Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
12. Kukira Sudah Masuk Buih



Dua gadis itu terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Qia tahu, sesuatu yang buruk tentangnya tengah terjadi. Karena itu, Ningrum tidak mau cerita secara langsung. Akan tetapi, ia sudah berjanji pada Ustazah Kamila untuk belajar menerima segala yang ditetapkan untuknya dengan lapang dada. Karena itu, ia bertekad untuk menghadapi semua secara kesatria. Ia akan mempersiapkan hatinya untuk menghadapi segala kemungkinan.


****


Berita tentang Qia di media mulai simpang siur. Memang tidak semua media. Namun, banyak yang hanya berdasar atas dugaan, dugaan, dan dugaan. Qia sendiri agak bingung, sebenarnya pemberitaan seperti itu sah apa tidak? Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang menghubunginya secara langsung untuk melakukan klarifikasi. Jadinya, mirip-mirip novel yang selama ini ia buat.


Bayangkan saja, ia yang selama ini belum pernah berhubungan dengan seorang lelaki pun kecuali Prasetyo, digambarkan sebagai gadis flamboyant yang suka gonta-ganti pasangan. Meski itu baru teori atau dugaan, tetapi baginya sangat menyakitkan.


Dalam rumor itu disebutkan bahwa Prasetyo adalah pelabuhan terakhir bagi Qia. Namun, mantan-mantan Qia kemungkinan ada yang tidak terima sehingga terjadilah peristiwa tragis itu. Astaghfirullah! Tega sekali orang yang berkata seperti itu. Meski ini hanya dugaan, tetap saja, jatuhnya fitnah. Terlebih, masyarakat secara umum kadang masih sulit membedakan antara fakta dan dugaan.


Belum lagi dugaan-dugaan yang ditujukan pada Prasetyo. Mungkin ada beberapa awak media yang terlibat cinta sejenis. Namun, menuduh Pras adalah bagian dari mereka merupakan fitnah yang sangat keji. Belum lagi dugaan penyakit seksual menular yang diidap dan membuatnya depresi. Ini sungguh di luar nalar.


Memang, dalam kehidupan milenial saat ini, hal seperti itu dianggap wajar terjadi. Karena itu, ketika ada satu kasus, pikiran masyarakat yang sudah terpola langsung menuju ke sana. Akhirnya semua digeneralisir. Namun, tidak bisakah mereka membuat pengecualian.


Prasetyo adalah seorang yang saleh. Secara berkala, ia digembleng oleh Ustaz Hanif hingga menjadi pribadi yang  tangguh dan bertakwa. Perbuatan buruk semacam itu tidak mungkin ia lakukan. Qia meyakini hal itu. Ia memang belum lama mengenal Prasetyo. Namun, ia yakin bahwa Ustazah Kamila tidak sembarangan memilihkan orang untuknya.


“Maafkan Ibu yang tidak memberi tahumu sejak awal, Qi! Beritanya sangat menyakitkan. Ibu khawatir kamu tidak kuat menerimanya,” kata Bu Mirna suatu sore. Saat itu, Qia sedang membaca berita di koran.


Ya, kebenaran memang tidak pernah bisa ditutupi, meski begitu rapat seseorang menyembunyikannya.


“Qia mengerti, Bu. Qia tahu, Ibu melakukan itu untuk menjaga perasaan Qia. Jangan khawatir, Bu! Insyaallah, Qia akan belajar untuk bersikap tegar. Maafkan jika kemarin-kemarin Qia seperti anak kecil. Qia tidak bermaksud meratapi kepergian Kak Pras. Qia hanya merasa bahwa usaha Qia untuk menjadi orang yang baik belum maksimal. Karena itu, Allah belum memantaskan Qia untuk berjodoh dengan orang sebaik Kak Pras,” tutur Qia lirih. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang berjuang dengan keras untuk menyembunyikan isi hatinya.


“Itu tidak benar, Nak. Allah tidak pernah salah ketika menetapkan seuatu untuk hambanya. Allah juga tidak pernah membebankan sesuatu pun melebihi kadar kemampuan kita. Yakinlah, Pasti sudah ada skenario luar biasa dan indah yang sudah dipersiapkan Allah untukmu. Jadi, jangan pernah berprasangka buruk pada Allah! Belajarlah ikhlas, Nak! Allah akan memberikan semua yang kita inginkan, justru di saat kita ikhlas menerima segala ketentuan-Nya.”


