Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
55. Salah Paham



"Bukan rumah kita, Kak. Tapi kamar Qia yang di rumah ibu," jelas Qia.


Satrio mengeryitkan dahi. Rupanya ia telah salah paham.


"Ya sudah, jangan ke mana-mana, Kakak akan segera pulang."


Satrio menutup telepon setelah berbalas salam, kemudian meninggalkan ruang rapat. Sebelum pergi, ia mengalihkan tugas untuk memimpin rapat pada Hendra kemudian meluncur ke rumah.


"Kirim Edi sama timnya ke rumah mertua gue, Hen. GPL ya."


"Siap!"


***


"Kita ke rumah ibu sekarang, Qi," kata Satrio ketika sudah ada di rumah.


"Kakak tidak minum dulu?" tanya Qia. Ia tidak ingin disindir lagi seperti kemarin gara-gara takut telat sehingga tidak menawari suaminya minum.


"Tidak perlu."


"Yakin?" tegas Qia.


"Iya, bener. Tadi Kakak sudah banyak minum."


"Baiklah, kita berangkat sekarang," kata Qia sambil ngintil di belakang Satrio yang sudah berjalan duluan.


Seperti kemarin, kali ini Satrio juga mengeluarkan Porche 911 Carrera dari garasi karena tak ingin Qia kesulitan kalau dibonceng pakai motor.


"Kok belum dikembalikan, Kak, mobilnya? Memangnya tidak dipakai sama si Bos?" Qia bertanya setelah duduk di sebelah Satrio.


"Tenanglah, bos Kakak orangnya baik banget. Dia sudah kayak keluarga sendiri sama Kakak," jelas Satrio santai.


Sebenarnya Satrio tidak berbohong. Ia memiliki mobil jenis lain di garasi. Hanya saja mobil itu sengaja tidak ia pakai karena khawatir Qia akan semakin curiga sama posisinya.


Bagi Qia, penjelasan suaminya itu terlalu mengada-ada. Apa iya, ada orang sebegitu baiknya? Ia malah yakin seratus persen kalau mobil itu justru milik suaminya sendiri. Apalagi, mobil itu ada di garasi suaminya.


Jujur, Qia belum pernah ngintip ke dalam. Selain belum ada waktu, ia juga merasa tidak berkepentingan.


"Kenapa?" tanya Satrio karena melihat sikap diam Qia.


"Tidak ada apa-apa, hanya mengkhawatirkan ibu saja," jawab Qia.


Satrio tidak bertanya lagi. Ia tahu, ada yang sedang dipikirkan Qia, tapi istrinya itu sengaja tidak mengatakan. Namun, seperti yang sudah-sudah, ia tidak mau mendesaknya. Akhirnya, keduanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Tigapuluh menit kemudian, mereka sampai. Ternyata di sana sudah ada berapa orang berpakaian hitam dengan membawa anjing.


"Sepertinya itu anjing pelacak," pikir Qia.


Ia segera turun dan berlari ke arah ibunya yang saat itu berada di teras rumah. Beberapa warga juga tampak di sekitar mereka. Bagaimana tidak? Keberadaan beberapa orang berpakaian hitam bersama dengan anjing pelacak tentu saja membuat mereka penasaran.


"Bu ...." sapa Qia sambil memeluk ibunya, kemudian mencium punggung tangan ayahnya.


Baru beberapa hari tidak berjumpa, rasanya sudah bertahun-tahun.


Satrio juga mencium punggung tangan ayah dan ibu mertuanya. ia terlihat sangat sopan.


"ibu memanggil polisi?" tanya Qia sambil menunjuk ke orang-orang berbaju hitam


Bu Mirna tampak bingung. begitu juga dengan Pak Zul.


"Loh, bukan kalian yang manggil?'" tanya Bu Mirna.


Tiga orang itu langsung menatap Satrio.


"Saya yang panggil mereka," kata Satrio akhirnya


Suami Qia itu berjalan menuju orang-orang berbaju hitam.


Dari jarak cukup jauh, Qia dan kedua orang tuanya memperhatikan tingkah pemuda itu. Sepertinya ia sedang memberi instruksi. Jelas terlihat orang-orang itu sangat menghormati Satrio, membuat Qia semakin bertanya-tanya, siapa sesungguhnya suaminya. Benarkah ia hanya seorang programmer saja?


Beberapa saat kemudian, Satrio berbalik dan berjalan menuju Qia dan kedua orang tuanya.


