
[Kau sudah menemukan siapa dalangnya?]
[Belum, Bos. Saya rasa, mereka dari dua kubu yang berbeda]
[Bagaimana dengan pelurunya?]
[Belum bisa ditemukan, tapi selongsongnya sudah bisa diidentifikasi. Sangat jelas kalau barang itu dari kesatuan kita. Entah tim yang mana, yang jelas, ada orang hebat di belakangnya. Saya rasa, ini bukan permainan biasa]
[Kamu benar. Hanya orang besar yang bisa menggerakkan kesatuan kita. Itu berarti, kasus ini memang tidak biasa. Terus selidiki, jangan sampai kecolongan lagi. Mereka sudah mulai bergerak, jadi kamu harus segera bertindak. Cepat jalankan plan A]
[Siap!!]
***
Malam itu. Abi Kun, Umi Silmi dan Satrio langsung meluncur ke rumah Qia. Mereka ingin melihat Qia dan memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Sebenarnya Abi Kun dan Umi Silmi ingin langsung datang ketika Pak Zul menelpon siang tadi. Namun, saat itu Satrio masih ada urusan di tempat kerjanya dan tidak bisa ditinggal. Itu sebabnya, mereka baru bisa datang malam hari.
"Kamu baik-baik saja, Qi?" tanya Umi Silmi langsung memeluk Qia, seperti biasa saat mereka bertemu.
"Iya, Umi," jawab Qia.
"Kamu gak terluka kan, Qi?" tanya Umi Silmi lagi. Kali ini dengan meneliti tubuh Qia dari muka sampai ke kaki.
"Alhamdulillah, Qia baik-baik saja, Mi, tidak ada luka sedikit pun. Tadi ada yang nolongin Qia," jawab Qia lagi.
Umi Silmi menghela napas lega. Ia lalu duduk di antara Abi Kun dan Satrio.
"Bagaimana kronologinya, Qi?" Kali ini Abi Kun yang bersuara, sementara Satrio hanya duduk diam sambil mendengarkan percakapan itu.
Qia mengambil napas, lalu memperbaiki tempat duduknya, kemudian mulai bercerita. Sesekali, tangan mungil itu mengusap dahinya yang agak berpeluh. Maklum, kipas angin tanggung yang ada di ruang tamu itu tidak sanggup mengalahkan ganasnya cuaca tidak menentu di bulan Mei ini.
Abi Kun dan Umi Silmi mendengarkan dengan seksama. Meski saat itu Qia hanya menceritakan garis besarnya saja, tetapi mereka berdua dapat menangkap maksudnya. Tentu saja keduanya menjadi sangat khawatir.
"Bagaimana ini, Sat?" tanya Abi Kun. "Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja? Abi khawatir kalau-kalau mereka akan mengganggu Qia lagi."
"Betul, Sat. Kali ini mereka gagal melukai Qia. Umi rasa mereka akan datang lagi." Kali ini Umi Silmi yang berbicara.
"Tapi kita tidak punya bukti apa-apa, Mas Kun. Kalau hanya berdasarkan cerita Qia saja, apa mereka akan percaya?" tanya Pak Zul dengan nada pasrah.
Mendadak semua diam, seolah membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh Pak Zul.
"Sat!" desak Umi Silmi. Semua mata kini tertuju pada pemuda itu.
Sementara itu, Satrio yang saat ini menjadi pusat perhatian, bukannya menjawab pertanyaan uminya malah beranjak dari tempat duduk. Pemuda itu malah menyeret kursi kecil yang ada di samping kanan meja, kemudian digeser persis di sebelah Qia. Ia kemudian duduk di sana. Kelakuannya itu tentu saja membuat Qia merasa tidak nyaman.
"Astaghfirullah, orang ini maunya apa, sih?" rutuk Qia dalam hati.
Jangan ditanya bagaimana rasanya, pasti grogi banget. Bagaimanapun, Satrio adalah calon suaminya yang baru saja ia kenal. Berada sedekat ini dengan pemuda itu tentu saja membuat jantungnya terasa tidak aman.
Qia melirik Satrio sejenak. Saat itu, Satrio mengenakan celana jeans dan kaos putih yang dilapisi jaket kulit warna hitam. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang membuatnya terlihat macho, meski tampak rada urakan. Tatapan matanya yang tajam itu, seperti biasanya, bagai mata seekor elang yang siap menerkam mangsa.
