Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
16. Ini Perintah



"Mengapa menatap Satrio seperti itu?" tanya pemuda itu jengah. Namun, ia masih bersikap tenang


"Yakin, dengan ucapanmu itu?" tanya Umi Silmi menyelidik. Bagaimanapun, Satrio adalah darah dagingnya. Meski lama tidak tinggal bersama, Umi Silmi sangat memahami sifat dan karakter Satrio.


"Tentu saja, Umi. Yaa Allah, kenapa sih,  Satrio selalu dicurigai?" Pemuda itu mulai menampakkan kekesalannya.


"Bukannya curiga, Sat. Kami hanya kurang yakin saja," jawab Umi Silmi.


"Itu sama saja dengan tidak percaya sama Satrio, Mi."


"Sat, bagaimanapun, darah Abi ini mengalir di tubuhmu. Sedikit banyak, Sifat dan karakter Abi juga terwariskan pada dirimu. Jadi, Abi juga bisa menebak, apa yang ada di dalam benakmu," tutur Abi Kun.


Satrio terhenyak. Pemuda itu agak tersinggung karena merasa diragukan.


"Jadi... apa yang ada di benak Satrio?Kalau Abi merasa sangat mengenal Satrio, harusnya Abi paham bagaimana dekatnya hubungan Satrio dengan Kak Pras. Harusnya Abi tahu, betapa Satrio sangat kehilangan Kak Pras.


Selama ini, ia selalu ada untuk Satrio. Kak Pras selalu ada di saat Satrio sedang menghadapi masa sulit. Tidak bolehkah Satrio membalas semua kebaikannya meski agak terlambat?


Bagaimanapun, Kak Pras sudah memilih gadis itu. Ia sudah bertekad untuk menjadi pelindung dan imam bagi Qia. Ia ingin gadis itu bahagia. Tapi ternyata, taqdir berkata lain. Niatan itu belum kesampaian karena maut terlebih dulu datang menjemputnya.


Biarkan Satrio meneruskan apa yang menjadi impian Kak Pras. Ia tidak bisa mewujudkannya. Biarkan Satrio yang menggantikannya," tutur Satrio panjang lebar, tapi penuh ketegasan.


Dua orang tua itu saling pandang. Apa yang dikatakan Satrio itu memang masuk akal. Terlebih, pemuda itu mengatakannya dengan serius, tak ada kesan main-main, baik dalam suara atau pun mimik muka.


Hanya saja... entahlah, entah apa namanya mereka tidak tahu. Ada sedikit perasaan tidak enak yang terselip di hati mereka. Namun, mereka tidak bisa mengungkapkannya.


Terus terang saja. Ada kalanya, mereka tidak mengetahui jalan pikiran anak itu. Mungkin karena Satrio sudah lama tidak berada dalam pengawasan mereka. Tapi mau mencegah niat baik itu, rasanya kok tidak tega.


"Ya sudah, kalau kamu serius dengan ucapanmu, Abi setuju saja. Yang penting, kamu mau bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan. Ingat Sat, menikah itu bukan main-main.Gadis itu memiliki perasaan. Jangan pernah mempermainkan anak orang!"  ujar Abi Kun.


"Bagaimana, Mi?" Lelaki tua itu kemudian bertanya pada Umi Silmi. Sesaat, wanita itu diam, lalu menghela napas.


"Umi sangat menyayangi Qia. Membayangkan gadis itu akan diambil sebagai menantu oleh orang lain, rasanya Umi tidak sanggup.  Kalau sekarang Satrio ingin menikahinya, tentu Umi sangat senang. Tapi Umi akan merasa sedih jika Kamu menyakitinya, Sat. Setidaknya, ingatlah Umi, jika suatu saat, terbersit setitik saja di hatimu untuk menyakiti Qia. Karena saat itu, sama saja kamu sedang menyakiti hati Umi," kata Umi pelan.


Satrio menunduk. Pemuda itu tidak berani menatap wajah penuh wibawa itu. Ada sedikit bergidik di hatinya manakala mendengar ucapan Umi Silmi. Tapi, kata-kata itu sudah keluar dari mulutnya. Ibarat sebilah pedang, tak akan bisa masuk begitu saja ke dalam kerangkanya sebelum terhunuskan ke dada musuh. Begitulah yang terbersit dalam pikiran pemuda itu.


Sejenak, suasana menjadi hening. Pikiran Umi Silmi dan Abi Kun sama-sama mengembara. Mereka sama-sama teringat, bagaimana masa kecil Prasetyo dan Satrio.


