Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
98. Aluna, Irena, dan Qia



Akhirnya semua berkumpul di ruang makan. Dokter Iman kemudian memimpin doa, dan mereka pun makan bersama dengan hikmad, tanpa ada satu pun yang membuka suara.


Baru beberapa suapan, tiba-tiba Hendra membuka percakapan. Sepertinya rasa penasarannya pada Qia dan Rena sudah tak tertahan.


"Gimana ceritanya, nih, dua Kakak ipar bisa saling kenal?" tanya Hendra penasaran.


Mendengar itu, kontan mata ketiga lelaki yang lebih tua darinya melotot tajam. Dari tadi Adrian dan Iman memang menahan diri untuk tidak bertanya tentang hal itu karena tidak ingin menyinggung perasaan Qia. Mereka tahu bahwa ini adalah bagian Satrio. Adiknya itu akan menangani masalah ini secepatnya. Itu sebabnya, mereka merasa kesal sama Hendra yang tidak bisa membaca suasana.


Namun, rupanya Rena tidak merasa keberatan dengan pertanyaan itu.


"Sebenarnya itu sudah lama sekali. Aku pun sudah hampir lupa sejak kepergian Aluna enam tahun yang lalu," kata Rena.


"Aluna? Siapa dia, Sayang?" tanya dokter Iman pura-pura tidak tahu. Sudah terlanjur basah, akhirnya ia nyebur sekalian.


"Dia sahabat Qia," jawab Rena singkat.


Sementara itu, Qia hanya diam sambil mendengarkan percakapan mereka. Ia terlihat sudah pasrah.


"Mungkin memang sudah waktunya mereka tahu tentang Kemilau Senja," batin Qia.


Satrio yang merasakan kembali aura kesedihan terpancar dari wajah Qia, kemudian menggenggam tangan sang istri untuk memberikan kekuatan.


Diperlakukan seperti itu, Qia menatap wajah tampan itu penuh makna. Sungguh ia betul-betul menemukan kedamaian dan rasa nyaman di sana. Sepasang suami istri itu saling menatap dengan penuh cinta.


"Ehem ehem. mbok ya kasihan sama jomlo yang merana ini, Bos," sindir Hendra membuat Qia malu. Ia buru-buru berpaling dengan wajah memerah.


"Sayang, lihat, betapa bucinnya Satrio sama istrinya," ujar Iman. Ia sengaja menggoda adik angkatnya yang selama ini terkenal dingin dan datar itu.


Sementara, Rena hanya menanggapi itu dengan senyuman.


"Jadi, Kakak ipar sama Aluna itu bersahabat?" Hendra kembali mengorek keterangan dari Rena.


"Iya, betul. Bagaimana ceritanya, nih? Kalian teman sekolah, ya?" pancing Dokter Iman.


Namun, yang menjawab justru Irena.


"Persahabatan mereka sangat unik, Sayang," ujar Rena pada dokter iman sambil menyeruput minuman yang ada di depannya.


"Unik bagaimana?" tanya dokter Iman lagi.


"Kamu tidak keberatan kan, Qi, kalau kuceritakan semua?" tanya Rena pada Qia.


Qia hanya mengangguk pasrah. Di sampingnya, ada lelaki hebat yang selalu ada untuknya, kenapa ia harus gundah? Begitu pikirnya.


"Kalian mungkin tidak percaya, di zaman yang serba canggih ini, masih ada orang yang suka berkirim kabar lewat surat. Namun, faktanya hal gila seperti itu masih ada. Salah satunya ya ... mereka itu, istri Satrio sama Aluna." Rena mulai bercerita.


"Oh, ya? Betul begitu, Qi?" respon Iman.


Lagi-lagi Qia hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia jadi malu, ternyata hobi yang selama ini ia lakukan bersama dengan Aluna dianggap aneh oleh orang lain.


"Bener, Sayang. Coba kalian tanyakan sendiri padanya, apa sih enaknya surat-suratan? Bahkan, mereka melakukan hal seperti itu sejak sama-sama masih belia," cerita Rena.


Istri Satrio itu menjawab dengan anggukan, kemudian berkata, "Iya, Kak. Saya dan Aluna memang tidak pertama bertemu. Sampai akhirnya, penyakit yang diderita Aluna semakin parah. Ia dirawat di Rumah Sakit Keluarga Bahagia."


"Iya, sejak itu, mereka jadi sering bertemu karena Qia mengunjungi Aluna secara berkala. Keluarga Bahagia kan tidak begitu jauh dari tempat tinggal Qia," tambah Rena.


