Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
19. Untuk Menerima, Duhai ... Alangkah Beratnya!



Qia menundukkan wajah. Sekilas, ia melirik pada ibunya. Wajah yang mulai tirus itu menatapnya dengan penuh harap. Meski tak terucap sepatah kata, Qia mengerti arti tatapan itu. Qia jadi serba salah.


"Tolong, beri Qia waktu, Yah! Bukankah istikharah itu merupakan langkah yang bijaksana?" jawab Qia retoris.


Ya, untuk saat ini, rasanya hanya itu jawaban yang bisa menyelamatkan gadis itu dari dilema.


***


Hari yang panjang dan sangat melelahkan. Begitulah menurut perasaan Qia. Malam itu, ia tidak dapat memicingkan mata. Berbagai pikiran sedang berkecamuk di benaknya. Sebenarnya ia ingin menulis, tetapi tak ada gairah sama sekali. Pikirannya betul-betul buntu. Segala teori dan trik yang pernah ia sampaikan di kelas menulis sama sekali tidak mempan.


Entah mimpi apa ia semalam hingga orang-orang terdekatnya pada membicarakan masalah lamaran. Siang tadi, Ningrum membahas tentang kemungkinan lamaran Andre. Sampai di rumah, justru ayah dan ibunya juga membahas masalah yang sama, yaitu tentang lamaran Satrio.


Dari lubuk hati yang paling dalam, jujur Qia merasa sangat tertekan. Ia masih berduka atas kepergian Pras, tidakkah orang-orang itu memahaminya? Meski ia tahu, sebenarnya mereka melakukan itu karena peduli padanya.


Qia ingat, tatapan penuh harap dari sang ibu. Tentu saja Qia paham, bahwa predikat terbarunya sebagai gadis pembawa sial itu pasti membuat ibunya sangat cemas. Ibu mana yang tidak sedih jika memiliki anak gadis yang tidak laku?


Qia menatap langit-langit kamar.  Tidak ada yang berubah. Semua masih tetap sama. Hanya kondisi jiwanya saja yang tidak sama. Dulu, di langit-langit itu, ia menggambarkan mimpi-mimpi indah dengan goresan benak lugunya. Kini, gambaran itu perlahan-lahan musnah, tinggal coretan-coretan buram tanpa makna.


Qia menghela napas panjang. Kini  pikiran gadis itu beralih ke Umi Silmi. Hampir saja wanita bersahaja itu menjadi mertuanya. Ia sendiri sebenarnya merasa cocok dengan ibu dari Prasetyo itu. Sungguh ia adalah tipe mertua idaman, sangat berbeda dengan orang-orang yang sering dicurhatkan teman-teman atau para penggemar.


Selama ini, Qia bukan hanya menjadi penulis yang baik, tetapi juga pendengar yang baik. Meski belum menikah, ia sering mendapat curhatan dari ibu-ibu muda. Jadi, paling tidak Qia memiliki sedikit gambaran hubungan antara menantu dan mertua, dan Umi Silmi adalah gambaran sosok yang istimewa.


Akan tetapi, sekarang kondisinya berbeda. Lelaki yang akan disandingkan dengan dirinya adalah sosok yang sangat tidak dia harapkan. Ia percaya sama Umi Silmi dan Abi Kun, tetapi ia tidak percaya sama Satrio.


Namun, menolak lamaran bukanlah perkara yang mudah. Terus terang, untuk urusan yang satu ini, Qia memang kurang tegas. Ia sering merasa tidak enak, terlebih orang itu sangat baik padanya.


Namun, untuk menerima, duhai ... alangkah beratnya! Qia sama sekali tidak mengenal Satrio. Meski dulu Prasetyo juga tidak begitu dia kenal, tetapi kakak beradik itu adalah dua sosok yang berbeda. Paling tidak, pembinaan rutin yang dijalani oleh Pras membuat pemuda itu selalu bersikap sopan, tindak-tanduknya diperhitungkan, dan berwawasan luas.


Setidaknya, Prasetyo tidak begajulan dan pecicilan seperti Satrio. Sungguh, saat berada di dekat Satrio, Qia sama sekali tidak merasa nyaman. Ia bagai seekor kelinci mungil yang sedang berada dalam incaran seekor elang.


Aah ... Qia bingung. Haruskah ia menerima lamaran Umi Silmi?


