Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
20. Abang Akan Selalu Ada untukmu, Qi ....



Qia duduk terpekur. Kedua tangannya menyangga dagu di atas meja dengan tumpukan buku di depannya. Ya, siang itu ia janji bertemu dengan Aina di perpustakaan untuk merevisi skripsi mereka bersama. Hanya saja, sedari ia datang tadi hingga tigapuluh menit berikutnya, buku-buku itu hanya menghiasi meja di depannya. Qia sama sekali belum menyentuh buku-buku itu sama sekali sejak diletakkan di atas meja.


Aina belum terlihat batang hidungnya karena memang Qia sengaja datang lebih awal. Tadinya ia ingin membaca literatur sebentar sebelum berdiskusi dengan Aina tentang skripsi mereka. Hanya saja, pikiran Qia sedang buntu. Ia sama sekali tidak bersemangat. Bagaimanapun, masalah lamaran Satrio padanya sangat mengganggu pikirannya.


"Hati-hati kesambet!" tegur Aina tiba-tiba sambil menepuk ringan pundak Qia.


Tentu saja hal itu membuat Qia terkejut dan otomatis mendongakkan kepala dan menatap Aina.


"Iiiis ... Mengagetkan saja. Ucap salam dulu, kek ..." protes Qia.


Aina memutar bola matanya ringan sambil terkekeh. Gadis itu lalu duduk di sebelah Qia.


"Sudah, kalee. Anti aja yang gak dengar salam dariku. Padahal berkali-kali, loh," jelas Aina.


Jawaban itu membuat wajah putih Qia memerah. Ia merasa malu karena ketahuan melamun di siang hari bolong.


"Anti kelihatan gak semangat ... lesu banget," ujar Aina.


Qia melirik sekilas temannya itu, kemudian beralih ke tumpukan buku di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian diempaskan secara kasar.


"Masih kepikiran dengan lamaran itu?" selidik Aina.


Sekali lagi Qia melirik Aina, kemudian menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Sudah konsultasi dengan Ustazah Kamila, kan?" Sekali lagi Aina bertanya dan hanya dijawab dengan anggukan.


Akhirnya, dua wanita cantik itu diam. Suasana di seputar meja mereka mendadak jadi hening.


"Qi .... Abang turut sedih dengan apa yang menimpa kamu. Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan?"


Suara berat seorang lelaki tiba-tiba memecah keheningan antara Qia dan Aina. Dua wanita itu menoleh dengan malas ke arah lelaki yang baru masuk itu, terutama Qia. Namun, ia terlalu tak bertenaga untuk meladeni omongan pemuda itu. Karena itu, Qia tidak bersuara.


Sementara itu, suasana perpustakaan yang semula tenang mendadak heboh. Kasak-kusuk di antara pengunjung mulai terdengar, meski tidak terlalu keras. Maklum, yang baru saja masuk dan bersuara tadi adalah preman kampus yang biasanya selalu bikin masalah. Pihak kampus tidak berani mengeluarkan karena pemuda itu adalah keponakan sang pemilik yayasan.


Dihujat dalam diam seperti itu tidak membuat Bayu menyerah. Ia tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya. Ia hanya fokus pada Qia.


"Kamu jangan sedih ya, Qi, Abang selalu ada buat kamu. Ya ... awalnya sih, Abang kesel dan marah saat tahu kalau Qia sudah mau nikah. Tapi ... Liat kamu sedih kayak gini ... Abang tidak bisa. Abang ...."


Qia jadi merasa tidak enak. Pasalnya, ini adalah perpustakaan. Para pengunjung tidak boleh berisik atau membuat kegaduhan. Itu sebabnya, ia harus bertindak bijaksana. Ia tidak ingin diusir karena dianggap membuat kekacauan.


Apalagi, menghadapi orang seperti Bayu ini memang tidak boleh gegabah. Kalau dikasari, bisa berbahaya. Namun, kalau Qia bersikap baik, malah nanti disalahartikan. Itu sebabnya, ia harus bersikap tepat, tidak kasar, tetapi tegas.


