Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
54. Siapa Berani Mengacak-acak Rumah Satrio?



Sungguh, Qia merasa semakin bersalah. Ia ingin seratus persen percaya, tapi kenapa hati kecilnya masih tidak bisa menerima sepenuhnya. Padahal, ia sendiri tidak tahu, di mana letak kesalahannya.


Rasa bersalah itu semakin menyeruak, membuat dadanya sesak. Akhirnya membuat gadis itu terisak pelan.


"Maafkan, aku, Kak ..."


Isakan itu semakin keras membuat tubuh gadis itu terguncang.


***


Hati Satrio mencelos, tidak tahu harus berbuat apa.


Ia tidak terbiasa menghadapi wanita yang gampang menangis seperti itu. Ia tidak memiliki saudara perempuan, juga belum pernah menjalin hubungan khusus dengan seorang gadis. Di kesatuan, ia terbiasa berpartner dengan wanita-wanita perkasa yang tidak biasa meneteskan air mata.


Sekarang, melihat Qia yang menangis seperti itu, hatinya menjadi tergetar.


Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tubuh mungil Qia ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu mencurahkan semua rasa di sana.


Tadinya Satrio ingin membahas tentang kasus yang menimpa Qia dan segala kemungkinan yang bisa menjadi petunjuk tentang kematian Prasetyo. Namun, melihat kondisi Qia yang seperti itu, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Lagipula, ini sudah sangat malam. Mungkin Qia sudah sangat kelelahan.


"Istirahatlah, ini sudah sangat larut. Besok kita lanjutkan perbincangan ini," bisik Satrio dengan hati berdebar.


Bagaimana tidak? Seorang gadis cantik sedang berada dalam pelukannya. Dan aroma itu ... terasa sangat lembut dan feminin. Satrio mulai terbiasa menghidunya. Kadang-kadang ia mulai berpikir, mungkinkah sudah mulai ada chemistry di antara mereka?


Sementara itu, Qia sudah menghentikan isakannya. Namun, perasaan nyaman yang ia rasakan membuat gadis itu enggan melepaskan diri dari pelukan suaminya. Pun ketika pemilik dada kokoh itu mengurai pelukannya.


Dua pasang mata itu saling menatap. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap, hanya suara dua hati saja yang saling bercengkerama. Jantung Qia berdegup kencang. Begitu juga dengan Satrio.


Mereka baru tersadar dari tingkah yang menurut mereka aneh itu ketika lonceng di area rumah itu berbunyi dua belas kali.


"Kau baik-baik saja?" kata Satrio serak.


Entah mengapa, suara bariton itu terasa sangat merdu di telinga Qia. Gadis itu mengangguk. Ia hanya bisa tercekat saat tangan besar Satrio merapikan anak rambut di dahinya yang saat itu tidak tertutup kerudung dan tanpa dia duga, kini tangan itu meraih kepalanya dan mengecup keningnya, lama sekali.


Hanya sebuah kecupan, bukan ciuman panas seperti di cerita-cerita yang pernah ia baca. Namun, itu cukup membuat tubuh mungil itu serasa tak bertenaga. Jantungnya berdegup semakin kencang.


"Tidurlah, masih ada kerjaan yang harus Kakak selesaikan."


Satrio kembali bersuara. Setelah itu, ia bergegas keluar karena takut kebablasan.


***


Qia mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa. Dia berpikir, ada apa dengan dirinya. Kejadian itu sangat tiba-tiba. Baru beberapa menit yang lalu suaminya masuk kamar dan .... apa itu tadi?


"Ungkapan hati?"


"Curahan perasaan?"


Benarkah suaminya baru saja mengungkapkan perasaan? Kata-kata yang keluar dari mulutnya memang tidak biasa. Namun, entah mengapa cukup membuat Qia merasa nyaman. Menurutnya, itu jauh lebih baik daripada ribuan gombalan ungkapan cinta.


Bahkan, sampai sekarang kecupan di kening itu masih terasa, hangat dan memabukkan.


***


Sementara itu, Satrio juga mengalami hal yang sama. Ia sebenarnya merasa sangat lelah. Aktivitasnya di markas sudah sangat banyak, termasuk melatih anak buahnya olah kanuragan. Kini kerjaannya semakin banyak sejak kehadiran Qia.


Untuk yang terakhir itu, tanpa diduga, ternyata sangat menyenangkan. Awalnya ia merasa sebagai beban. Namun, semakin ke sini, kehadiran gadis itu semakin menyenangkan. Dan yang baru saja ia lakukan ....


Satrio kembali memejamkan mata, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Ya, jujur itu tidak masuk dalam rencananya. Semula, ia hanya ingin mengajak Qia bicara serius tentang kasusnya. Namun, tidak disangka ia malah melakukkan hal itu.


