
"Sama sekali engga capek, Ma" sambung Nasha "Yang melakukan pekerjaan rumah itu Ummi, yg masak juga Ummi karena itu lah Nasha lebih sering makan dan bahkan tambah lebih gendut. Dan soal kerja, Nasha cuma bantu bantu. Itu pun masih kadang. Mama jangan khawatir, di sini Nasha sudah seperti anak kandung mereka sendiri, tidak di bedakan, tidak di kekang. Bahkan sangat di manja, mertua rasa orang tua kandung"
"Sayang...." tegur Azhar dengan lembut, ia tak menyangka sama sekali Nasha bisa memberikan jawaban yg sangat tidak sopan seperti itu pada Mama angkat nya. Sementara Ummi Rifa malah tampak senang mendengar jawaban Nasha, karena memang benar apa yg Nasha katakan. Sementara Raya tentu saja sangat tersinggung mendengar jawaban Nasha, ia merasa di permalukan dan tidak di hargai.
" Maaf ya, Ma. Aku dan Azhar mau ke pesantren" ujar Nasha kemudian, mengusir Mama nya dengan halus.
Nasha mencium tangan ibu mertua nya kemudian tangan Mama angkat nya. Setelah itu ia segera menggandeng tangan Azhar dan membawa nya keluar. Namun tiba tiba Nasha berhenti, ia mengambil kunci mobil yg ada di tangan Azhar dan memberikan nya kembali pada Raya.
"Nanti Mama suruh orang ambil lagi mobil ny, Ma. Satu mobil di sini sudah lebih dari cukup. Apa lagi dengan cara ini kami semua lebih dekat dan menghabiskan waktu bersama lebih banyak" jawab Nasha yg kembali membuat raya tercengang dengan keberanian Nasha sekarang.
Nasha dan Azhar pun ke pesantren menggunakan mobil, sementara tadi pagi pagi sekali Azhar sudah mengantar ayahnya ke toko.
"Sayang, lain kali jangan begitu ya. Kasian Mama mu, nanti tersinggung" tegur Azhar saat mereka sudah di jalan.
"Aku bisa engga begitu kalau aku yg di rendahkan Mama, Azhar. Tapi kalau dia sedikit saja merendahkan suami ku dan mertua ku, aku engga bisa terima" tegas Nasha marah "Memang nya kurang nya kalian apa? Cuma materi di mata Mama yg membuat kalian terlihat penuh kekurangan. Dia harus sadar diri, mereka yg kaya raya tidak bisa memberikan ku kenyamanan apa lagi kebahagiaan seperti yg aku rasakan di rumah ku yg sekarang. Tahu begini, akan lebih baik kalau dia tidak lagi hadir dalam hidup kita" gerutu Nasha. Terlihat sekali ia benar benar kesal dengan Mama angkat nya.
Sementara Azhar malah terkekeh menanggapi kemarahan Nasha, membuat Nasha mengernyit bingung.
"Istighfar, Sayang. Istighfar... Sudah jangan jangan marah marah, bagaimana pun juga dia ibu mu meskipun bukan yg melahirkan mu. Tapi dia yg merawat mu, kan?" tukas Azhar dan Nasha malah memberengut.
"Memang nya kamu engga sakit hati apa selalu di rendahkan sama Mama?" tanya Nasha.
"Ya sakit hati, Sayang. Aku manusia bukan malaikat, hanya saja kan ada kesabaran yg di uji, ke ikhlasan yg di uji. Jadi ya aku memilih sabar dan ikhlas saja menanggapi Mama mu, lagian marah marah juga percuma. Kita doakan saja Tante Raya bisa berubah dan memiliki hati yg bersih" ucapan panjang lebar Azhar itu membuat Nasha tersenyum bangga. Memanglah ia tidak salah memilih suami.
Sesampainya mereka di pesantren, Azhar langsung menuju ruang para guru. Sementara Nasha langsung bergegas ke musholla, karena sebelum kelas di mulai, biasanya semua santri melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu.
Setelah sholat, Nasha dan semua santri yg lain berbondong bondong ke kelas mereka masing masing.
"Kak Nasha..." teriak Wina saat Nasha bergegas ke kelas nya. Hari ini ia menyiapkan diri untuk mengikuti materi karena Ustadz nya hari ini adalah suaminya sendiri.
"Apa, Win?" tanya Nasha.
"Kamu tanya apa sih, Win?" tanya Nasha yg memang tak mengerti dengan inti pertanyaan Wina. Bahkan tanpa sadar kini mereka sudah berada di kelas. Nasha dan Wina pun duduk berdampingan.
"Maksud ku, Kenapa Kak Nasha engga tinggal di asrama aja? Kenapa harus pulang? Apa karena Kak Nasha kuliah?" tanya Wina penasaran.
"Karena aku punya...."
"Assalamualaikum..." jawaban Nasha terpotong saat Ustadz Azhar memasuki kelas mereka.
Semua santri pun langsung duduk rapi dan terdiam, bersiap mengikuti materi dari sang Ustadz. Azhar memegang pelajaran shorrof, yg kata sebagian murid gampang dan sebagaian lagi mengatakan susah. Namun ada juga yg mengatakan gampang gampang sudah, seperti Nasha. Dia mudah menghafal, tapi sulit memahami nya.
"Waalaikum salam" jawab para murid dengan serempak.
Azhar pun memberikan materi kelanjutan nya dari materi yg minggu lalu, semua santri begitu fokus mengikuti materi Azhar kecuali Wina yg terus berisik dan mengganggu Nasha masih dengan pertanyaan yg sama. Kenapa Nasha tidak tinggal di asrama, kenapa Nasha masuk pesantren nya sangat terlambat. Bahkan Wina bertanya kenapa tulisan tangan Nasha jelek sekali dan sangat lambat saat menulis dalam tulisan arab.
"Ya karena aku masih belajar, maka nya jelek" jawab Nasha kesal. Wina adalah manusia paling cerewet yg Nasha kenal. Azhar bahkan sudah menegur Wina tadi agar diam dan fokus pada materi nya.
"Sudah, Win. Jangan tanya lagi, nanti Azhar marah lagi" ucap Nasha setengah berbisik.
"Azhar? Kok kamu engga sopan manggil Azhar? Sudah kayak kakak sendiri di panggil nama" celetuk Wina.
"Dia itu..."
"Wina, Nasha...." tegur Azhar dengan tegas "Sejak tadi kalian terus saja mengobrol. Sebaiknya kalian keluar dan berdiri di depan kelas sampai kelas selesai" tegas Azhar yg membuat Wina dan Nasha terbelalak.
"Tapi... Az...eh,Ustadz..."
"Sejak tadi saya sudah tegur, tapi kalian tetap saja. Ayo berdiri di depan kelas" tegas Azhar lagu. Dengan kesal Nasha dan Wina berdiri. Wina langsung berjalan keluar, sementara Nasha masih diam sejenak di depan Azhar.
Dan dengan gerakan bibir saja dia berkata pada Azhar 'Awas saja nanti' dan bukan nya merespon, Azhar malah memasang wajah datar. Membuat Nasha semakin kesal dan ia menghentakan kaki nya berjalan keluar.