Empat lelaki itu saling pandang. Kini, terjawab sudah teka-teki yang selama ini menyelimuti mereka.


Sebenarnya ada dugaan yang sangat kuat kalau Qia memakai kartu yang terdaftar atas nama Aluna. Hanya saja, tidak ada satu pun indikasi yang mengarah pada kedekatan mereka. Ternyata mereka berdua adalah sahabat pena.


"Dan kau, Sayang? Hubunganmu dengan mereka apa?" tanya Iman lagi untuk memastikan. Sebenarnya sudah bisa ditebak, Irena pasti dokter yang menangani Aluna. Namun, enam tahun yang lalu istrinya pasti baru saja menyelesaikan spesialisasinya, apa mungkin diserahi pasien segawat itu, meski wanita cantik itu memang sangat jenius?


"Aku dokter yang menangani Aluna," jawab Rena. Ternyata dugaan Iman benar. Istrinya ini memang luar biasa. Tak heran ia sering mendapat berbagai penghargaan.


"Ooh ... jadi begitu, ceritanya?" celetuk Hendra. "Tapi ... enam tahun itu lama sekali loh, Kak," sambung Hendra lagi.


"Iya, betul. Itu sebabnya kami juga hampir lupa karena pasien yang harus kutangani tidak sedikit. Namun, dua tahun yang lalu kami dipertemukan kembali di acara penghargaan sepuluh wanita terinspiratif," jelas Rena.


"Yang versi Queen itu? Elo datang juga kan, Man?" Kali ini Adrian yang bertanya. Ia masih ingat karena waktu itu dokter Iman tidak bisa menghadiri rapat penting karena menghadiri acara penghargaan untuk Rena.


"Iya. Kamu juga datang kok, Sayang?" ujar Rena mencoba untuk mengingatkan suaminya.


"He em." Iman menggumam pelan.


"Kamu masih ingat kan, Sayang, di antara sepuluh itu ada tiga orang yang mewakili milenial. Salah satunya itu Qia. Masak lupa, sih, Sayang?" ujar Rena agak cemberut melihat suaminya yang tampak berpikir


"Dia itu bukanya tidak ingat, Ren. Waktu itu kalian baru saja menikah, tentu saja perhatiannya hanya tertuju padamu, karena saat itu dia lagi bucin-bucinnya. Iya kan, Kak?" ejek Satrio membalas sindiran Iman tadi.


"Kurasa begitu," jawab dokter Iman polos. Ia tidak marah atau berusaha menutupi, karena faktanya memang begitu. Bahkan, sampai sekarang pun ia masih bucin sama Rena.


"Kalau Rena kan jelas penghargaan itu berhubungan dengan dunia kedokteran, kalau kamu untuk kategori apa, Qi?" tanya Adrian.


"Sebenarnya tidak terlalu penting, sih, Kak. Kalau dokter Rena kan jelas, sumbangsihnya bagi orang lain. Kalau Qia kan cuma bisa mengajak mereka berhayal saja." Kali ini Qia menjawab dengan agak panjang.


"Eeeh, cuma menghayal bagaimana?" protes Rena.


"Dia ini novelis hebat, loh. Jangan bilang kamu tidak tahu kalau dia ini sebenarnya Kemilau Senja, Sat? Novelnya saja sudah banyak banget yang diterbitkan. Dan isinya itu loh, sangat menginspirasi banyak orang. Jadi, gak heran, dong kalau Qia juga terpilih menjadi salah satu wanita inspiratif. Apalagi, usianya masih sangat muda banget. Kalian mungkin gak percaya kalau aku ini salah satu penggemarnya. Aku bahkan mengoleksi beberapa karya Kemilau Senja," imbuh Rena. Sementara, empat lelaki yang ada di tempat itu saling pandang


"Jangan begitu, Dok, Qia kan jadi malu," kata Qia dengan wajah mulai memerah.


"Tunggu ... tunggu ... tunggu. Jangan-jangan, yang di platform itu kisah nyata kamu sama Satrio?" tebak Rena.


GLUK


Qia menelan ludah. Kini wajah cantik itu sudah seperti kepiting rebus. Serta-merta, ia menunduk dalam-dalam, tidak berani sama sekali menatap wajah suaminya.


Bukan apa-apa. Yang dikatakan dokter Rena itu memang benar. Itu memang perjalanan cinta mereka. Qia tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya suaminya membaca cerita itu. Tentu ia merasa sangat malu.


Padahal, tanpa ia ketahui, keempat lelaki itu sudah membaca semuanya