Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
104. Main Petak Umpet



"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Qia cemas. Ia semakin panik karena suara kaca pecah kembali terdengar.


"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana!" pesan Satrio tegas kemudian melangkah keluar. Tak lupa, ia mengantongi flashdisk yang tadi sudah dicabut dari laptop laptop.


Baru saja membuka pintu, Hendra muncul dengan wajah tegang.


"Cepat, Bos, mereka banyak sekali."


Satrio kembali masuk ke ruang kerja diikuti Hendra.


"Berapa? tanya Satrio.


"Tidak kurang dari satu kompi, Bos."


"Gila! Seratus orang menyerbu rumahku tanpa seorang pun yang curiga."


"Sepertinya mereka sudah mempersiapkannya sejak lama, Bos," sahut Hendra sambil berjalan menuju lemari buku yang cukup besar.


'Kau mengenali mereka?" tanya Satrio.


"Belum teridentifikasi, Bos. Mereka licin sekali."


"Ada apa, Kak?" tanya Qia. Melihat dua lelaki di depannya tegang, ia jadi ikut tegang.


"Ikut Kakak!" kata Satrio sanbil menggamit tangan Qia.


Qia menurut. Ia mengikuti langkah Satrio yang saat itu menggamit tangannya menuju ke lemari besar berisi buku. Meski nalarnya tidak bisa menerima, ia menurut saja. Harusnya mereka berlari keluar, ini malah ngendon di ruang kerja.


Sementara, Hendra yang melihat Qia ada di tempat itu langsung mengangguk untuk beramah tamah.


"Kak Ipar," sapa Hendra ramah.


Qia membalas anggukan itu sambil tersenyum ramah.


"Kita gak keluar, Kak?" tanya Qia setelah berpaling ke suaminya. Lama-lama ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Tentu saja kita akan keluar," jawab Satrio tenang.


"Kenapa malah ke sini?' tanya Qia lagi.


"Karena kita sudah dikepung Sayang." Satrio masih bersikap tenang.


"Trus?"


Satrio tidak menjawab. Ia menggeser salah satu buku tebal yang ada di lemari besar itu ke depan, kemudian meraba-raba ke bagian yang kosong itu. Rupanya di situ ada tombol kecil yang hampir tidak terlihat.


Qia ternganga.


Satrio memencet tombol itu hingga membuat lemari besar itu bergeser sedikit ke belakang layaknya pintu dibuka.


Qia yang merasa takjub langsung membuka mulut.


"Ayo, cepat!" ujar Satrio sambil menarik tangan Qia untuk masuk ke dalam.


Hendra mengikuti mereka. Setelah itu, ia menutup kembali pintu lemari tersebut sehingga rata kembali tanpa bekas.


Mereka kini berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Di pojok kanan terdapat kotak besar yang ternyata berisi beberapa senjata.


Satrio mengambil revolver dan juga senjata berlaras panjang. Begitu juga dengan Hendra. Ia melemparkan pistol yang tadi dia bawa kemudian menggantinya dengan senjata yang lebih canggih.


Setelah itu Satrio kembali menarik tangan Qia. Mereka berjalan tergesa melewati lorong yang panjang diikuti Hendra.


Tadinya pemuda itu ingin membantu yang lain menghambat pasukan tak dikenal yang menyerbu secara tiba-tiba. Namun, ia merasa lebih penting melindungi bosnya, siapa tahu ada yang berhasil mengejar mereka.


Mereka terus berjalan di lorong yang cukup gelap meski saat itu masih siang.


Qia menggenggam erat tangan suaminya. Jujur ia merasa takut berada di tempat yang lembab dan gelap seperti itu. Apalagi, sesekali tikus tanpa melintas di depan mereka. Si nokturnal itu merasa terganggu dengan kedatangan tiga manusia yang mengganggu tidur mereka.


"Kita ke mana ini, Kak?" bisik Qia masih terus menggenggam tangan Satrio.


"Ke tempat yang aman," jawab Satrio tenang.


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di sebuah pintu besar. Qia tidak tahu dari bahan apa pintu itu dibuat. Mungkin saja dari baja. Yang jelas, pintu itu sangat kuat dan ada simbol-simbol tertentu yang sepertinya sangat rumit.


Tidak sampai lima menit, pintu itu pun terbuka. Ternyata di situ ada garasi besar berisi beberapa mobil.


Qia semakin terpana.


"Ini mobil siapa, Kak?" tanya Qia ketika sang suami mendekati Mayback berwarna hitam dan membuka pintu belakang.