"Apa kau bisa melihat dengan jelas, wajah orang yang menodongkan pisau itu?"
Suara bariton itu sedikit mengejutkan Qia membuat gadis itu agak gelagapan. Ini adalah kali kedua Satrio bertanya padanya secara langsung. Yang pertama adalah saat Satrio bertanya apakah Qia mau menikah dengan dirinya atau tidak. Untuk beberapa saat, gadis itu terdiam. Beberapa menit kemudian, ia baru menjawab.
"Eh, iya," jawab Qia akhirnya.
"Seperti apa?" tanya Satrio lagi.
"Wajahnya terlihat dingin dan datar. Kulitnya coklat kusam. Hidungnya kecil, tapi mancung, dan bibirnya tipis. Matanya juga agak sipit. Yang paling jelas, di mukanya ada luka sayatan," jelas Qia tanpa pikir panjang.
Sejenak, Satrio nampak tertegun, hampir tidak percaya dengan deskripsi yang baru saja dijabarkan oleh Qia. Perubahan mimik muka Satrio ini tentu saja membuat Qia bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan ucapannya.
"Kenapa? Kakak tidak percaya?" tanyanya ketus.
"Bukan begitu. Cuma terkejut saja, kamu memperhatikan seorang pria sedemikian rupa hingga bisa menggambarkannya dengan begitu jelas. Padahal, kamu dalam keadaan ditodong, loh," jawab Satrio terkesan sedikit kesal.
Pernyataan Satrio yang tak terduga itu tentu saja membuat Qia agak terperangah. Seketika semburat kemerahan menghiasi wajah cantiknya. Malu? Tentu saja. Baru saja calon suaminya menuduh dirinya memperhatikan pria lain sedemikian rupa. Padahal, Qia tak bermaksud seperti itu. Ia sudah terbiasa menggambarkan penampilan dan karakter tokoh-tokoh dalam novelnya. Lah, kalau sekarang ia menyebutkan ciri-ciri fisik seseorang seperti itu, tentu tidak sulit baginya.
"Maksud Kakak apa? Tadi Kakak bertanya, seperti apa orangnya. Pas Qia jawab, Kakak malah berkata seperti itu. Itu sama saja Kakak menuduh Qia jelalatan!" sergah Qia ketus.
Eh, Satrio jadi kelabakan. Sungguh, tadi ia hanya terkejut saja, tidak bermaksud menuduh atau semacamnya.
"Kakak tidak bermaksud begitu, Qi, beneran. Tadi Kakak hanya terkejut saja," jawab Satrio serba salah.
"Itu sama saja."
"Beneran, tadi itu tidak ada maksud apa-apa, suwer!" ucap Satrio lagi sambil mengangkat dua jarinya.
"Kakak bermaksud. Qia gak mau ditanya lagi," ucap Qia ketus sambil melengos. Kali ini ia betul-betul ngambek.
Nah, ini. Kalau sudah begini, Satrio tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak biasa menghadapi wanita, terlebih Qia yang mudah retak seperti gelas kaca. Gadis itu tentu saja berbeda dengan Anita yang memiliki karakter baja, hampir seperti pria.
"Oke oke, Kakak minta maaf. Kakak tidak akan bicara sembarangan lagi," janji Satrio.
"Qi."
"Pokoknya ... Gak," tolak Qia masih dengan suara ketus.
"Dengerin Kakak. Kakak setuju dengan pendapat Abi dan Ayah Zul untuk melaporkan kasus ini ke polisi. Tapi, kata-kata Ayah Zul itu ada benarnya. Kita gak punya bukti apa-apa. Itu sebabnya, Kakak perlu sedikit gambaran tentang orang-orang itu, biar kalau ditanya polisi, Kakak bisa menjelaskan dengan mudah," bujuk Satrio, tapi Qia tetap bergeming.
Melihat ulah muda-mudi itu, keempat orang tua yang ada di dekat mereka saling pandang.
"Betul, Qi. Umi sependapat dengan Satrio," kata Umi akhirnya. "Kamu juga jangan ngaco, dong, Sat."
