
Satrio tertawa.
"Masalahnya itu cuma satu, kamu belum percaya sama Kakak. Makanya pikiranmu jadi traveling ke mana-mana. Atau ... jangan-jangan kamu mengira Kakak adalah bos mafia hingga punya anak buah pembunuh bayaran."
Mendengar itu, wajah Qia semakin memerah. Jujur, memang pikiran itulah yang saat ini berkecamuk di dalam benaknya.
***
Seperti biasa, pagi itu Satrio berada di markas untuk melatih anak buahnya. Sementara, Qia yang sudah selesai beberes memutuskan untuk menulis. Kebetulan, ada banyak ide yang berseliweran di kepalanya dan butuh pelepasan. Kalau tidak, ia akan gelisah dan ujung-ujungnya sakit kepala.
Ting tong
Bunyi bel di pintu memecah konsentrasi Qia. Gadis itu sedikit heran. Pasalnya, ada beberapa penjaga yang ditugaskan Satrio di luar. Juga penjaga lain yang tak kasat mata kerena mereka dalam mode penyamaran.
"Mungkin ia salah seorang penjaga," pikir Qia sambil bangkit dan mengenakan kerudung dan gamisnya.
Sebelum membuka pintu, ia sempatkan menyingkap gorden sedikit dan mengintip keluar.
"Seorang wanita?" gumam Qia heran.
Kalau penjaga di luar tidak menghentikan, itu artinya wanita itu sudah lolos sensor. Atau setidaknya para penjaga telah mengenalnya.
"Berarti wanita ini tidak berbahaya," pikir Qia.
Ia lalu membuka pintu.
Seraut wajah cantik terpampang di depan mata Qia. Wanita itu tersenyum ramah. Ia tampak segar dan enerjik dengan rambut diikat kebelakang. Tubuhnya cukup tinggi, tapi seksi. Bahkan, Qia hanya setinggi pundaknya. Ia memakai celana dan kemeja hitam cukup ketat, cukup menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya.
"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Qia.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia mengamati sejenak gadis di depannya.
"Cantik, tapi kelihatannya sangat lemah, sama sekali bukan seleranya," batin wanita itu meremehkan.
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya, hampir tak terlihat. Namun, di luar dugaan, Qia yang sudah terbiasa mengamati kebiasaan dan tingkah laku seseorang ternyata melihatnya.
"Kenalkan, saya Anita. Saya temannya Satrio," kata wanita yang ternyata adalah Anita.
Gadis itu baru saja menyelesaikan misi bersama bos besar. Karena tidak tahan dicueki Satrio di markas, maka ia ingin mencari sedikit hiburan.
"Oh. Kak Satrio tidak ada di rumah," kata Qia.
Sejak melihat seringai tipis itu, ia jadi merasa tidak nyaman. Karena itu, ia menjadi berhati-hati dan tidak langsung menyuruh Anita masuk.
"Saya tahu, Satrio tidak ada di rumah. Ia ada di tempat kerjanya, kan? Tadi saya sudah bertemu dengannya," jawab Anita enteng.
"Lantas?"
"Saya ingin bertemu denganmu. Apa saya boleh masuk?" tanya Anita santai.
Qia mengeryitkan dahi. Sebenarnya ia mulai merasakan gelagat kurang menyenangkan tetapi ia penasaran juga, apa maunya sang tamu, apalagi, wanita itu bersikap seolah sangat mengenal suaminya.
"Bikin kesel, aja," batin Qia.
Namun begitu, ia terpaksa mempersilakan sang tamu masuk.
"Silakan duduk, mau minum apa?" tanya Qia berusaha untuk bersikap ramah dan tenang.
"Tidak usah. Tadi saya sudah minum di kantor sama Satrio. Kalau tidak keberatan, saya ingin berbincang denganmu," jawab Anita.
Qia yang tadi sudah menangkap adanya gelagat buruk akhirnya memasang muka datar. Ia mencoba untuk tidak terkejut marah, ataupun kesal. Ia tahu kalau wanita cantik yang ada di depannya itu sedang memprovokasinya.
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa, ya, Mbak?" tanya Qia basa-basi.
"Tidak ada. Saya hanya ingin kenal sama kamu saja. Namamu Qia, kan? Satrio bercerita banyak tentang kamu. Kalau boleh, aku juga ingin menjadi temanmu."
Anita sengaja ingin menunjukkan pada Qia bahwa hubungan antara dirinya dengan lelaki itu sangat dekat. Buktinya, suami Qia itu bersikap sangat dan banyak bercerita tentang dirinya.
