Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
92. Sahabat Pena



Untuk sementara, jati diri Kemilau Senja masih belum diketahui. Penyelidikan terhadap penulis itu masih menemui jalan buntu. Tim khusus yang bertugas mengecek secara langsung di tempat tinggal yang tertera mengatakan bahwa Aluna Fransisca Jordan, pemilik asli akun Kemilau Senja sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu setelah menderita leukimia selama bertahun-tahun.


"Itu berarti, ada orang lain yang menggunakan identitas gadis itu," kata Satrio.


"Betul, Bos. Tapi, saya rasa, ini tidak ada keterkaitan dengan Bu Qia," jelas Arka.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Adrian.


"Tidak ada satu pun indikasi yang mengarah ke sana. Tim sudah melacak, tidak ada hubungan kekerabatan di antara mereka. Tempat tinggalnya juga lumayan jauh, tidak memungkinkan untuk bertemu. Mereka juga bukan teman sekampus, tidak pernah mengenyam pendidikan di tempat yang sama, juga tidak pernah saling mengunjungi. Artinya, Bu Qia tidak pernah berkunjung ke daerah itu, begitu juga dengan gadis itu dulunya. Apalagi, gadis itu sudah menderita penyakit cukup lama dan lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit," jelas Arka panjang lebar.


Semua terdiam mendengar penjelasan itu. Untuk sementara, Qia lolos dari kandidat sebagai tersangka.


"Mungkin ia hanya ngefans saja. Biasanya, orang yang sudah ngefans itu sering kali melakukan hal-hal yang sama dengan idolanya, bahkan terkadang mereka terlihat lebih fanatik dari sang idola," putus Adrian.


Semua sepakat, termasuk Satrio meski dalam hati ia menolak. Mungkin Qia adalah salah satu fans Kemilau Senja. Namun, lelaki itu yakin kalau Qia bukan penggemar buta.


Setelah beberapa bulan tinggal bersama, Satrio jadi mengetahui bahwasanya sang istri adalah orang yang berprinsip tegas dan teguh pendirian, sama seperti dirinya. Beberapa karakter dasar mereka hampir sama. Mungkin itu sebabnya Allah menetapkan mereka sebagai pasangan. Lelaki itu semakin meyakini prinsip 'begitu orangnya, begitu pula jodohnya'.


"Semoga kami berjodoh sampai akhir, sampai menembus batas di akhirat nanti. Aamiin," batin Satrio.


Sementara ini, mereka memfokuskan tim untuk mengamankan jalannya ujian Qia besok, karena tidak menutup kemungkinan pihak lawan akan memanfaatkan sidang akademik besok itu untuk melakukan penyerangan. Kali ini, tim tidak mau kecolongan. Sekecil apa pun mereka tidak akan memberikan peluang.


***


Sementara itu, Qia terus mondar-mandir di kamar. Tidak banyak yang bisa ia kerjakan. Mau belajar juga tidak bisa konsentrasi. Mau melanjutkan cerbung atau sekadar berkomunikasi dengan netizen juga tidak mungkin karena nomor ponsel Kemilau Senja sedang diawasi.


Sekadar info saja, selama ini Qia tidak pernah membuat tulisan dengan laptop. Ia hanya memakai telpon genggamnya sebagai sarana. Ia bersyukur karena perangkat-perangkat zaman sekarang semakin canggih. Ada banyak fitur yang bisa digunakan untuk menulis. Bahkan, sambil tidur-tiduran pun bisa.


Itu sebabnya, Satrio tidak pernah curiga. Ia mengira kalau istrinya sedang bermain-main ponsel saja.


Seperti kali ini, akhirnya ia memutuskan untuk membuat akun baru dengan nama Kemilau Senja*. Ada satu bintang di belakang namanya sebagai pembeda.


Ia membuat akun itu dengan email baru menggunakan ponsel Qia yang sekarang. Wanita cantik itu merasa yakin kalau suaminya tidak akan memeriksa nomor ponselnya lagi karena yang menjadi fokus saat ini adalah nomor Kemilau Senja.


