
Masih dalam pelukan Bu Silmi. Ia membuka mata. Tidak ada siapa-siapa. Ibunya tak terlihat, begitu pula dengan yang lain. Ia hanya melihat seorang pemuda berambut gondrong yang sedang memperhatikannya.
Kepala Qia mendadak pusing. Pandangannya menjadi gelap. Gadis itu terkulai di pelukan Bu Silmi. Wanita yang melahirkan Prasetyo itu sampai sempoyongan dan hampir jatuh karena tidak siap menahan tubuh mungil Qia. Untunglah pemuda gondrong itu berhasil menangkap mereka.
...................
Qia membuka mata perlahan. Pandangannya masih agak kabur. Beberapa saat, mata kelinci itu mengerjap-ngerjap, kemudian melebar begitu menyadari pemandangan di sekelilingnya.
Sebuah ruangan dengan tembok berwarna putih terpampang di depan mata. Ruangan itu dibagi menjadi dua dengan sekat korden derek berwarna biru. Beberapa peralatan medis tampak di sekitar Qia. Untungnya, tak satu pun dari alat itu yang melekat di tubuhnya.
Kepala gadis itu masih terasa pening. Ia ingat, tadi dirinya terjatuh di pelukan Bu Silmi saat jenazah Prasetyo melewatinya.
"Jenazah Kak Pras? Kak Pras sudah tiada?" bisik Qia dalam hati. Mendadak hatinya terasa perih.
"Benarkah Kak Pras sudah tiada?" tanya Qia sekali lagi, masih di dalam hati.
Seketika jiwa polos Qia terasa hampa. Tanpa terasa, butiran bening pun menggenangi matanya.
Prasetyo Adi Kuncoro. Wajah sederhana milik lelaki itu seketika muncul dalam benak Qia. Calon imamnya itu seolah sedang tersenyum. Tatapannya lembut, penuh makna. Akan tetapi, apa makna tatapan itu, Qia sendiri tidak tahu. Hanya saja, hati gadis itu semakin terasa diremas-remas. Butiran bening itu semakin menenuhi ruang di kelopak matanya, bahkan mulai membasahi pipi gadis itu tanpa bisa dibendung.
Sekali lagi, wajah Pras terbayang, tetapi tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Kini, wajah itu tampak pucat.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya Qia ingin menentang takdir, tapi segalanya terlalu cepat, Kak. Qia bahkan belum sempat mengenal Kakak lebih jauh."
Gadis itu terisak-isak. Tubuh mungil itu tampak berguncang-guncang.
Masih segar dalam ingatannya. Dua bulan yang lalu, mereka dipertemukan melalui acara lamaran. Sebelumnya, Ustazah Kamila telah menjembatani mereka untuk saling mengenal. Hanya karena misi dan visi yang samalah yang membuat muda-mudi itu sepakat untuk mengarungi bahtera bersama.
Qia sadar, dirinya masih terlalu muda untuk membina rumah tangga. Namun, bila jodoh memang sudah datang, apa salahnya diterima. Toh diploma tiganya sudah kelar beberapa bulan yang lalu.
Di mata Qia, Pras adalah sosok yang sederhana. Meski saat lamaran Qia tak berani terlalu lama memandang, tetapi cukup bagi gadis itu untuk menilai, seperti apa sang calon imamnya.
Memang ia tak setampan Andre. Akan tetapi, wajah yang sederhana itu tampak segar dan bercahaya. Sepasang matanya tampak bersinar, pertanda pemiliknya adalah orang yang cerdas dan siap menatap masa depan. Qia jadi berdebar-debar kalau mengingat itu semua.
Sejenak, angan gadis itu melambung. Ia sudah membayangkan, kehidupam macam apa yang akan ia jalani. Hati Qia terasa berbunga. Bibir mungil itu selalu menyunggingkan senyum jika mengingat itu semua.
Tapi kini semua telah berubah. Kata-kata Bu Silmi tadi kembali terngiang.
"Ia telah tida. Ia telah pergi meninggalkan kita semua." bisik Bu Silmi tadi.