Apa pun yang dimiliki Pras, Satrio selalu berusaha memilikinya juga. Begitu sayangnya Pras pada Satrio, maka ia rela memberikan apa pun yang dia miliki untuk Pras.


"Haruskah semua berlaku seperti itu? Bahkan untuk memberikan gadis yang akan dia miliki pada Satrio, taqdir bahkan membantunya dengan menghilangkan nyawanya?" pikir Abi Kun.


"Ah, pikiran konyol macam apa ini? Tentu saja kejadian ini tidak ada hibungannya. Toh selama ini Satrio tidak kenal sama sekali dengan Qia," batin Abi Kun lagi.


Lelaki itu hanya berharap, semoga apa yang dikatakan Satrio tadi benar. Ia tahu, Satrio bukan orang jahat. Namun, terkadang ia menyadari, jiwa petualang dan kebadungan anak itu sering tak terkontrol olehnya.


"Aaah,semoga ini adalah jalan keluar untuk mengatasi masalah ini."


Malam sudah semakin larut. Satrio betul-betul tidak bisa memejamkan mata. Pemuda itu teringat dengan kata-kata yang ia ucapkan tadi.


"Saya yang akan menikahinya?"


Hampir tidak bisa dipercaya, kalimat sakral itu keluar dari mulutnya. Terlebih yang dimaksud adalah menikahi gadis jutek tidak dikenal yang amit-amit galaknya.


Saat kecelakaan itu, ia tidak tahu kalau gadis itu adalah tunangan Pras. Bahkan ia sempat geregetan karena gadis itu sok suci dan sok alim banget. Ia sudah berbaik hati menolong, eh malah kena damprat hanya karena sedikit menyentuhnya.


"Lihat saja, kalau kita beneran menikah, bisa apa kamu?"  batin Satrio gemas.


Pemuda itu sedikit menyunggingkan senyum nakalnya.


Ah, tapi apa ia akan tega? Bagaimanapun,  ia tidak sejahat itu.


Seketika  pemuda itu teringat pada Pras. Dalam kondisi apa pun, dirinya tidak akan sanggup untuk menghianatinya.


"Gadis itu pasti sangat istimewa," pikir Satrio.


Ia kenal betul seperti apa Prasetyo. Kalau sampai Pras memilihnya, berarti ia bukan gadis sembarangan. Sungguh, ia tidak ingin arwah orang yang sangat dia sayangi itu penasaran dan tidak tenang.


Tapi sanggupkah ia memberikan hatinya untuk Qia? Entahlah. Sekali lagi Satrio menghela napas. Ia mamang sangat penasaran dan ingin menaklukkan gadis galak itu. Tapi bukan berarti mudah baginya untuk jatuh cinta.


Satrio juga teringat kata-kata Umi Silmi. Wanita terkasih itu akan sedih dan kecewa kalau dirinya mempermainkan Qia.


Ah, sudahlah. Mengapa harus pusing? Bukankah ini semua hanya sementara?  Ia hanya perlu sedikit bersandiwara sampai kasus ini selesai. Lagipula, Qia juga akan terbebas dari penderitaan jika pembunuh yang sebenarnya terungkap. Gadis itu pasti akan mengerti. Sungguh, ia tidak bermaksud menyakitinya. Ia hanya terpaksa.


Sebuah suara tegas dan mengintimidasi masih terngiang di telinga Satrio.


"Kamu harus menikahinya! Ini adalah perintah!"


"Mengapa harus menikahinya, Pak?" tanya Satrio.


"Karena ini adalah satu-satunya cara untuk mengungkap kebenarannya. Kasus ini semakin berlarut-larut dan belum ada titik terang. Saya yakin, gadis itu pasti mengetahui sesuatu. Karena itu, kamu harus mencari tahu! Lakukan sesuai dengan caranya," kata Mr Bos suatu hari.


"Tapi kenapa saya, Pak?" tanya Satrio lagi, tanpa bermaksud melawan.


"Karena kamu yang memiliki kedekatan dengan mereka. Dan saya tegaskan sekali lagi...ini adalah perintah!"


Satrio tidak berdaya. Namun, ia bisa apa? Dirinya hanya bawahan. Ia tidak akan sanggup melawan sebuah kalimat sakti dari atasan, "Ini adalah perintah!"


Meski harus melawan nurani, ia harus melakukan, karena itu adalah perintah.


-Bersambung-