Untuk sementara, Qia menyimpan ponsel pemberian sahabat penanya itu di tempat yang aman. Ia tidak berani membuka untuk saat ini karena takut terlacak. Tiba-tiba saja pikiran gadis itu menerawang.


"Aluna, semoga kamu tenang di alam sana. Di sini, aku akan selalu mendoakanmu. Maaf, akhir-akhir ini, namamu agak terusik. Aku tidak bermaksud mencuri identitasmu, kau tahu itu."


Berawal dari langganan sebuah majalah anak-anak, mereka bertemu dalam rubrik sahabat pena. Memang agak tidak masuk akal. Di tengah kecanggihan teknologi ini, masih ada saja orang yang memakai cara sederhana untuk berkomunikasi.


Surat-suratan, misalnya. Menurut mereka, ini sangat mengasikkan. Mereka bisa bertukar apa saja, termasuk perangko yang menjadi koleksi mereka. Itu adalah salah satu benda berharga menurut mereka.


Namun, saat penyakit Aluna sudah semakin parah, ia sudah tidak bisa menulis surat lagi. Mereka hanya bisa berkirim pesan singkat melalui ponsel. Itu pun tidak terlalu panjang karena tidak memungkinkan bagi Aluna. Itu sebabnya, di menit-menit terakhir, Aluna berwasiat untuk mengirimkan ponselnya ke alamat Qia agar mereka seolah terhubung. Qia pun tidak ingin membuang nomor yang ada di dalamnya.


"Semoga kau tenang di alam sana." Qia mendoakan sahabatnya itu dengan khusuk.


...Saat satu bintang tenggelam, ia akan digantikan dengan bintang lain yang lebih sinarnya. Namun, jejak yang ditinggalkan tidak akan pernah hilang ditelan waktu....


...Di sudut sanubariku, akan selalu terukir namamu. Dengan tinta terindah, kan kuhiasi dengan bunga-bunga doa penuh cinta. Sahatku, Aluna, semoga kau bahagia dan tenang di alam sana, Al Fatihah....


***


Satrio pulang agak larut. Saat masuk kamar, ia mendapati istrinya sudah lelap dengan posisi duduk dan kepala terkulai di atas meja. Rupanya ia tertidur saat berusaha untuk membaca.


Satrio mengecup dan membelai rambutnya dengan lembut, kemudian dengan hati-hati memindahkan tubuh mungil itu ke atas kasur.


"Kau lelah, Hem?" bisiknya lembut sambil berbaring di samping wanita itu. Ia sendiri juga sangat kelelahan.


Namun, lelaki tampan itu tidak bisa memicingkan mata. Ia berbaring dalam posisi miring sambil menatap intens wajah cantik itu. Sesekali tangan kokoh itu membelainya.


"Sayang ... kenapa kau misterius sekali?"


Untuk kesekian kalinya, ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya sang istri. Kau Kemilau Senja atau bukan?


Pergerakan lembut Satrio itu ternyata sempat mengusik tidur Qia. Untungnya, ia hanya menggeliat sekilas kemudian memiringkan tubuhnya. Saat tangannya merasakan kehangatan dari sesuatu di sampingnya, Qia lalu merapatkan tubuhnya dan menyusup ke dalam dada bidang itu dan menemukan kenyamanan di sana.


Saat itu ia sedang bermimpi, seolah sedang bermain kejar-kejaran di taman sambil menangkap kupu-kupu bersama Aluna. Itu adalah imajinasi mereka waktu itu.


Saat itu, untuk memberikan semangat pada Aluna, ia memberikan sugesti, kelak kalau gadis itu sembuh, mereka akan bermain bersama di taman. Mereka akan bersenang-senang sebanyak yang mereka inginkan.


Dan sungguh, tak lama, ternyata Allah mengabulkan permohonan itu. Allah betul-betul menghilangkan rasa rakit Aluna dengan cara mengambilnya untuk selamanya. Dan keinginan untuk berkejar-kejaran di taman itu hanya menjadi angan belaka, yang selalu menerobos, masuk ke alam mimpi Qia.


Ya, Aluna memang sahabatnya, yang tidak akan pernah terlupakan. Ia selalu menghiasi mimpi-mimpi Qia seolah ingin membuktikan bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah bisa lekang.