***


"Saya harus bagaimana, Ust?" tanya Qia pada Ustazah Kamila keesokan harinya.


Ustazah Kamila tidak langsung menjawab. Wanita bersahaja itu menatap Qia sesaat. Ia bisa merasakan, bagaimana gundahnya gadis itu.


"Insyaallah saya paham, Ust. Namun, ini benar-benar dilema. Saya merasa berat untuk menerima Satrio. Namun, untuk menolak Umi Silmi, rasanya kok, tidak enak, gitu," terang Qia.


"Cobalah untuk tidak menjadikan perasaan sebagai satu-satunya ukuran!" kata Ustadmzah Kamila.


"Iya, Ust. Tapi, memang agak sulit untuk mengatakan tidak. Umi Silmi selama ini sudah sangat baik."


"Insyaallah saya akan mencoba berbincang dengan Umi Silmi. Saya akan mencari tahu tentang Satrio,  juga alasan Beliau ingin menjodohkan anti dengan pemuda itu. Selagi saya mencari informasi, teruslah memohon petunjuk pada Allah. Jangan pernah melupakan istikharah!" kata Ustazah Kamilah.


"Insyaallah,  Ust. Jazakillah khsir," jawab Qia.


**"


Qia merasa lega. Pertemuan dengan Ustazah Kamila beberapa hari yang lalu cukup membuat gadis itu merasa tenang. Namun, penjelasan dari Ustazah kali ini membuatnya gusar lagi.


"Dek, saya sudah berbicara empat mata dengan Umi Silmi kemarin. Sesungguhnya beliau memang sangat menginginkan anti jadi menantu. Beliau merasa sayang kalau anti jadi menantu orang lain.  Jadi, saat Satrio menawarkan diri untuk memperistri anti, beliau langsung sepakat," jelas Ustadzah.


"Satrio menawarkan diri?" tanya Qia hampir tak percaya.


"Iya, Dek. Satrio yang menawarkan diri. Jadi, tidak ada unsur paksaan sama sekali. Dia hanya ingin agar anti tidak sendirian menghadapi kasus ini. Terlebih, dengan adanya anggapan buruk tentang anti, Umi Silmi jadi khawatir sekali. Satrio juga tidak ingin Uminya merasa khawatir."


Qia terdiam. Terus terang, penjelasan dari Ustazah kali ini semakin membuat gadis itu bingung. Entah mengapa, ia masih belum bisa mempercayai Satrio.


"Saya belum berani menyarankan agar anti menerima atau pun menolak lamaran itu. Semua masih terlalu dini. Sejujurnya, saya belum bisa memberikan gambaran yang jelas tentang Satrio. Sepintas, ia adalah pemuda baik-baik,  tidak begajulan atau pun pecicilan seperti yang anti gambarkan. Namun, cara pandangnya memang agak berbeda dengan Akhi Prasetyo," jelas Ustadzah Kamila.


Qia mengerti, apa arti dari kalimat Ustazah yang terakhir.  Kalimat itu menunjukkan bahwa mereka memang tidak memiliki misi dan visi yang sama. Ini yang membuatnya merasa berat. Apalagi tindak-tanduk pemuda itu yang ....


"Tunggu tunggu tunggu ... Tadi Ustazah mengatakan kalau Satrio adalah pemuda sopan dan tidak begajulan, apalagi pecicilan. Gak salah, tuh? Tapi. tidak mungkin Ustazah Kamila mengada-ada," batin Qia.


Ibu dan ayah juga pernah berkata seperti itu. Mereka bilang, Satrio tidak seperti yang ia gambarkan. Mungkinkah hanya  pada Qia saja Satrio bersikap seperti itu? Atau, ini hanya ilusinya semata? Pertama melihat, ia sudah tidak suka, maka seterusnya gadis itu merasa tidak suka? Entahlah, yang jelas, ia memang merasakan sesuatu yang ganjil pada diri Satrio.


Aah, mengapa segalanya menjadi rumit seperti ini? Hati Taqiya yang semula tenang, kini mulai gundah lagi. Itu sebabnya, ia tidak bisa memejamkan mata. Gadis itu baru tertidur menjelang dini hari. Itu terlihat jelas keesokan harinya ada bulatan hitam seperti mata panda di matanya.


-Bersambung-