Pak Zul mengangguk kemudian mengajak Satrio masuk diikuti Bu Mirna dan Qia.


Setelah sampai di kamar Qia, Satrio hanya melihat sekilas tanpa menyentuh apa pun, kemudian menoleh ke Qia.


"Qi, dua orang dari mereka akan masuk, juga anjing pelacak itu. Kau tidak keberatan, kan?" tanya Satrio.


Bagaimanapun, itu adalah kamar istrinya. Kehormatan istrinya adalah kehormatan dia juga. Ia juga khawatir kalau istrinya keberatan dengan keberadaan anjing pelacak itu karena air liurnya.


"Jangan khawatir, nanti Kakak bantu membersihkannya."


Qia mengangguk. Begitu juga dengan Pak Zul dan Bu Mirna. Apa mereka punya pilihan lain?


Satrio kemudian keluar dan memanggil Edi yang langsung menjalankan tugasnya dibantu satu orang temannya. Sementara, yang lain memeriksa kondisi di luar, terutama sekitar kamar Qia.


Sebenarnya, saat tinggal di rumah itu, Satrio memasang beberapa kamera di titik-titik tertentu, terutama di kamar Qia dan sekitarnya. Namun, rupanya penyusup itu cukup pintar. Terbukti, Satrio tidak bisa menangkap bayangan mereka.


***


Beberapa saat kemudian Edi dan yang lainnya telah selesai menyelesaikan tugas mereka, kemudian undur diri. Namun begitu, Satrio menempatkan orang-orangnya untuk menjaga Pak Zul dan Bu Mirna.


Orang-orang kampung pun bubar. Hanya beberapa orang saja yang masih terlihat sambil kasak-kusuk.


***


"Mereka nurut banget, ya, sama Kakak?" celetuk Qia ketika mereka duduk berdua di sofa ruang tamu.


Bu Mirna sedang berada di dapur untuk membuatkan anak dan menantu kesayangannya minuman. Sementara, Pak Zul sedang berbicara di telepon dengan seseorang. mungkin Abi Kun.


"Apa masalahnya? Mereka hanya sedang menjalankan perintah. Lagipula, suamimu yang tampan dan hebat ini tentunya banyak teman dan koneksi," ujar Satrio sambil menepuk dadanya.


Qia mencebik. Mulutnya mengerucut membuat Satrio merasa gemas.


"Duuh, narsisnya suamiku ini," cibir Qia.


Satrio tergelak. rasanya ingin mencomot bibir ceri itu. Untung saja, Bu Mirna segera datang. Kalau tidak ....


Wanita paruh baya itu membawa nampan berisi minuman untuk mereka.


"Ah, Ibu. Kayak Qia ini tamu saja," kata Qia.


"Tidak apa-apa. Sekarang kalian istirahat di kamar tamu saja. Ibu sudah minta tolong orang untuk membersihkan kamar kalian," kata Bu Mirna.


"Tapi, Bu ...."


"Sudah, nurut aja," bisik Satrio sambil menggamit tangan Qia dan berjalan menuju kamar tamu.


Satrio memang capek sekali. Semalam ia hampir tidak tidur. Paginya melatih anak buahnya terus langsung memimpin rapat. Ia yakin, Qia juga merasa capek.


sebenarnya ini adalah kesempatan baginya untuk menginterogasi Qia sekali lagi. Momennya sangat pas, yaitu ketika ada penyusupan di kamar Qia. Namun ia mengurungkan niatnya karena merasa lelah.


"Nanti ke rumah Ustazah jam berapa?" tanya Satrio.


"Jam setengah empat, Kak."


"Ya sudah, kita istirahat sebentar," kata Satrio sambil berbaring di atas kasur kemudian memejamkan mata.


Qia yang masih berdiri sambil menatap suaminya bergeming.


Satrio yang mengetahui hal itu langsung berkata tanpa membuka mata.


"Kamu juga istirahat Qi. Tidurlah, kalau tidak ..." ancam Satrio.


Mendengar itu, Qia buru-buru naik ke kasur dan berbaring di sebelah suaminya.


Tentu saja ia tidak bisa memicingkan mata. Namun karena takut Satrio akan menjahilinya, maka ia pura-pura memejamkan mata dan lama-lama akhirnya tertidur juga.


Di sebelahnya, justru Satrio yang tidak bisa memejamkan mata.


"


h