Sesaat, Bayu terpana mendengar suara merdu Qia. Ini betul-betul surprise untuknya. Untuk pertama kalinya Qia mau berbicara panjang lebar padanya dengan suara yang menurutnya sangat merdu seperti seruling Roma Irama. Biasanya gadis itu hanya berbicara atau menjawab pertanyaan darinya singkat-singkat saja. Ah ... Bayu semakin terpanah.


"Kamu jangan khawatir, Qi, Abang akan selalu ada buat kamu. Kamu bisa curhat pada Abang. Dengan senang hati, Abangmu ini siaga selalu buat kamu "


Bayu semakin bersemangat. Qia jadi tambah pusing. Ia jadi takut kalau Bayu semakin nekat. Karena itu, Qia berusaha keras untuk memutus pembicaraan mereka saat itu juga.


"Makasih ya, Kak. Tapi kali ini Qia betul-betul minta tolong sama Kak Bayu. Tolong tinggalkan Qia di sini bersama Aina. Qia ingin menenangkan diri sebentar, please ...." Qia memohon dengan suara lirih.


Sebenarnya Bayu ingin berlama-lama, mengingat selama ini Qia selalu sulit didekati. Gadis itu tidak pernah mau bicara jenak dengannya. Bayu merasa sayang melewatkan kesempatan itu. Namun, di sisi lain, ia juga tidak ingin Qia jadi sebel kemudian membencinya.


Itu sebabnya, Bayu memilih mundur. Ia mengalah untuk menang.


"Baiklah, kalau itu maumu. Abang tidak mau mengganggu lagi. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, Abang akan selalu ada buat kamu," kata Bayu.


Pemuda itu lalu pergi dari hadapan Qia dan Aina tanpa menunggu jawaban kedua gadis itu.


Kedua gadis itu merasa sangat lega. Di tempat yang tidak terlalu dari tempat duduk Qia dan Aina, diam-diam penjaga perpustakaan juga merasa lega. Jujur, tadinya wanita paruh baya rada takut. Ia tidak ingin mendapat masalah dari atasan gara-gara pemuda sableng yang tidak bertanggung jawab itu.


Sudah banyak rumor yang beredar tentang sepak terjangnya. Banyak pihak merasa dirugikan ketika berurusan dengan Bayu karena bagaimanapun kondisi mereka, salah atau menang, tetap saja yang salah adalah mereka. Itu sebabnya, Bayu masih bebas melenggang tanpa ada sanksi atau teguran yang dia dapatkan.


"Ya sudah, kita mulai saja diskusi kita," kata Aina mengawali pembicaraan mereka.


"Baiklah," jawab Qia masih tidak bersemangat.


Qia merasa, beban pikirannya belum terangkat akibat terlalu memikirkan lamaran dari Satrio untuknya. Dan kini, sudah ada masalah baru lagi yang sedang menunggu untuk diselesaikan, yaitu masalah dengan Bayu. Jujur, untuk yang satu itu, Qia belum menemukan solusinya.


Qia sendiri heran, kok bisa-bisanya pemuda seperti Bayu itu menyukainya? Apalagi, Selain terkenal dengan julukan mahasiswa abadi yang suka membuat onar, selama ini Bayu juga sering gonta-ganti pacar. Sudah tak terhitung berapa banyak mahasiswa yang menjadi korbannya. Sebenarnya hal itu tidak terlalu aneh memgingat paras Bayu yang lumayan tampan. Orang tuanya juga cukup tajir, terlepas dari keburukan yang dimiliki oleh Bayu tadi,


Ah ... Qia jadi mendengkus kesal. Kenapa juga ia harus memikirkan pemuda konyol itu mengingat ia sendiri masih terbelit dengan persoalan serupa.


"Apa aku terima saja, ya, lamaran dari Satrio? Paling tidak, kalau menikah dengan pemuda itu, Bayu tidak akan berani berbuat macam-macam. Paling tidak, Satrio tidak akan membiarkan dirinya diganggu oleh pria lan. Ah ... Apa iya? Benarkah Satrio benar-benar akan melindunginya," Qia tersenyum getir. Ia baru saja menertawakan kekonyolannya. Kok bisa-bisanya ia berhayal seperti itu