Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
117. Sang Idola 1



Seorang pria berseragam perwira masuk. Satrio mengenalinya sebagai perwira terbaik di kesatuannya. Namanya Andika. Kalau dilihat dari posisinya, ia hanya satu atau dua tingkat di bawah Satrio. Sama halnya dengan Satrio, Andika juga sering dikirim dalam misi-misi rahasia yang berbahaya dan selalu berhasil. Hanya saja, mereka berbeda kesatuan. Andika tidak di bawah Adrian.


PROK PROK PROK


Andika bertepuk tangan dengan senyum mengejek di hadapan Satrio.


"Bos Satrio yang sangat hebat dan terhormat," sapa Andika dengan senyum smirk.


"Oh, kamu?" jawab Satrio singkat tanpa ekspresi. Namun, wajah datar itu terlihat sangat tenang.


"Ya, ini saya. Lihat kondisi Anda, sangat mengenaskan. Sayang sekali, dulu Anda adalah sumber inspirasi saya. Saya selalu terpacu untuk melakukan apa pun secara maksimal karena ingin bisa seperti Anda. Saya bisa sampai seperti ini karena ingin meneladani Anda. Tapi sekarang ... Anda bukan hanya mengecewakan saya, tapi benar-benar membuat saya muak," cibir Andik.


"Ha ha ha." Satrio terbahak mendengar penuturan jujur Andika membuat lelaki di hadapan Satrio mengernyitkan alis.


"Kenapa Anda tertawa?" tanya Andika heran.


"Saya sangat tersanjung dengan pengakuan polos kamu. Namun, jujur saya seribu kali lipat lebih kecewa melihat kamu," desis Satrio sinis.


"Oh, ya? Kenapa bisa begitu? Di sini yang menjadi penghianat adalah Anda. Anda yang membuat saya kecewa."


Mendengar itu, sekali lagi Satrio tertawa.


"Karena kamu bodoh sekali. Kalau memang kamu terinspirasi dariku, harusnya kamu tidak sebodoh itu mengenali musuh. Harusnya kau tidak menjadikan begundal sebagai teman," ujar Satrio santai. Ia mulai menemukan celah untuk menundukkan Andika. Jujur, ia baru tahu kalau dirinya dijadikan idola. Padahal, sebelumnya ia mengira kalau lelaki di depannya itu akan mempersulit dirinya.


"Bukannya memang begitu? Atasan kamu memang pecundang," ejek Satrio enteng.


"Jaga batasan Anda, Pak. Sungguh, dari lubuk hati yang paling dalam, saya tidak ingin bersikap kasar pada Anda. Jadi, mohon kerja samanya!" Kali ini Andika sedikit meninggikan suaranya.


"Ha ha ha."


Sekali lagi Satrio terbahak-bahak.


"Itulah mengapa tadi saya bilang kalau kamu itu bodoh. Kamu tidak bisa membedakan mana yang pahlawan dan mana yang pecundang. Jelas-jelas bos kamu itu pecundang, tapi masih dibela," cibir Satrio.


"Sekali lagi saya peringatkan, Anda jangan coba-coba membalikkan fakta. Saya memang pernah mengagumi Anda, tetapi saya tidak akan terkecoh. Pak Satya sama Pak Wijaya itu orang baik. Mereka berdua adalah tokoh panutan masyarakat, mana bisa dikatakan pecundang," bentak Andika marah. Rupanya ia mulai tersinggung.


Sekali lagi Satrio tertawa. Kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya.


"Jadi, dalang di balik ini semua adalah Satya dan Wijaya?" gumam Satrio puas. Rupanya ia berhasil memancing Andika, bahkan lebih mudah dari yang ia bayangkan.


Andika yang merasa terpancing oleh Satrio, merasa kesal pada dirinya sendiri.


"Kenapa aku begitu bodoh jika berhadapan dengannya?" batin Andika.


Ia merutuki dirinya sendiri berkali-kali. Bagaimana tidak? Di kesatuannya, ia adalah perwira terbaik. Namun kenapa, ketika berhadapan dengan Satrio, ia justru seperti butiran debu yang bisa diterbangkan angin kapan saja.