Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
84. Semua Karena Anita 2



Qia hampir terjungkal setelah didorong dengan cukup keras oleh Anita. Hentakan yang sangat keras itu membuat kepala Qia sedikit berdenyut. Merasa tidak sanggup menguasai keseimbangan tubuhnya, ia sudah pasrah kalau mukanya bakal nyungsep ke lantai.


Saat hendak terjatuh itu, tiba-tiba sepasang tangan kokoh menangkap tubuh mungilnya sehingga tidak jadi mencium tanah. Qia terkejut dan menjadi panik seketika. Pasalnya, ia mengira kalau yang menangkap tubuhnya adalah anak buah si Jack. Seketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menjadi ketakutan.


"Ya Allah, tolong," batin Qia pasrah.


"Sayang ... Kau baik-baik saja?" Sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinganya membuat wanita cantik itu terkejut. Terlebih panggilan sayang disematkan padanya, untuk yang kedua kalinya.


Qia mendongak dan hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tentu saja ia merasa sangat lega dan bahagia begitu mendapati pemilik suara khas itu.


"Kak .... Qia takut," kata Qia sambil menghambur ke pelukan suaminya.


"Ssstttt, tidak apa-apa, Kakak sudah datang, semua akan baik-baik saja," bisik Satrio lembut sambil memeluk erat tubuh rapuh itu.


"Kau baik-baik saja kan, Hem?"


Qia mengangguk, tetapi posisinya masih berada dalam pelukan suaminya.


Sementara itu, Anita baru saja menjatuhkan tiga orang sekaligus dengan tendangannya langsung melengos menyaksikan adegan itu. Jujur, hatinya terasa sangat perih. Terlebih, saat orang yang sangat dia cintai menatapnya dengan tajam bercampur kemarahan. Ia tahu, Satrio sedang salah paham karena dirinya telah mendorong Qia keras-keras.


Betul saja, tak lama kemudian lelaki yang membuat dirinya tergila-gila itu terdengar bersuara.


"Kenapa kau melakukannya? Harusnya kau tahu, mana yang menjadi prioritasmu. Kau tahu, aku betul-betul sangat kecewa dengan sikapmu saat ini," tegur Satrio pelan. Suara bariton itu terdengar sangat kecewa membuat dada Anita terasa semakin sesak. Anita tahu, hal semacam ini tak akan bisa dihindari olehnya.


Anita membeku beberapa saat. Kata-kata yang meluncur dari suara bariton itu betul-betul serasa meremas dadanya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menjelaskan seperti apa pun, juga percuma, laki-laki itu tidak akan pernah percaya padanya. Ia juga tidak berharap pada wanita yang sedang berada dalam dekapan lelaki itu untuk menjelaskannya.


Sementara itu, perkelahian masih tetap berlangsung antara anak buah si Jack dengan anak buah Satrio. Namun, tidak butuh waktu lama akhirnya perkelahian itu berhenti. Anak buah Satrio berhasil meringkus orang-orang jahat itu, sedangkan seperti biasa, Jack berhasil melarikan diri.


Untungnya kekacauan itu tidak menimbulkan kerusakan parah. dan anak buah Satrio sudah membereskan semuanya.


Qia yang merasa tidak enak dengan teguran suami pada Anita akhirnya membuat klarifikasi


"Kak, tidak seperti itu kejadiannya," ujar Qia pelan sambil mengurai pelukannya.


Satrio mengeryitkan kening.


"Orang-orang jahat itu hampir saja menangkap Qia. Untunglah ada Mbak Nita. Mbak Nitalah yang menolong Qia dan menghajar mereka. Tadi Mbak Nita mendorong Qia untuk menghindari jangkauan mereka," jelas Qia.


Untuk kedua kalinya Satrio mengeryitkan dahi, kemudian menoleh ke Anita.


"Maaf, aku telah salah sangka," ucap Satrio datar.


Anita masih bergeming. Ia hanya menatap lelaki itu tanpa berkata apa-apa. Hatinya sungguh terasa sakit. Namun, karena tak tahan lagi akhirnya ia pun bersuara.


'Kau sudah jauh berbeda. Begitu jahatnya diriku di matamu hingga menuduhku seperti itu. Jujur, aku memang tidak suka sama istri kecilmu itu karena dia telah merebutmu dariku. Tapi, aku tidak sepicik itu untuk melukainya. Apalagi, dia adalah saksi kunci yang harus dilindungi. Bagiku keselamatan dan keamanan negeri ini lebih penting dari apa pun," batin Anita sambil melangkah pergi.


