
Setelah acara nya selesai dan semua anak anak pun sudah pulang, kini Nasha dan Elin juga berpamitan untuk pulang.
"Makasih ya kalian sudah datang..." ujar Ummi Rifa sembari mengantar kedua gadis itu hingga ke depan rumahnya.
"Sama sama. oh ya, Ummi. Kenapa pacar nya Azhar engga datang ya?" tanya Nasha yg langsung membuat Ummi Rifa sedikit terkejut.
"Azhar engga punya pacar, Nash" jawab nya.
"Punya kok, waktu itu aku telpon Azhar eh ternyata Azhar telponan sama pacar nya dan telpon ku yg langsung di matiin" adu nya sedikit cemberut
"Mungkin kamu salah denger, Azhar engga mungkin punya pacar" jawab Ummi Rifa meyakinkan.
"Punya, Ummi..." jawab Nasha ngotot.
"Dasar ratu salah faham..." sambung Azhar yg kini bergabung dengan mereka.
"Salah faham apa nya?" tanya Nasha sedikit ketus.
"Yg waktu itu telpon aku tuh Ummi, aku juga engga matiin telpon kamu, Nasha. engga sengaja ke pencet" jawab Azhar "Yg waktu itu loh, Ummi... Yg Ummi bilang sms an tuh" Azhar mengingatkan ibu nya yg tampak menatap curiga pada Azhar.
"Ohhh... Yg itu..." ujar Ummi Rifa dengan mata berbinar "Jadi yg waktu itu telepon kamu terus nanyain kenapa sms nya engga di balas itu Nasha?"
"Iya, dan seperti biasa... Gadis kota ini selalu menyimpulkan sendiri apa yg dia dengar dan apa yg dia lihat" ucap Azhar yg seketika membuat Nasha hanya cengengesan, karena ia sadar apa yg Azhar katakan itu sangat benar.
"Hehe, jadi engga punya pacar ya, kesempatan neh... Em" cerocos Nasha tanpa sengaja namun kemudian dengan cepat ia menutup mulut nya rapat rapat.
"Kami permisi, terima kasih banyak undangan nya" ujar Elin dan langsung menarik Nasha pergi dari sana sebelum Nasha semakin menggila.
Azhar dan Ummi Rifa hanya terkekeh melihat sikap Nasha yg benar benar absurd "Hem, calon cucu on the way kayak nya..." seru Abi Fadlan yg sudah berada di belakang mereka dan menatap kepergian Nasha dan Elin.
"Abi, jangan lagi deh. Azhar itu masih terlalu muda untuk menikah, Azhar juga belum kerja, belum membanggakan Abi sama Ummi" tutur Azhar panjang lebar.
"Kami akan bangga kalau kamu bisa ngasih kami cucu yg banyak, kesepian kami ini..." seru Ummi Rifa kemudian ia menggandeng suami nya kembali masuk.
Sementara Azhar masih memperhatikan mobil Nasha yg kini sudah jauh dan akhirnya tak terlihat. Harus Azhar akui, Nasha adalah gadis yg baik, polos, apa ada nya, dan yg pasti, Nasha adalah satu satu nya gadis yg dekat dengan Azhar dan membuat jantung nya berdegup tak karuan apa lagi dengan sikap absurd nya yg membuat Azhar selalu mengingat nya.
Sementara di mobil nya, Nasha bersender pada kaca pintu nya sembari memegang dada nya. Dimana jantung nya berdebar seperti ia habis lari marathon saja, bibir nya terus menyunggingkan senyum sementara wajah nya merona. Elin yg menyetir sesekali melirik sahabat nya yg tampak benar benar kasmaran itu.
"Halu lagi neh makhluk satu..." ujar Elin.
"Lin, pangeran ku, Lin... Pangeran ku..." ujar Nasha lebay yg membuat Elin bergidik ngeri.
"Kamu berubah banget semenjak bertemu Azhar, Sha" ujar Elin "Kayak bukan Nasha yg aku kenal deh"
"Berubah gimana?" tanya Nasha sambil membenarkan posisi duduk nya.
"Ya dulu kamu tuh hidup nya datar, senyum jarang, kayak tertekan, sering memberengut" tutur Elin.
"Kalau yg sekarang?" tanya Nasha dan ia menatap Elin dengan senyum lebar nya.
"Kalau sekarang suka cengengesan, mesem mesem engga jelas, lebay tapi terlihat lebih bebas" jawab Elin sambil tersenyum samar, bagaimana pun sebagai sahabat ia senang melihat Nasha yg tampak bahagia.
"Berubah nya positif atau negatif?" tanya Nasha ketus.
"Ya positif sih" jawab Elin setengah menggumam.
"Sebagai sahabat seharusnya kamu senang atau sewot?" tanya Nasha lagi sarkastik. Elin langsung terkekeh geli mendengar pertanyaan Nasha, ia mengusap usap kepala Nasha seperti anak anak.