“Iya,Bu. Qia paham. Bantulah Qia, Bu! Dan doakan Qia selalu.”


“Tentu saja, Nak. Ibu dan Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Doa kami selalu menyertaimu,” Kata Bu Mirna.


Qia menggenggam tangan ibunya. Aliran hangat yang menjalar dari tangan wanita terkasih itu  memberikan kekuatan tersendiri. Meski pada awalnya gadis itu sempat syok, akhirnya ia bisa menerima dan berusaha menghadapi persoalan itu dengan lapang dada. Seperti kata Ningrum kemarin. Ia tidak bersalah, mengapa harus takut?


Biarlah orang-orang itu mencemoohnya. Biarlah seluruh dunia mengecamnya. Suatu saat, kebenaran akan terungkap. Qia yakin, itu tinggal menunggu watu saja. Memang tidak mudah bagi yang menjalani seperti dirinya. Namun, dengan dukungan dari Ayah, Ibu, Ustazah kamila, Ningrum, dan beberapa orang yang masih percaya padanya, ia siap menghadapi dunia. Dan jangan lupa, sampai saat ini, keluarga Prasetyo selalu berada di pihaknya.


****


“Selamat datang kemabali, Qi! Aku senang kamu kembali mengajar. Anak-anak sudah merindukanmu,” sambut Ningrum dengan wajah ceria.


“Terima kasih, Mbak Ning. Dukungan Mbak sangat berarti bagiku,” jawab Qia lirih, tetapi mengandung ketegasan.


“Wah, pagi-pagi sudah rindu-rinduan. Siapa yang dirindukan Ustazah Qia, Ust?” Suara berat yang sudah dikenal  tiba-tiba mengagetkan mereka.  Pertanyaan itu ditujukan pada Ningrum.


“Eh, Pak Andre! Ini loh, anak-anak sudah merindukan Ustazah Taqiya,” jawab Ningrum sedikit gugup. Gadis itu sedang berusaha keras menyembunyikan debaran aneh di dadanya.


“Alhamdulillah, Ustazah Qia sudah hadir kembali di tengah-tengah kita. Selamat mengajar kembali, Ust!” ucap Andre sambil mengangguk sopan.


“Terima kasih, Pak,” jawab Qia singkat. Gadis itu berusaha untuk bersikap sewajar mungkin.


Sementara itu, satu-persatu ustaz dan ustazah mulai berdatangan. Ada yang menyambut baik kedatangan Qia, ada yang bersikap ogah-ogahan. Yang terang-terangan tidak suka juga ada. Tapi sekali lagi Qia tidak perduli. Sebenarnya jadwal Qia mengajar siang hari karena ia hanya memegang kelas tambahan. Hari ini ia berangkat pagi-pagi karena ada keperluan.


“Qia … kamu masih di sini? Kirain suah masuk bui?” sebuah suara cempreng dari sesorang yang baru masuk, tiba-tiba mengagetkan mereka.


Semua yang ada di situ melongo, diam tanpa bersuara. Mereka menatap ke arah Qia dan pemilik suara itu bergantian, termasuk Andre. Sejenak, suasana menjadi hening.


Pemilik suara itu melenggang santai menuju meja kerjanya tanpa merasa bersalah. Salah seorang guru yang duduk di dekatnya menyikut lengan orang itu, membuat ia tersentak dan sedikit membelalakkan mata.


“Ups … salah, ya? Maaf, hanya bercanda!” katanya sambil sedikit tertawa.


“Ustadzah Ninis, tolong laporan kegiatan kemarin dibawa ke ruang kerja saya!” seru Andre tegas penuh wibawa. Hanya saja, wajah lelaki itu datar tanpa ekspresi. Pengagum rahasia Kemilau Senja alias Taqiya itu kemudian beranjak keluar.


Siapa pun yang ada di tempat itu pasti memahami, bahwa Andre tidak sekadar meminta laporan kegiatan. Mereka tahu bahwa kali ini Ninis pasti akan mendapat masalah karena tidak bisa menjaga omongan. Andre memang seperti itu. Ia  tidak suka mempermalukan bawahannya di hadapan banyak orang. Namun, ia juga tidak akan membiarkan seseorang bersikap sembarangan. Apalagi orang itu adalah seorang pengajar, sangat tidak pantas bersikap demikian.  Di hadapan para guru saja seperti itu, bagaimana jika di hadapan para siswa?


-Bersambung-