
Akhirnya Qia berhasil lulus dengan gemilang dalam sidang kali ini. Yang lebih melegakan lagi, ia bisa menjalani ujian skripsi tersebut tanpa ada hambatan sedikit pun, termasuk gangguan fisik seperti yang ia alami beberapa hari ini.
Ya, penjagaan yang dilakukan Satrio dan anak buahnya sangat ketat. Namun, tidak ada tanda-tanda adanya pergerakan dari pihak lawan untuk mencelakai Qia.
Sepertinya musuh sudah memprediksi kalau Qia tidak akan tersentuh karena suaminya sendiri yang menjaga, ditambah dengan puluhan anak buah yang tersebar di mana-mana.
Apalagi, Jack dan anak buahnya juga masih berada dalam tawanan Satrio.
Itu sebabnya mereka memutuskan untuk cooling down terlebih dahulu sambil mencari celah dan kesempatan untuk memukul kembali.
***
"Alhamdulillah ya, Kak, semua berakhir dengan lancar," kata Qia ketika sedang duduk santai bersama dengan Satrio di ruang keluarga.
"Iya. Terus, rencana ke depan bagaimana, nanti setelah wisuda?" tanya Satrio.
"Wisuda masih lama, Kak, masih beberapa bulan lagi. Qia kan masih harus merevisi konten dulu. Qia juga perlu bimbingan untuk validasi, juga melakukan penjilidan. Belum lagi masih harus yudisium juga," kata Qia.
"Iya, Kakak tahu. Trus kalau sudah wisuda mau apa? Beberapa bulan itu gak terasa, loh. Tahu-tahu sudah tiba masanya. Jadi, harus dipikirkan mulai dari sekarang," ujar Satrio sambil menyeruput kopi pahit yang ada di depannya.
"Iya, sih. Tapi, jujur ya, Kak. Qia belum kepikiran mau melakukan apa. Pinginnya sih melanjutkan lagi, itu pun kalau Kakak izinkan. Lagipula, dengan kasus yang saat ini sedang Qia hadapi, apa itu mungkin bagi Qia untuk bebas di luaran. Gak mungkin kan, Kakak nungguin Qia tiap hari di kampus? Kakak kan juga harus bekerja?" beber Qia panjang lebar.
Satrio mengerutkan kening. Tentu saja ia tidak akan menghalangi istri kecilnya itu untuk menimba ilmu. Namun, yang Qia katakan itu juga ada benarnya. Selagi kasus ini masih terkatung-katung, maka Qia masih tetap dalam bahaya, dan tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Lantas?" tanya Satrio.
"Sementara ini, Qia fokus menjadi Nyonya Satrio saja, deh. Qia mau jadi nyonya yang baik hati dan tidak sombong paling cantik dan lembut sedunia," jawab Qia sambil memamerkan giginya.
"Ha ha ha, kamu ini." Satrio mencubit hidung Qia gemes, lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya.
"Kakak ... jangan gini, ah."
"Kenapa? Mau alasan apa lagi? Di sini bukan tempat umum, gak ada yang liat juga?" cibir Satrio.
"Eeeehhh, tapi di sini banyak pembaca." Qia berkata dengan wajah cemberut.
"Kau ini, Kakak ini bicara serius, malah main-main."
"Iya ... iya, Qia serius, deh, sekarang. Ngomong-ngomong, apa salahnya kalau Qia menjadi Nyonya Satrio yang baik?" ujar Qia dengan wajah serius.
"Ha ha ha, selalu saja bisa ngeles.' ujar Satrio.
"Ngeles sih, enggak, Kak. Qia jujur, kok. Intinya, sementara ini Qia masih belum ada gambaran apa-apa."
"Baiklah, nanti akan kita pikirkan pelan-pelan," putus Satrio akhirnya.
Qia mengangguk sambil menguap lebar. Sampai-sampai ia merasa malu. Sebenarnya ia sangat lelah dan ingin segera tidur. Bagaimanapun, sidang tadi siang cukup menguras tenaga dan pikiran. Untungnya, Satrio selalu tanggap dengan kondisi istrinya.
"Istirahatlah, kamu lelah, kan? Tidurlah dulu, Masih ada kerjaan yang harus segera Kakak selesaikan. Gak pa pa, kan?" kata Satrio lembut.