Satrio tercekat. Sungguh ia juga tidak bermaksud menyinggung perasaan rekan kerjanya itu.


"Nit, tunggu ...." Satrio berniat untuk menyusul gadis itu.


"Biar aku saja," Cegah Adrian yang ternyata juga ada di tempat itu Suara bariton itu memotong panggilan Satrio.


Sepenggal Adrian, Satrio mengajak Qia duduk di salah satu stand. Kebetulan lantai tiga memang khusus untuk makanan.


"Apa Mbak Nita akan baik-baik saja, Kak? Kalau Jack dan anak buahnya menemukannya bagaimana?" tanya Qia cemas sambil menatap suaminya.


Sementara itu, Satrio balik menatapnya.


"Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir. Kak Adrian sangat mencintainya, ia akan menjaganya. Lagipula, Anita itu wanita yang tangguh, tidak mudah untuk ditindas. Dan ... Mengenai si Jack, kamu juga tidak perlu khawatir. Apa pun yang terjadi, Jack tidak akan pernah menyakitinya," jelas Satrio.


"Kenapa begitu?" tanya Qia penasaran. Sebenarnya ia sedikit menduga dari perdebatan antara Jack dan Anita tadi. Namun, ia ingin memastikan langsung dari suaminya.


"Karena si Jack cinta mati sama Anita," jawab Satrio ringan


"Dan kau?" pancing Qia. Suaranya terdengar pelan.


Satrio merasa, ada getaran halus di dalamnya, seperti kekhawatiran yang amat dalam.


Mata kelinci itu tampak berkedip-kedip menatap suaminya, berharap akan suatu kepastian.


"Kenapa dengan Kakak?" Satrio balik bertanya. Ia juga menatap Qia.


"Dia sangat mencintaimu, Kak," jawab Qia serak.


"Lalu kenapa? Hem?" tanya Satrio gemas sambil mencubit hidung Qia.


"Kak Adrian sangat mencintainya, begitu juga dengan si Jack. Bagaimana denganmu, Kak? Apakah Kakak juga mencintainya?" selidik Qia.


Mendengar itu, Satrio tersenyum sambil menatap istrinya lembut.


"Kaulihat gadis-gadis yang ada di sebelah sana, di situ juga, bahkan hampir semuanya melihat ke arah Kakak. Itu artinya, suamimu ini dikagumi banyak wanita. Kalau ada beberapa di antara mereka yang suka, bukankah itu wajar, Hem?" jawab Satrio sambil sekali lagi mencubit hidung Qia.


Wanita cantik itu langsung melengos.


"Hem, mulai lagi narsisnya kumat," cibir Qia kesal. Namun, ia mengakui, saat ini suaminya sedang menjadi pusat perhatian banyak wanita, baik yang masih muda ataupun sudah tua.


Satrio langsung terkekeh.


"Qi, Kakak tidak sedang bercanda. Selama ini Kakak memang cukup dekat dengan Anita. Itu karena kami sedang menjalankan tugas yang sama dan kebetulan berada di tim yang sama. Mungkin karena hal itulah akhirnya Anita salah menafsirkan hubungan kami," jelas Satrio.


"Lagipula ... Kakak sudah punya seorang istri yang cantik kayak gini," bisik Satrio sambil merengkuh kembali tubuh mungil itu.


"Gombal!" cibir Qia sambil mencubit pinggang Satrio.


Wajah Qia langsung memerah. Ia langsung menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang suaminya. Andai ia mengangkat muka, mungkin sudah terlihat sangat merah saking malunya. Terlebih jika mengingat kalau tadi Satrio telah memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kau baik-baik saja, kan? Hem? Kau tidak terluka, kan?" bisik Satrio lembut sambil mengusap-usap kepala Qia.


"Kak, nanti kerudungku berantakan," gerutu Qia kesal.


Sekali lagi Satrio tertawa. Tiba-tiba pemuda itu sadar kalau istrinya tidak lagi memakai kerudung yang sama dengan yang dipakainya pagi tadi. Mengingat hal itu, Satrio jadi teringat satu hal lagi dan pastinya ia akan mengusut masalah ini, yaitu ponsel yang dipakai oleh Qia untuk menelponnya hari ini.