
Pukul delapan pagi, Qia sudah bersiap-siap. Ayahnya sudah memesan taksi online untuk mereka bertiga. Sebenarnya, pemanggilan masih pukul sembilan nanti. Namun, bagi Qia, semakin cepat semakin baik. Ia ingin segera memberikan klarifikasi dan terbebas dari kasus itu.
“Jangan khawatir, Qi, ayah dan ibu selalu bersamamu!” kata Bu Mirna. Wanita paruh baya itu pura-pura tegar untuk bisa memberikan dukungan dan semangat pada Qia, padahal hatinya rapuh.
“Iya, Bu. Doakan kasus ini segera selesai!” kata Qia.
“Tentu saja, Nak. Ayo, kita berangkat sekarang saja! Taksinya sudah datang kah?” tanya Bu Mirna.
“Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi,” jawab Pak Zul. Lelaki itu baru saja dari serambi depan untuk memeriksa apakah taxinya sudah sampai atau belum.
***
Masih pukul 09.45 WIB ketika mereka sampai di kantor polisi. Ustazah Kamila belum tampak. Sedangkan Bu Silmi dan Om Kun sudah terlihat di ruang tunggu. Tidak ada lagi yang dikenal Qia di sana. Hanya beberapa orang tak dikenal yang juga duduk di ruang tunggu. Tak mungkin Qia jelalatan memelototi mereka satu-persatu. Mungkin mereka memiliki kepentingan yang sama, Qia tidak tahu.
Seperti biasa, Qia mencium tangan Bu Silmi dan memeluk wanita itu ketika bertemu. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, wanita itu membelai kepala Qia dan menepuk-nepuk punggungnya. Sudah lama ibu Prasetyo itu merindukan seorang putri. Saat Pras mengajak mereka untuk melihat Qia, ia sudah langsung jatuh cinta. Sungguh, Qia adalah menantu idaman. Tapi sekarang, impian itu seakan terbang bersama hempasan angin senja.
“Maafkan kami, ya, Nak! Karena kasus ini, Qia jadi ikut-ikutan terbawa!” kata Bu Silmi penuh arti.
“Umi, kenapa berkata seperti itu? Umi sekeluarga tidak bersalah. Kita semua adalah korban. Terima kasih karena Umi dan Abi Kun sudah berkenan hadir untuk memberi dukungan pada Qia,” kata Qia sambil melepas pelukan.
Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Begitu juga dengan Bu Silmi. Qia menatap lekat-lekat wanita bergamis itu. Sungguh, kejadian terbunuhnya Prasetyo itu telah menambah garis-garis lipatan di seputar mata tua itu. Qia tahu, Ibunda dari Prasetyo itu pasti sangat menderita.
Saat berhadapan dengan Bu Silmi itulah, ekor mata gadis itu menangkap sesosok yang dari tadi memperhatikan mereka. Sedikit kesal, dalam hati gadis itu bertanya-tanya, kenapa pemuda gondrong meyebalkan itu selalu membuntutinya. Kenapa ia selalu ada di saat ia sedang terlihat rapuh tak berdaya?
Seperti pada perjumpaan sebelumnya, pemuda itu tampak cuek dan bermuka datar. Sulit ditebak apa yang ada di dalam benaknya. Hanya saja, tatapan setajam mata elang itu terasa menusuk manik mata Qia. Dengan cepat, pemilik mata kelinci itu segera membuang muka. Seakan tak mau kalah, ia juga memasang wajah datar. Itu bukan hal yang mudah. Sangat sulit bagi gadis itu untuk berpura-pura. Ini tidak seperti yang ia tuliskan dalam perwatakan tokoh-tokoh di novelnya. Karena itu, ia jadi salah tingkah.
Saat Bu Silmi mengajaknya duduk di kursi tunggu, ia terantuk kaki wanita itu dan hampir terjatuh. Untung wanita itu segera menangkap tubuhnya .