"Sayang, cepat dikit, waktu kita tidak banyak!" seru Satrio.


Qia menurut.


Satrio dan Qia duduk di belakang, sementara Hendra sudah duduk manis di depan kemudi.


"Mobil siapa, Kak?" Qia bertanya lagi setelah memasang sabuk pengaman.


"Mobil Kakak," jawab Satrio tenang.


Maybach hitam itu melaju kencang menyusuri jalan beraspal yang entah menuju ke mana. Saat itu Qia duduk dengan tegang tanpa bersuara.


"Sayang, apa kamu bawa ponsel?" tanya Satrio.


Qia mengangguk.


"Kenapa, Kak?" tanya Qia lagi.


"Matikan!" jawab Satrio singkat.


Qia menurut. Suamimu menyuruh dia mematikan ponsel tentu ada maksudnya. Satu-satunya yang terbersit di benak Qia adalah agar keberadaan mereka tidak terlacak.


Sementara itu, Maybach hitam itu masih terus malu dengan kecepatan tinggi. Semakin lama, jalan beraspal itu semakin sepi, hampir tidak ada kendaraan berlalu lalang.


"Kak Adri bagaimana, Hen?" tanya Satrio.


"Bos besar sudah mengosongkan daerah sekitar situ dan mengirim pasukan khusus. Bos akan menyusul kita setelah membereskan semua kekacauan," jelas Hendra.


"Ada mata-mata di rumah gue, Hen. Dan gue rasa ia orang yang sangat jenius. Gue sudah berkali-kali memeriksa sistem keamanan di rumah. Lo tau, teknologi gue sangat mutakhir dan tiada duanya. Kalau hanya penyadap dan sejenisnya, pasti sudah kedeteks. Namun, sampai saat ini gue belum menemukannya," ujar Satrio.


"Kurasa begitu, Bos. Tapi aku kenal semua penjaga, Bos. Semua masih berada di bawah kontrol dan kendaliku, Bos, dan sepertinya ia aman-aman saja." Hendra jadi merasa bersalah.


Itu karena para penjaga itu adalah anak buah yang berada dalam kendalinya.


"Untuk menjadi jenius, tidak harus tampak seperti pahlawan super, Hen. Justru orang yang tampak lemah atau biasa-biasa saja adalah jenius yang sesungguhnya. Orang jenius kadang menyembunyikan identitasnya," celetuk Qia.


Hendra menatap dua orang di belakangnya melalui kaca spion secara bergantian. Ia ingin ngakak, tapi tidak berani.


"Seperti Kakak Ipar, gitu?" ujar Hendra takut-takut.


"Maksudmu apa, Hen?" ujar Qia rada tersinggung. Nada suaranya naik satu oktaf.


Hendra terkejut. Ia yang biasanya mendengar Qia selalu bicara lemah lembut jadi khawatir.


"Maaf, Kak, jangan marah, dong. Maksud aku, Kakak ipar itu jenis. Beneran, aku saja sampai ngefans berat," ujar Hendra cemas.


"Hen!" Sekarang Satrio yang berteriak.


Posisi Hendra kini terjepit. Akhirnya, demi kebaikannya, ia memutuskan untuk diam. Untungnya Qia dan Satrio tidak memperpanjang urusan itu.


Satu jam lebih mereka berkendaraan tanpa henti. Kian lama, Qia merasa jalan semakin menanjak dan berliku, menunjukkan bahwa mereka sudah berada di luar kota.


"Kita ke mana, sih, Kak? Sepertinya ini daerah pegunungan?" Bisik Qia lagi ketika mobil mereka mulai masuk ke hutan.


"Sementara, kita akan main petak umpet dulu, sambil mempelajari situasinya," kata Satrio.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti sejenak di depan pintu gerbang sebuah bangunan yang cukup besar. Dua orang penjaga langsung membuka pintu setelah mengenali Hendra yang duduk di depan setir.


Dari jauh, bangunan besar itu tidak terlihat karena tertutup hutan yang cukup lebat.


Mobil memasuki pintu gerbang kemudian berhenti di depan pintu yang juga cukup besar. Beberapa penjaga tampak menunduk hormat pada mereka.


"Kita akan tinggal di sini sementara, Sayang, sampai Kak Adri membereskan semua kekacauan ini," kata Satrio.


Ia masih menggenggam erat tangan Qia untuk memberikan kekuatan. Mereka lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar yang lebih tepat disebut sebagai markas itu.