"Oh, ya? Tapi saya bukan teman yang menyenangkan, loh."
Sekali lagi Qia memasang muka datar, seolah tidak tertarik dengan ucapan Anita.
"Tidak apa-apa, saya biasa berteman dengan siapa saja. Kalau Satrio saja bisa bertahan untuk berteman denganmu, kenapa saya tidak?" jawab Anita tak tahu malu.
"Ha ha ha," Qia tertawa renyah.
"Tentu saja dia sangat betah berteman dengan saya, Mbak. Dia kan suami saya. Bukankah hubungan suami istri itu harusnya seperti itu? Suami istri itu adalah hubungan persahabatan yang sangat sakral. Saling mendukung satu sama lain dalam ketaatan, tempat berbagi suka maupun duka. Tidakkah hubungan Mbak Anita sama suami Mbak seperti itu?" jawab Qia singkat sengaja dengan kalimat terakhirnya.
Tentu saja hal itu membuat Anita menjadi jengkel. Tadinya ia ingin membuat Qia marah atau sedih dengan mengatakan seolah-olah Satrio hanya menganggapnya sebagai teman. Ternyata, gadis itu bisa membalikkan omongan. Jujur, sekarang malah dirinya yang jengkel.
"Saya ini masih single," jawab Anita sambil melengos.
"Oh."
Jawaban singkat dari Qia itu semakin membuat Anita jengkel.
"Dengan kecantikan yang Mbak Anita miliki, saya rasa tidak sulit untuk mendapatkan pasangan. Apa ... perlu saya sampaikan ke Kak Satrio untuk mencarikan?" tambah Qia. Kali ini dengan tampang polos.
Sebenarnya Qia ingin meniru di novel-novel, bagaimana cara berbicara ceplas-ceplos sama orang yang naga-naganya jadi seorang pelakor. Namun, ia tidak bisa seperti itu. Ia hampir tidak pernah bersilat lidah di dunia nyata. Beda kalau di tulisan.
Lagipula, ada batasan norma yang harus ia jaga. Rasanya kok tidak nyaman kalau harus mengatai orang terlalu kasar. Namun, jujur ia juga ingin memberi pelajar.
"Apa maksudmu dengan meminta Satrio untuk mencarikan pasangan? Apa kamu pikir aku ini tidak laku?" sentak Anita cukup keras. Ia mulai tersinggung.
"Maaf Mbak Anita, saya tidak bermaksud begitu."
"Saya tahu, kamu sengaja mengatakan itu untuk menyakitiku, kan? Asal kamu tahu, saya ini sudah punya kekasih," jawab Anita ketus.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang. Tadinya saya mengira Mbak Anita naksir sama suami saya. Ternyata Mbak sudah punya kekasih. Sekarang saya jadi tenang," ujar Qia polos.
"Kau ...!"
Wajah cantik Anita kini merah padam. Ia betul-betul marah sekarang.
"Sial, wanita ini sebenarnya polos atau sengaja mengejek gue?" batin Anita kesal. Namun, ia tidak mungkin mengatakan secara terus terang kalau sebenarnya ia dan Satrio pernah memiliki hubungan spesial.
"Kenapa, Mbak?" tanya Qia.
"Ternyata mulutmu itu sangat tajam. Apa Satrio juga mengetahui tentang hal ini? Apa ya, kira-kira yang ia lakukan kalau istrinya ini suka sekali menyinggung orang? Apalagi, orang yang disinggung itu adalah teman dekatnya," sindir Anita dengan nada sedikit mengancam.
"Eh? Maaf kalau kata-kata saya tadi menyinggung perasaan Mbak Anita. Tapi ... Bukankah yang saya katakan ini benar? Saya sangat yakin kalau Mbak Anita ini orang yang sangat baik. Orang secantik dan seseksi Mbak ini tidak mungkin jadi pelakor, kan? Itu sebabnya, saya merasa sangat lega. Itu berarti, suami saya aman-aman saja."
"Kau ...! Kau sangat menyebalkan. Saya akan mengatakan pada Satrio semua yang kamu tuduhkan," teriak Anita.
"Baiklah, saya juga sangat penasaran, bagaimana reaksi dan tanggapan Kak Satrio" tantang Qia tenang.
Qia yakin seratus persen kalau wanita di depannya ini tidak akan berani bilang apa-apa pada Satrio. Ia juga yakin, kehadiran wanita itu untuk menemuinya karena ia tidak berhasil mendapatkan perhatian dari suaminya. Kalau mereka memang memiliki hubungan spesial, pasti mereka akan melakukan secara diam-diam.