Qia mengangguk. Spontan ia melirik ke arah pemuda gondrong. Entah sekadar ilusi atau memang benar adanya, sekilas tampak seulas tarikan ke atas di sudut bibir pemuda itu. Sepertinya lelaki itu sedang menertawakannya. Gadis itu bertambah geram.
“Kurang ajar banget nih, orang,” gerutu Qia dalam hati. Ia merasa sangat kesal. Jelas sekali kalau si gondrong itu sedang mengejeknya. “Astaghfirullah, kenapa aku jadi mengumpat orang?” sesal Qia. Sementara, si gondrong itu tampak cuek-cuek saja.
Untunglah seorang polisi wanita segera memanggil namanya. Untuk sementara, gadis itu terbebas dari tatapan yang menurutnya kurang ajar itu. Meski ia tahu, jurang yang lain sedang menunggunya. Seumur-umur, ia belum pernah berurusan dengan polisi. Dan kini, ia dengan terpaksa harus mengalaminya.Terus terang, Qia agak takut. Ia hanya berdoa, semoga bisa melewati ini semua.
***
Dua jam lebih Qia menjalani pemeriksaan. Hampir saja ia gila karena harus berulang-ulang menjawab pertanyaan yang sama. Entah apa maksudnya, Qia tidak tahu. Mungkin mereka tidak percaya kalau dia dan Pras hanya beberapa kali bertemu. Itu pun tidak berdua, tapi ada orang-orang terdekat yang ada bersama mereka.
Faktanya, mereka hanya taaruf sebentar dengan perantara Ustadzah Kamila dan suaminya. Kemudian ada kecocokan, lalu Pras datang melamar bersama kedua orang tua. Setelah itu, Keluarga Qia yang datang ke rumah Pras untuk teges gawe. Sudah, itu saja.
Bagi kebanyakan masyarakat, hal itu memang tidak lumrah. Dalam kehidupan Kapitalis yang serba bebas ini, pacaran dan hubungan di luar batas adalah hal yang biasa. Justru hubungan yang dijalani oleh Qia dan Pras dianggap tidak biasa.
Tadinya polisi banyak berharap pada Qia. Paling tidak, gadis itu bisa menceritakan tentang keluhan-keluhan Pras, keanehan-keanehan tingkah laku pemuda itu dalam beberapa waktu sebelum terjadi pembunuhan atau apa saja yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Tapi dengan pengakuan Qia yang seperti itu, akhirnya polisi kembali menemui jalan buntu. Karena itu, berulang-ulang mereka menanyai Qia dengan pertanyaan yang sama. Sedikit saja ada jawaban yang berbeda, itu berarti ada sesuatu yang disembunyikan Qia. Artinya, Qia tidak mengatakan yang sesungguhnya. Namun, harapan mereka sia-sia karena Qia memberikan jawaban yang sama.
Syukurlah, setelah dua jam lebih, akhirnya pemeriksaan itu selesai. Wajah kuyu dan lelah gadis itu menyembul dari ruang pemeriksaan diiringi tatapan khawatir ayah, ibu dan kedua orang tua Pras.
“Qi, kamu baik-baik saja?” kata mereka serentak.
Qia tersenyum kecut ke arah mereka. Satu hal yang menjadi kelemahannya. Ia tidak tahan berlama-lama di ruangan tertentu dengan beberapa orang atau di ruangan besar yang banyak orang. Kekurangan oksigen membuat gadis itu merasa cepat pusing, bahkan sampai sakit kepala sebelah. Seperti saat ini, kepalanya mulai berdenyut-denyut. Tapi ia tidak bisa mengabaikan orang-orang yang perduli padanya.
“Tidak usah lebay! Dia hanya ditanyai saja.”
Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar di sela-sela kecemasan mereka. Semua berpaling dan melihat ke pemilik suara itu, termasuk Qia. Mata kelinci itu langsung terbelalak begitu tahu siapa yang bersuara. Serta-merta, kepala yang sudah senut-senut itu solah ditambah pukulan palu godam seberat onta. Saat ia mendelikkan mata, lelaki itu tersenyum nakal ke arah Qia. Gadis itu menjadi kesal dibuatnya.