Qia mengangguk. Ia paham, gara-gara harus menjaganya, kerjaan suaminya jadi terbengkalai. Akhirnya, tiap malam lelaki itu harus bergadang di tempat kerjanya untuk menyelesaikan semua.
"Maaf, gara-gara Qia, kerjaan Kakak jadi menumpuk," kata Qia.
"Iya ... iya, bawel."
"Qi ..."
"Siap, Kapten."
***
Di ruang kerja.
Satrio membuka aplikasi yang di situ ada cerita bersambung yang ditulis oleh Kemilau Senja. Meski penyelidikan tentang novelis itu masih menemui jalan buntu, tetapi ia penasaran dengan perkataan Hendra kemarin.
Menurut Hendra, cerita yang ditulis oleh Kemilau Senja hampir mirip dengan kisah hidup dirinya dengan Qia.
"Seberapa mirip, sih?" pikir Satrio.
Akhirnya, setelah mencari beberapa waktu, suami Qia itu akhirnya menemukan cerita bersambung yang berjudul Rahasia di Balik Sepatu Kaca.
"Pasaran sekali judulnya," batin Satrio. Jujur memang ia tidak begitu suka membaca fiksi. Bukan dia banget. Namun, demi membunuh rasa penasaran, ia rela bergadang.
Tak tanggung-tanggung, Satrio bahkan membacanya tanpa jeda, mulai dari episode pertama sampai terakhir. Sayangnya, cerita itu masih bersambung, belum menemui ujung.
"Hendra benar."
Cerita itu memang mirip dengan kisah mereka. Membaca kisah itu seolah-olah ia sedang berada di dalamnya bersama dengan Qia.
"Ini Qia banget," batin Satrio.
Tapi, saat teringat identitas Kemilau Senja, pikiran itu menjadi sirna. Faktanya, tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa mereka memiliki kedekatan.
"Ini pasti ada penjelasannya," monolog Satrio.
Sayangnya, cerita itu masih menggantung. Pada bab terakhir, di situ diceritakan bahwa si gadis menerima sepatu kaca dari tunangannya beberapa hari sebelum meninggal. Dan tanpa diketahui, di dalam sepatu kaca itu tersimpan chips yang berisi rahasia besar yang sekarang dicari banyak orang.
Hampir sama, kan? Seingat Satrio kakaknya juga memberi sesuatu beberapa hari sebelum meninggal pada Qia, yaitu gaun pengantin. Namun, ia sudah memeriksa sendiri saat berkemas waktu bahwasanya tidak ada apa-apa di dalam gaun itu.
Akhirnya, mau tidak mau Satrio harus menunggu kisah selanjutnya. Namun, kalau diperhatikan, episode terakhir itu merupakan postingan beberapa hari yang lalu. Itu artinya, kisah itu terhenti tanpa ada kejelasan apakah ada kelanjutannya atau tidak.
"Apa karena dia tahu kalau dirinya sedang diawasi?" pikir Satrio. Kenapa perasaan bahwa Kemilau Senja dan Qia adalah orang yang sama ini sangat kuat?"
"Sayang, kenapa kamu sangat misterius? Kalau kamu tidak bersalah, kenapa harus takut?" Satrio mulai menduga-duga.
"Kau tahu, kan, Kakak tidak akan pernah membiarkan kamu dalam bahaya? Apa benar, ini karena teman-temanmu? Kalau mereka tidak bersalah, kenapa harus bersembunyi?"
Berbagai pikiran terus berkecamuk di benak Satrio. Sampai pada keputusan, ia harus bertanya langsung pada Qia.
Ya, kunci dari semua itu adalah istrinya. Ia harus mencari cara agar kelinci kecil itu percaya padanya dan mau terbuka. Ia sadar betul kalau istrinya itu tidak sesederhana yang tampak di permukaan.
Di satu sisi, ia sangat polos dan rapuh. Itu tidak terbantahkan. Namun, di sisi lain, ia begitu pandai bersilat lidah. Itu menunjukkan bahwa isi kepalanya tidak kosongan. Dan satu hal yang ia yakini bahwa istrinya tidak akan mudah untuk mengakui semua, sedangkan ia sendiri tidak kuasa untuk memaksa.