True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 113



Nasha menunggu Azhar menjemput nya dan saat mobil suami nya itu datang, Nasha langsung masuk dan kemudian ia membuang pandangan nya ke luar jendela.


Sementara Azhar menatap istri nya yg terlihat tidak biasa itu, karena biasa nya Nasha selalu bersikap manja saat Azhar datang menjemput nya, bahkan selalu mencium pipi Azhar.


"Kenapa, Sayang? Ada yg mengganggu mu di sana?" tanya Azhar dan Nasha menggeleng tanpa menatap sang suami.


Nasha hanya tidak ingin Azhar melihat nya menangis lagi dan lagi, akhir akhir ini Nasha melihat Azhar selalu tampak sangat sibuk dan tak ingin menambah beban Azhar dengan kisah pilu nya lagi.


Mengingat bahwa ia adalah anak haram, mata Nasha kembali terasa panas dan berair, bibir nya bergetar dan Nasha hanya mampu menggigit bibir nya itu.


"Baiklah, sekarang kita pulang ya..." seru Azhar dan Nasha mengangguk masih tanpa menoleh sedikitpun pada Azhar.


Azhar yg menyetir sesekali melirik Nasha yg terdiam membisu dan masih setia menatap keluar mobil, membuat Azhar merasa khawatir karena Nasha seperti menyembunyikan sesuatu. Hingga tiba tiba tangis Nasha pecah karena ia terus mengingat betapa pahit nya kenyataan hidup nya.


Azhar yg mendengar Nasha menangis langsung menepikan mobil nya, kemudian ia menarik Nasha ke dalam pelukan nya dan tangis Nasha semakin menjadi di pelukan sang suami.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Azhar lembut sembari mengusap kepala Nasha, terselip kecemasan dan ke khawatiran dalam pertanyaan itu tapi Nasha tidak bisa menjawab nya dan ia hanya bisa menangis tersedu sedu di dada Azhar. Bahkan Azhar sampai merasakan baju nya basah karena air mata Nasha.


"Nasha, Sayang. Kamu sakit, hm? Atau ada yg menyakiti mu lagi, iya?" tanya Azhar lagi tapi Nasha tetap menangis sesegukan, ia meremas lengan baju Azhar dan masih terus sesegukan.


Rasa nya sakit sekali mengingat bahwa ia adalah anak haram, sebuah aib, yg di buang hanya untuk menjaga nama baik keluarga. Dan mereka mengadopsi seorang anak lagi, hidup bahagia bersama, sedangkan Nasha?


Begitu banyak yg harus Nasha alami dalam hidup nya dan semua itu karena ia adalah anak yg terbuang.


"Aku...." Nasha berusaha berbicara di tengah isak tangis nya "Aku anak haram, karena itulah mereka membuang ku" suara Nasha teredam oleh tangisan nya namun Azhar masih mendengar nya dengan baik. Dan mendengar ucapan istri nya itu membuat Azhar juga merasakan sakit di hati nya.


Azhar bisa mengerti perasaan Nasha sekarang, dan Azhar pun membiarkan Nasha menangis, berharap tangisan itu bisa memberikan sedikit saja rasa lega di hati sang istri.


Azhar melepaskan sabuk pengaman yg ia kenakan, supaya bisa lebih dekat lagi dengan Nasha dan memberikan pelukan yg jauh lebih nyaman.


Azhar masih setia mengelus kepala sang istri yg terbungkus jilbab itu, sesekali elusan nya turun ke punggung nya dan mengusap nya naik turun.


Hingga beberapa menit berlalu, tangisan Nasha perlahan mereda. Namun sesekali suara isak tangis masih lolos dari bibir nya yg masih bergetar, sungguh Nasha berusaha berusaha menahan rasa sakit di dada nya, berusaha menahan tangis nya karena Nasha merasa sudah sangat cukup ia menyuguhkan kesedihan nya di depan suami nya. Namun Nasha tak bisa, ia tak mampu. Apa lagi di depan Azhar, Nasha tak bisa berpura pura kuat, ia akan selalu lemah dan selalu membutuhkan Azhar sebagai sandaran nya.