Dua kalimat itu menghempaskan angan yang sempat melambung, jatuh tersungkur dengan satu kibasan telak, di saat kepakan sayapnya bersiap untuk terbang.
Qia menghela napas. Sejenak, ia memejamkan mata. Genangan air yang hampir meluber itu akhirnya tumpah juga.
Namun, bunyi derit pintu dari pojok kamar membuatnya kembali membuka mata. Bunyi itu berasal dari pintu toilet yang dibuka. Buru-buru gadis itu menyeka pipi yang basah begitu melihat sang ibu menyembul dari balik pintu.
Qia tidak menjawab. Hanya mata sembab gadis itu yang berbicara dengan tatapan tanpa cahaya.
Bu Mirnaqq mencelos. Ibu mana yang tidak sedih menyaksikan anaknya seperti itu? Sungguh, ia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh putri semata wayang. Pernikahan tinggal sebulan lagi. Pasti Qia merasa sangat sedih.
"Qia yang sabar, ya! Kamu harus kuat. Allah pasti memiliki rencana yang lebih indah," kata Bu Mirna lembut. Kali ini, jemari wanita itu mengusap sisa-sisa air mata yang menempel di pipi Qia.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Benarkah yang tadi itu jenazah Kak Pras?" tanya Qia pelan sambil terisak.
"Iya, Qi?" jawab Bu Mirna singkat.
"Separah itu kah lukanya? Sebenarnya Kak Pras kecelakaan di mana? Kenapa bisa tertabrak, Bu?" berondong Qia cepat. Pertanyaan itulah yang menggayutinya sejak pertama kali mendapat berita tentang kecelakaan.
Bu Mirna tampak ragu. Ia khawatir Qia semakin syok kalau mengetahui kebenarannya. Untuk sesaat, wanita terdiam.
"Bu?" desak Qia. Bu Mirna menghela napas. Qia jadi semakin penasaran.
"Tidak ada yang menabrak, Qi," jawab Bu Mirna akhirnya.
"Lantas?"
"Pras ditusuk orang, Qi. Ibu juga tidak tahu krinologis kejadiannya."
"Subhanallah!" seru Qia sambil menutup mulutnya yang sedikit terbuka.
Seperti dugaan sang ibu, gadis itu memang terlihat sangat syok. Sungguh, Qia tak pernah menduga sedikit pun kalau sang calon imam akan mengalami nasib tragis seperti itu.
"Kamu harus kuat, Qi! Semua pasti ada hikmahnya. Kamu harus mengikhlaskan kepergian Pras, agar dia bisa tenang di alam sana! Ibu tahu, ini tidak mudah. Tapi, kamu harus berusaha. Kalian memang belum berjodoh ...."
Taqiya tidak menyahut. Pikirannya menerawang. Hati kecilnya bertanya-tanya, apakah ia memang belum pantas bersanding dengan orang baik seperti Pras? Padahal, sebelumnya ia merasa bahagia karena Allah berkenan menjawab doa-doanya, dengan menghadirkan calon imam yang baik. Akan tetapi, ia tidak mengerti, mengapa Allah kini mengambilnya?
Qia memang tidak sempurna. Akan tetapi, saat ini dirinya sedang berusaha untuk berbenah agar bisa menjadi muslimah yang yang baik. Meski ia sadar, dirinya masih jauh dari kriteria itu. Ia baru saja belajar. Tentu banyak hal yang belum dipahaminya. Kalau mengingat hal itu, Qia benar-benar merasa nelangsa.
...................
Qia berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Meski tidak terlalu mewah, tempat itu sangat rapi dan bersih. Karena itu, Qia betah berlama-lama di sana. Memang, tiada tempat senyaman kamar itu. Bagi Qia, kamarnya adalah istananya.
Sekarang, di istana itu, Qia sedang dirundung duka. Ia sudah kehilangan calon imam yang sangat diidamkan dan itu membuat lubang tersendiri di sudut-sudut hatinya. Meski ia sudah berusaha untuk ikhlas, tetapi tetap saja masih ada luka yang tersisa. Terlebih, ia melihat sikap orang-orang di sekitarnya agak berubah.
-Bersambung-