Sungguh, naluri kelelakiannya telah menuntun dirinya untuk melakukan hal itu. Rasanya sangat menyenangkan dan membuatnya terasa sangat nyaman hingga ia terlena dan melupakan tujuan awalnya. Sialnya, Satrio tidak menyesali hal itu. Kalau saja tidak teringat akan janjinya pada Qia untuk tidak membuatnya takut, rasa-rasanya ia tidak ingin berhenti dan malah ingin berbuat lebih. Hal ini membuat Satrio frustasi.


***


"Kau baik-baik saja?" tanya Satrio ketika mereka sedang sarapan.


Qia hanya mengangguk. Semburat warna merah langsung menghiasi kulit putihnya.


Dalam hati Satrio tersenyum. Ia yakin, kelinci kecil ini juga tidak bisa memejamkan mata semalam.


"Apa pagi ini kau ada acara keluar?" tanya Satrio sambil membetulkan tali sepatunya. Kebiasaannya setiap pagi memang lari di sekitar kompleks.


"Tidak, Kak," jawab Qia malu-malu. Benar saja, rupanya ia belum move on dari kejadian semalam. "Tapi nanti sore ada janji dengan Ustazah Kamila di rumahnya."


"Ya sudah, pagi ini kamu istirahat saja. Nanti sore Kakak antar. Sekarang Kakak mau k kantor sebentar untuk check lock."


"Memangnya tidak apa-apa kalau Kakak sering izin?" tanya Qia penasaran.


"Kerjaan Kakak bisa dilakukan di mana pun, tidak harus di kantor. Makanya Kakak punya ruang kerja sendiri di rumah," jelas Satrio mencoba meyakinkan Qia.


"Memangnya ada, yang seperti itu?" Qia mengeryitkan dahi.


"Adalah. Nih, Kakak."


Satrio menjawab singkat sambil tersenyum. Manis sekali. Saking manisnya sampai Qia tidak bisa lagi membalas ucapan suaminya. Tiba-tiba saja ia lupa mau bertanya apa.


***


Seperti anjuran Satrio, Qia memutuskan untuk istirahat pagi itu. Tentu saja tidak tidur. Selain tidak biasa, agamanya juga sangat tidak menganjurkan untuk tidur di pagi. Itu karena malaikat rahmat sedang bagi-bagi rezeki. Selain itu, saat bangun rasanya memang sangat tidak nyaman dan kepalanya pusing.


Itu sebabnya, Qia memutuskan untuk berkebun di samping. Di komplek itu, rumah Satrio memang berada di bagian ujung. Ada sisa tanah yang cukup lebar dan cukup untuk ditanami sesuatu. Qia tidak merasa takut karena ada teman Satrio yang tersebar di beberapa tempat. Entah di mana itu, Qia sendiri juga tidak tahu.


Menjelang siang Qia menghentikan aktivitasnya kemudian bergegas untuk menyiapkan makan siang. Kadang Satrio memang makan siang di rumah.


Sebelum mulai memasak, Qia memeriksa ponselnya, barangkali ada informasi penting. Ternyata ada banyak panggilan tidak terjawab dari ibunya. Qia mengeryitkan dahi. Tidak biasanya ibunya seperti itu. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Segera ia menelpon balik ibunya.


"Bu, ada apa?" tanya Qia setelah mereka berbalas salam.


"Qi, tadi pagi ibu mau membersihkan kamarmu. Tapi kamarmu acak-acakan sekali, Qi. Padahal, kemarin masih rapi. Sepertinya ada yang masuk rumah kita, tapi cuma kamarmu saja yang diacak-acak," jelas Bu Mirna. Terlihat sekali kalau ia sangat cemas.


"Deg." Jantung Qia seketika berdegup kencang. Tapi ia menyembunyikan kecemasannya dari sang ibu.


"Ibu tenang, ya. Qia akan segera hubungi Kak Satrio."


Beberapa saat, ia mencoba menenangkan ibunya. Setelah menutup telpon, ia segera menghubungi suaminya.


"Iya, Qi, ada apa?" tanya Satrio setelah berbalas salam. Saat itu ia sedang ada pertemuan penting di markas.


"Kak, ada orang yang mengacak-acak kamar Qia. Kelihatannya mereka mencari sesuatu." Suara Qia dari seberang terdengar sangat cemas.


"Apa? Siapa yang berani mengacak-acak rumah kita?"


Suara Satrio yang cukup keras di tengah-tengah rapat membuat semua orang menoleh ke arahnya karena terkejut.


"Astaga ... Siapa yang berani menyatroni rumah Bos? Nekat sekali mereka."


"Betul-betul cari mati saja."


"Siapa yang bertugas jaga di sana?"


"Bos, apa kakak ipar baik-baik saja?"


Seketika ruang pertemuan itu menjadi gaduh.