Meski merasa tidak bersalah, akhirnya Satrio mengalah.
"Baiklah. Kakak minta maaf, Qi. Janji ... Kakak gak aneh-aneh lagi," ucap Satrio serius sambil mengangkat dua jarinya. Namun, dalam hati ia ingin tertawa.
Mau gak mau, akhirnya Qia juga ikut mengalah.
"Baiklah," ujarnya.
Sekarang Satrio kembali menghadap ke arah Qia dan mulai menginterogasinya.
"Qia bilang, di wajah orang ada bekas luka sayatan. Di bagian mana?" tanya Satrio.
"Di pipinya."
"Masih ingat, bentuknya seperti apa?"
"Kayak Battousai si penyayat."
"Battousai? Si Penyayat? Siapa itu?" tanya Satrio pura-pura tidak tahu. Ia ingin tahu, sejauh mana pengetahuan gadis ini tentang assasin kejam di era Meiji Jepang ini.
Baginya, gadis di depannya ini sangat unik, betul-betul mengejutkan. Umumnya, seorang berbicara tentang, kosmetik, masakan, ataupun pakaian. Namun, Qia ternyata tidak seperti itu.
"Pantas saja Kak Pras menjatuhkan pilihan padanya," pikir Satrio.
Ditanya seperti itu, Qia jadi sedikit menggerutu dalam hati. Masak battousai saja tidak tahu.
"Itu loh, Kak, yang ada di film Samurai X. Yang Kenshin Himura itu," jelas Qia.
"Astaga, ternyata hanya film yang dia ingat, bukan sejarah aslinya," batin Satrio. Ternyata ia terlalu overestimate.
"Oke, baiklah, sudah cukup yang itu. Sekarang, orang yang menguntit kamu. Apa kamu bisa mengenali wajahnya?" tanya Satrio lagi.
Mendengar itu, Qia tidak langsung menjawab. Ia malah memalingkan mukanya.
"Qi ...."
"Tadi katanya sudah cukup, kenapa sekarang tanya lagi?" protes Qia kesal.
"Yang sudah cukup itu untuk orang pertama. Sekarang kan, orangnya berbeda. Kamu bisa melihat wajahnya tidak? Coba kamu gambarkan secara detil seperti tadi," ulang Satrio, mencoba untuk bersabar.
"Kakak ini udah kayak polisi aja. Qia gak mau jawab secara detil, tar malah dituduh yang macam-macam, lagi."
"Kakak janji, gak akan mikir yang aneh-aneh," jawab Satrio, mencoba untuk meyakinkan Qia.
Qia tidak langsung menjawab. Ia menoleh sekilas ke empat orang tua di dekat mereka yang saat itu sepertinya sedang memiliki forum sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, empat orang tua itu juga sedang mendengarkan perbincangan antara dirinya dengan Satrio.
Melihat itu, Satrio menyugar rambutnya frustasi, kemudian ikut-ikutan menoleh ke arah orang tua mereka.
"Seperti orang yang pertama tadi, si penguntit itu juga berpakaian serba hitam. Tapi yang ini wajahnya cukup tampan," ujar Qia polos, tanpa merasa berdosa.
Mendengar kata tampan, Satrio sedikit mendongakkan kepala. Ia sedikit menelan ludah. Ada sedikit rasa jengkel, tetapi tidak berani berkomentar, takut Qia ngambek lagi.
"Wajah tampan itu sangat relatif, bisakah yang lebih spesifik lagi?" tanya Satrio sedikit kesal. Selain dari nada, kekesalan itu juga nampak di wajahnya.
"Tidak bisa," potong Qia cepat. Ia bisa menangkap kekesalan di wajah Satrio, cuma tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.
"Cuma ...."
"Cuma apa?" tanya Satrio penasaran.
"Matanya itu."
"Kenapa dengan matanya?"
"Matanya seperti ...."Qia terlihat ragu.
"Seperti apa?" desak Satrio penasaran.
Qia tidak menjawab, tetapi wajahnya berubah memerah. Tiba-tiba ia menjadi gugup, membuat Satrio semakin penasaran. Pemuda itu semakin kesal. Tadi Qia mengatakan kalau si penguntit itu wajahnya tampan, dan kini ia bilang matanya istimewa.