"Sayang..." panggil Azhar saat suara isak tangis Nasha hanya terdengar sesekali, ia masih setia mendekap istri nya. Nasha hanya diam dan masih menyembunyikan wajah nya di dada Azhar. Namun beberapa saat kemudian, ia melerai pelukan nya dan menarik diri dari pelukan sang suami.


Hati Azhar terkesiap melihat wajah sembah Nasha yg basah karena air mata nya, Azhar pun menghapus air mata itu dengan begitu lembut, sesekali bibir Nasha masih bergetar.


"Sudah, sudah cukup menangis nya. Kamu wanita yg kuat, hm..." ujar Azhar menguatkan dan menghibur, Nasha masih tak menjawab dan ia masih sesegukan sesekali.


"Aku mengerti, Sayang..." Azhar merapikan jilbab Nasha yg sudah berantakan "Nanti kita bicarakan lagi ya, sudah sedih nya. Hati ku sakit sekali melihat mu sedih begini..." ucap Azhar lagi yg berhasil membuat Nasha sedikit tersenyum samar.


.........


Bu Anjana pulang dengan hati yg hancur dan sakit, sakit sekali rasa nya mengingat semua ucapan Nasha yg mengingatkan ia pada kesalahan kesalahan nya dulu. Dan lebih sakit lagi saat Nasha mengingatkan bahwa mereka menghukum Nasha atas kesalahan mereka sendiri. Rasa penyesalan itu sungguh memeras hati nya dan menyesakkan dada nya.


Bu Anjana masuk ke kamar nya, mengunci diri dan ia menangis sesegukan di sana.


Entah apa yg harus ia lakukan supaya Nasha mau memaafkan nya dan mau menerima dia sebagai ibu nya.


Entah apa yg harus ia lakukan supaya Nasha percaya bahwa ia sangat mencintai Nasha dan juga sangat menyesali perbuatan nya dulu.


"Ma.. Buka pintu nya..." seru Pak Niranjan sembari mengetuk pintu kamar berkali kali namun tak ada jawaban dari istri nya.


"Ma, jangan begini, jangan buat kami khawatir..." seru Pak Niranjan lagi.


Saat ini ia begitu cemas dengan keadaan istri nya, apa lagi istri nya itu mudah sekali stres dan ia takut kalau sampai istri nya melakukan hal yg membahayakan diri nya sendiri.


"Pa, Mama kenapa?" tanya Mera yg baru saja datang dari sekolah nya.


"Mama mu sedih, karena... Karena Nasha tidak mau memaafkan kami" ucap Pak Niranjan dengan suara lirih. Mera pun langsung terlihat sedih juga saat mendengar kabar itu.


"Mama..." panggil Mera dan ia juga mengetuk pintu kamar "Mama, buka pintu nya ya. Nanti biar Mera yg bicara sama Kak Nasha, dia bukan nya tidak mau memaafkan Mama. Paling dia cuma masih shock aja..." hibur Mera namun masih tak ada tanggapan.


"Ma, biar nanti Mera ajak Harry untuk membujuk Kak Nasha, ayo buka pintu nya, Ma..."


Sementara di dalam, Bu Anjana masih menangis sesegukan. Bu Anjana masih terus terngiang ngiang dengan ucapan Nasha yg begitu menyudutkan nya. Nasha benar benar kecewa, marah dan benci.


"Nama baik?"


"Kalian ingin menjaga nama baik yg hanya sebuah anggapan? Apakah kalian fikir dengan membuang bayi yg baru lahir bisa tetap menjaga nama baik kalian? Kalian menumbalkan bayi kalian hanya demi nama baik itu? Untuk apa nama baik kalau kelakuan kalian sangat buruk? Memang nya kalian tidak malu membicarakan nama baik sementara kalian dengan tega nya membuang bayi kalian?"


Bu Anjana membuka laci, ia mengambil sebuah botol kecil yg berisi obat, tanpa fikir panjang Bu Anjana langsung mengambil obat itu sebanyak mungkin dan ia menelan nya.


"Kalau begitu, anggap saja aku mati. Biar nama baik kalian tetap terjaga..."