
Keesokan harinya, Qia sudah diperbolehkan pulang, dengan catatan istri Satrio itu harus betul-betul berhati-hati dan menjaga kesehatannya, terutama kandungannya. Dokter juga berpesan pada Satrio agar betul-betul memperhatikan dan menjaganya kalau ingin bayinya selamat.
"Kak, turunkan, Qia malu, nih. Qia masih bisa jalan, kok," pinta Qia ketika Satrio menggendongnya saat keluar dari kendaraan.
"Iisssh ... Kenapa malu? Kamu sedang digendong oleh suamimu sendiri, bukan orang lain," jawab Satrio. Ia tidak menghiraukan perkataan istrinya.
"Tapi, di sini banyak orang, Kak. Qia malu," ujar Qia sambil menyembunyikan wajah di dada suaminya, membuat lelaki itu terkekeh.
"Mereka semua adalah anak buah Kakak," ujar Satrio.
"Memangnya kenapa kalau anak buah Kakak? Mereka juga manusia. Yang namanya malu, ya malu," elak Qia sambil sedikit mengintip wajah suaminya.
Dengan posisi seperti itu, lebam dan luka di sudut bibir Qia terlihat sangat jelas, meski sudah tidak separah kemarin. Melihat itu, Satrio kembali meradang.
"Tunggu saja, aku pasti akan membuat perhitungan dengan kalian semua!" batin Satrio geram.
Tiba-tiba Satrio teringat Andre. Lelaki yang sampai detik ini masih sangat mencintai istrinya itu pernah menggendong sang istri dengan posisi yang sama persis dengan apa yang ia lakukan sekarang. Saat itu, Qia sedang tidak sadarkan diri dan penuh luka setelah didekap oleh anak buah Wijaya. Seketika wajah Satrio semakin terlihat tegang.
"Kenapa?" Qia yang tadi mengintip suaminya menjadi heran.
Satrio menatap Qia beberapa saat. Melihat wajah polos dan sedikit pucat itu, amarahnya sedikit mereda. Wajah tegangnya sedikit melunak.
"Astaghfirullah, kenapa aku semarah ini? Tentu saja ia tidak bersalah. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi," batin Satrio. Ia kesal pada dirinya sendiri karena cemburu tanpa alasan.
"Kak? Ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?" tanya Qia. Ia penasaran karena suaminya tiba-tiba diam dengan wajah tegang.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Kakak hanya marah melihatmu terluka seperti ini. Kakak berjanji akan membuat perhitungan sama mereka," jawab Satrio akhirnya.
"Sudahlah, yang penting, sekarang Qia baik-baik saja."
Satrio mengangguk. Ia lalu membawa istrinya masuk. Tentu saja ia tidak mengubah niatnya untuk membuat perhitungan pada siapa pun yang menyakiti istrinya.
Di dalam, keempat orang tua mereka sudah mempersiapkan kamar untuk Qia. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Qia dan calon bayinya, mereka sepakat untuk memindah kamar Qia ke lantai pertama biar ia tidak naik turun tangga.
***
Areta sedang berbincang serius dengan anaknya, Andre. Saat itu, mereka sedang berada di ruang keluarga.
Areta hanya berdehem sambil mengangguk.
"Andre yakin, papa sudah tahu kalau Mama sudah pulang dari luar negeri. Apa papa sempat menghubungi Mama?" tanya Andre lagi.
"Tidak," jawab Areta santai sambil mengunyah apel yang baru saja ia kupas. "Sebenarnya Mama juga tidak berharap."
Andre diam sejenak. Ia sudah menduga akan hal itu. Ia yakin kalau saat itu papanya sedang bersama dengan Wandira. Ia jadi merasa bersalah sama mamanya.
Sebenarnya ia merasa tidak nyaman berbicara tentang masalah ini dengan sang mama. Ia pria dewasa, tentu tahu tentang privasi orang tuanya. Selama ini ia selalu menghormati mereka. Itu sebabnya, ia tidak pernah mempertanyakan aktivitas mereka.
Namun, kali ini berbeda. Andre ingin mengetahui duduk persoalannya agar bisa menentukan sikap. Ia juga ingin mengetahui sikap mamanya.
"Apa langkah Mama selanjutnya?" tanya Andre lagi.
Areta menghela napas.
"Entahlah, Ndre. Sebenarnya Mama sudah tidak tahan lagi. Mama sudah capek. Ini bukan kali pertama papamu bersikap seperti itu. Sampai-sampai Mama sudah mati rasa. Jujur, selama ini Mama bertahan hanya demi kamu. Mama tidak ingin kamu terluka, Nak," tutur Areta. Kali ini, wanita cantik itu tidak dapat menahan air mata.
Melihat itu, Andre semakin tidak tega. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian pindah di samping mamanya. Pemuda itu lalu memeluk sang mama, hal yang sudah sangat lama tidak pernah ia lakukan.
Jujur, ia merasa sangat bersalah. Selama ini ia merasa kalau kedua orang tuanya baik-baik saja. Itu sebabnya, ia tidak terlalu perhatian. Ia hanya melihat di permukaan, tidak sampai mendetailinya secara mendalam.
Dipeluk seperti itu, suara isakan Areta semakin terdengar jelas. Tubuhnya semakin berguncang.
"Sekarang Andre sudah dewasa, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkan Andre lagi. Justru Andre yang sekarang sangat mengkhawatirkan Mama," bisik Andre sambil mempererat pelukannya.
Sementara, Areta semakin terisak.
"Sekarang, Andre bebaskan Mama untuk mengambil sikap. Andre hanya ingin Mama bahagia," lanjut Andre, masih dengan berbisik.
Mendengar itu, Areta melepas pelukannya, kemudian menatap wajah putranya.
"Meski dengan perpisahan mama dan papa? Apa kamu rela?" tanya Areta tak percaya.
Andre menghela napas. Ia menatap mamanya lama.