"Senang, senang banget malah. Aku dukung deh kamu pepet Azhar, dia juga berasal dari keluarga baik baik" ujar Elin.
"Itu namanya baru sahabat" seru Nasha senang "Terus gimana caranya aku deketin Azhar?"
"Yg pasti harus sering komonikasi entah secara langsung atau engga, nanti deh kita fikirin lagi. Soalnya Azhar engga mungkin mau di ajak kencan berdua kan?"
"Sepertinya sih gitu..."
.........
Sementara itu, Azhar yg membaca sebuah buku di kamar nya di kejutkan dengan dering ponsel nya. Tertera nama Yunus di layar ponsel nya.
"Assalamualaikum..." sapa Azhar.
"Waalaikum salam, Azhar. Aku dengar kamu di Indo"
"Iya, udah lama sih. Cuma aku ada di desa Rafa sekitar dua minggu" jawab Azhar pada teman nya itu.
"Aku cuma mau ngasih tahu, di kampus lagi butuh dosen. Kamu berminat engga jadi dosen?" tanya Firman. Azhar tak langsung menjawab nya, tentu ia ingin menjadi guru seperti cita cita ibu nya. Tapi untuk jadi dosen, Azhar sedikit ragu.
"Nanti aku fikirin Lagi deh"
"Lah kenapa? Engga tertarik?"
"Ya tertarik sih, tapi aku masih harus kembali ke Cairo"
"Berapa lama disana?"
"Engga masalah, nanti kabari aku kalau kamu berminat"
"Okey, thanks, Yunus. Oh ya, gimana hubungan mu dengan Sasha? Aku dengar kalian menikah"
"Tiga hari lagi kami menikah"
"Huh? Aku engga di undang gitu?"
"Ya aku mana tahu kamu di Indo" "
"Lah, sekarang kamu udah tahu"
"Ya udah, aku undang kamu ke pernikahan ku. Waktu dan tempat nya nanti aku chat..."
"Engga ada undangan nya neh?"
"Ya udah habis lah. Mau aku tulis ketik aja? Pakek kertas hvs?"
Azhar tertawa geli mendengar candaan temban nya itu "Ya udah, nanti aku datang. Mau hadiah pernikahan apa?"
"Tiket bulan madu ke Paris"
"Engga punya uang" jawab Azhar jujur dan kini terdengar teman nya itu yg tertawa.
"Ngapain nawarin hadiah kalau gitu?"
"Ya siapa tahu mau jamu kuat gitu"
"Alami aja aku mah, semalaman juga kuat"
Azhar langsung kembali tertawa mendengar ucapan temannya yg memang kocak itu, Yunus adalah tenan kuliah nya dulu. Mereka cukup dekat dan memang selalu saling membantu.
Setelah sedikit perbincangan yg tak penting, Azhar menyusahi percakapan neraka karena ia ingin melanjutkan bacaan buku nya. Dan soal tawaran jadi dosen itu, Azhar sangat tertarik namun ia akan membicarakan itu dengan orang tua nya terlebih dulu.
Saat Azhar hendak kembali melanjutkan bacaan nya, ada sebuah notifikasi yg masuk. Azhar segera memeriksa nya dan itu pesan dari Nasha.
^^^Nasha^^^
^^^"Assalamualaikum, Azhar. Selamat ulang tahun ya, tadi lupa engga ngucapin"^^^
Azhar meletakkan kembali buku nya dan ia membalas pesan Nasha.
Me
"Waalaikum salam, terima kasih, Nasha"
^^^Nasha^^^
^^^"Kamu udah tidur?"^^^
"Lagu lama..." gumam Azhar sambil terkekeh geli.
Me
"Kalau udah tidur engga mungkin di bales kan, Neng Nasha"
Azhar menggerutkan dahi nya karena sudah satu menit berlalu sejak pesan nya di baca namun Nasha belum membalas nya.
Me
"Kamu kenapa belom tidur?"
Azhar kembali menunggu. Satu menit, dua menit, tiga...
Dan belum ada balasan.
Me
"Kamu sibuk?"
Kini Azhar menunggu bahkan sampai 10 menit namun tetap tak ada balasan.
"Kenapa aku jadi aku yg agresif" gumam Azhar kemudian ia meletakkan ponsel nya di meja, sementara ia langsung merangkak naik ke atas ranjang dan hendak tidur.
.........
Harry melihat pintu kamar kakak nya sedikit terbuka, ia pun masuk dan menemukan kakak nya yg tertidur dengan masih memegang ponsel di tangan nya.
Dengan sangat pelan, Harry mengambil ponsel kakak nya, ia meletakkan nya di meja. Kemudian Harry menarik selimut dan menutupi tubuh Nasha hingga dada nya, setelah itu Harry mematikan lampu kamar Nasha dan menyalakan lampu tidur nya kemudian Harry menutup pintu dengan pelan pelan agar tak mengganggu tidur Nasha.
▫️▫️▫️
Tbc...