pintu Nasha langsung menatap kagum kamar itu.


Kamar Azhar tentu tidak se besar kamar nya di rumah orang tua angkat nya, kamar itu di dominasi warna putih. Yg membuat Nasha kagum, ada taburan kelopak mawar berbentuk hati di ranjang ber seprei putih itu. Kamar itu juga terlihat sangat indah dengan beberapa hiasan ala kamar pengantin.


"Aku yg menyiapkan semua ini, kamu suka?" tanya Azhar lembut sambil merengkuh istrinya dan membawa nya mendekati ranjang.


"Kamu?" tanya Nasha tak percaya dan Azhar mengangguk.


Azhar mencium mesra punggung tangan Nasha sambil menatap mata Nasha yg begitu indah dan menyihir nya "Selamat ulang tahun, Habibti..." ucap Azhar mesra dan ia menyeluarkan sesuatu dari saku nya. Sebuah gelang dengan hiasan bintang dan bulan di sekeliling nya, Azhar pun memakaikan nya dan setelah itu Azhar mengecup pergelangan tangan Nasha dengan sangat lembut, sementara Nasha hanya bisa terdiam sambil tersenyum. Ia sama sekali tidak menyangka Azhar ternyata bisa romantis seperti ini.


Nasha menatap Azhar yg masih bertekuk lutut di depan nya, tatapan Nasha begitu dalam begitu juga dengan tatapan Azhar. Nasha memperhatikan setiap inci wajah suami nya itu.


Alis nya yg tebal dan hitam, mata nya yg setajam elang, hidung nya yg mancung, rahang nya yg begitu tegas dan di tumbuhi bulu bulu halus yg membuat Azhar tampak sangat berkarisma, dan bibirnya yg tidak tebal dan tidak tipis, begitu seksi dan menggoda.


"Azhar...." lirih Nasha dengan suara rendahnya, tanpa ia sadari tubuhnya gemetar, tangan nya berkeringat dingin "Aku.... Bolehkah aku..."


"Kau ingin menyentuh ku, Sayang?" tanya Azhar yg membuat Nasha kembali merona dan kemudian ia mengangguk.


Azhar sendiri juga tak bisa mengalihkan tatapan nya dari Wajah cantik istri nya, mata nya yg besar dan begitu indah, hidung nya yg mancung dan bibir nya yg penuh. Azhar meraih tangan Nasha, mengecup telapak tangan nya yg membuat darah Nasha berdesir hebat.


Azhar membawa tangan Nasha menyentuh dahi nya, turun ke mata nya yg terpejam, turun ke hidung mancung nya dan berhenti di bibir nya. Azhar kembali membuka mata.


Dan sekarang ia melakukan hal yg sama, Azhar menyentuh pipi Nasha dengan lembut, membelai nya dengan mesra. Azhar menyapukan ibu jari nya di bibir Nasha membuat tubuh Nasha semakin bergetar dan nafas nya pun semakin terasa berat. Rona merah di pipi nya membuat Azhar semakin terpaku pada kecantikan istrinya itu.


Azhar duduk di samping Nasha, menangkup pipi nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia isteriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya. Karuniakan lah kami anak keturunan yang sholeh sholehah, yg taat kepada Mu dan berpegang teguh pada agama Mu. Yg berbakti kepada kedua orang tuanya dan bermanfaat bagi sesama nya, yg cerdas dan sehat juga yg memiliki kepribadian yg lembut dan penuh kasih".


Azhar menggumamkan doa itu dengan begitu tulus, sebelum akhirnya ia mengecup mesra kening Nasha. Nasha hanya bisa memejamkan mata dan tanpa sadar tangan nya terangkat dan meremas lengan Azhar. Apa lagi saat ciuman nya itu turun ke kedua kelopak mata Nasha yg terpejam, kedua pipi Nasha, hidung Nasha dan berakhir di bibir nya.


Nasha terkesiap saat merasakan bibir Azhar di bibir nya, membelai nya dengan begitu ringan seringan kapas. Mengecup nya dengan begitu lembut se lembut sutra, menggoda Nasha dan membuai nya dengan begitu indah. Memporak porandakan perasaan Nasha dan pertahanan nya.


Azhar nya yg ternyata begitu romantis, ini lebih romantis dari apa yg Nasha bayangkan selama ini.


Azhar menyudahi ciuman itu yg membuat Nasha langsung merasa kehilangan, Azhar menatap Nasha dengan begitu sendu. Seolah ada sesuatu dalam diri nya yg memberontak.


"Sayang..." Azhar mengusap bibir Nasha dengan jemari nya "Ada baiknya kita sholat sunnah dulu ya" ajak nya dan Nasha hanya mengangguk patuh.


Ia masih terlalu linglung untuk bersuara, masih hilang setengah kesadaran nya atas sentuhan Azhar.


"Ini baru ciuman..." batin Nasha berteriak mengejek.


"Kenapa wajah mu memerah begitu?" goda Azhar yg membuat Nasha langsung menunduk.


"Ya udah, aku ambil wudhu dulu..." ujar Nasha dan ia segera berlari ke kamar mandi. Membuat Azhar terkekeh.


Dan setelah Nasha menghilang di balik pintu kamar mandi, Azhar langsung menghembuskan nafas nya sambil memegang dada nya yg bergemuruh.


Jantung nya berdebar seperti drum yg di tabuh, dan hati nya berbunga bunga. Bukan hanya Nasha yg gemetaran karena sentuhan itu. Bahkan yg menyentuh pun juga gemetaran dan merasa panas dingin.


Walaupun pun begitu, ada perasaan bahagia yg tak pernah Azhar bayangkan sebelumnya dan semua itu karena Nasha.


Setelah Nasha keluar dari kamar mandi, Azhar pun bergegas mengambil wudhu.


Nasha melihat ada dua sejadah dan mukena di sana.


Nasha menghamparkan sejadah itu untuk imam nya dan untuk diri nya.


Azhar keluar dari kamar mandi dan melihat Nasha sudah menunggu nya.


Keduanya pun melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, kemudian setelah selesai kedua nya berdoa.


Dan setelah itu.....


▫️▫️▫️


Tbc....