
Saat itu, posisi Qia membelakangi Satrio. Namun, Satrio yang sesungguhnya tidak betul-betul memejamkan mata dapat melihat dengan jelas pantulan wajah di cermin yang ada di depan Qia. Melihat kecantikan yang luar biasa itu, jiwa lelakinya meronta.
"Masyaallah, cantiknya!" batin Satrio.
Secara spontan, pemuda itu bangkit dan duduk tegak sambil menatap wajah cantik itu dengan pandangan yang tidak biasa.
***
Qia yang mengira suaminya sedang berbaring dan memejamkan mata terkejut begitu menangkap bayangan seseorang duduk di belakangnya dengan tatapan tidak biasa. Tanpa sadar, ia berbalik.
"Kak?" Qia melotot sambil menutup mulutnya yang sedikit menganga
"Kenapa? Kau seperti melihat hantu sungguhan aja," kata Satrio. Ia bangkit dan menghampiri Qia membuat gadis itu ketakutan.
"Kakak mau apa?"
Qia mundur dua langkah.
Satrio tidak menjawab. Kakinya terus melangkah mendekati Qia.
"Kak?"
Qia ingin mundur lagi, tapi tidak bisa. Tubuhnya kini membentur meja rias. Wajah cantik yang tadi bersemu merah, kini memucat.
Satrio yang kini berada tepat di depan Qia menelan ludah. Bohong kalau dia bilang tidak terpengaruh dengan wajah cantik itu. Bagaimanapun, ia adalah lelaki normal.
Namun, seraut wajah bening milik Prasetyo melintas membuat lelaki itu memalingkan wajah. "Deg.'
"Aku tidak akan menghianatimu, Kak," batin Satrio menahan debaran di jantungnya.
Saat matanya kembali menatap sosok cantik itu lagi, kini yang muncul malah bayangan Anita membuatnya semakin merasa bersalah.
"Astaghfirullah," ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba kata-kata tegas dari atasannya kembali terngiang.
"Ini adalah perintah!" membuat Satrio semakin frustasi.
Sementara itu, jantung Qia semakin berdebar. Apalagi, tatapan Satrio sangat intens ke arahnya. Namun, ia segera sadar, bahwa Satrio adalah suaminya. Lelaki itu berhak melakukan apa saja, termasuk meminta haknya. Mengingat itu, akhirnya Qia hanya bisa pasrah.
"Kau takut sama Kakak, hem?" Suara bariton Satrio terdengar membuat Qia semakin berdebar.
"Jangan mikir yang aneh-aneh. Kakak janji tidak akan meminta hak Kakak kecuali kita berdua sama-sama siap. Biarkan semua mengalir apa adanya, bagaimana?" kata Satrio sambil mengacak-acak rambut Qia. Suaranya terdengar serak.
Qia mengangguk. Jujur, ia merasa sangat lega. Andai Satrio betul-betul meminta haknya pun, ia tidak akan berani menolaknya. Ia tidak mau menjadi istri yang dilaknat malaikat rahmat.
Satrio sendiri merasa lega setelah mengucapkan kalimat itu. Terlebih, setelah melihat ketakutan di wajah Qia sirna.
Namun, hanya itu yang bisa dijanjikan Satrio saat ini. Entah bagaimana nanti, ia tidak mau memikirkannya untuk sementara.
"Sekarang, cepatlah tidur, besok banyak hal yang harus kita lakukan," kata Satrio lagi.
Qia masih bergeming.
"Qi .... Jangan sampai Kakak berubah pikiran." Satrio sengaja menakuti Qia.
Mendengar itu, buru-buru Qia naik ke ranjangnya dan cepat-cepat bersembunyi di bawah selimut. Ia sengaja meletakkan guling sebagai pembatas antara dirinya dengan Satrio. Setelah itu, Qia berusaha untuk memicingkan mata.
***
Meski baru kemarin menikah, hari ini Qia tetap datang ke kampus karena ada janji dengan dosen pembimbingnya. Ini adalah hari pertama dirinya diantar Satrio.
"Tidak usah repot-repot, Kak. Qia sudah terbiasa berangkat sendiri," kata Qia sambil memakai kaus kakinya. Mereka baru selesai sarapan.
"Trus, apa gunanya kita menikah? Ingat, saat ini kamu sedang diincar, Qi," jawab Satrio.
Qia tidak bisa mengelak. Ia ingat kalau saat ini dirinya sedang dalam bahaya.
"Ayo, cepat Qi, habis ini Kakak harus ke tempat kerja sebentar. Nanti kalau sudah selesai, segera hubungi Kakak. Kakak akan jemput kamu."
Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, Qia segera menyusul Satrio yang sudah lebih dulu berada di atas motor sportnya.
"Kita naik ini, Kak?" tanya Qia tak percaya.
"Kenapa? Untuk sekarang, hanya ini yang Kakak punya."
"Bukan itu maksudku, Kak?" kata Qia. Wajahnya bersemu merah. Ia khawatir Satrio salah paham dan mengira dirinya tidak mau naik motor.
"Qia naiknya, bagaimana?"
"Naik, ya naik, apa sulitnya? Sini, Kakak bantu."
Qia terlihat ragu. Sebenarnya tidak masalah kalau dibonceng pakai motor biasa. Namun, pakai motor sport? Qia pasti sangat kesulitan dengan gamis yang dipakainya.
Kalau hadap ke depan, itu tidak mungkin karena kakinya pasti tersingkap. Kalau hadap samping, pasti sangat tidak nyaman karena posisi duduknya agak lebih tinggi diri Satrio.
"Yang bener aja?" protes Qia. "Kita pakai motor yang lain aja, ya, Kak ..." rengek Qia.
"Sekarang yang ada cuma ini, Qi. Apa kamu ingin kita pakai motor Ayah?"
Seketika wajah Qia berseri.
"Iya, mau ... mau. Kita pakai motor Ayah saja."
Akhirnya ada solusi. Qia merasa lega.
"Trus nanti kalau Ayah keluar bagaimana? Apa Ayah harus pakai motor Kakak? Kamu gak kasihan sama Ibu dibonceng Ayah pakai motor ini kalau ke pasar?"
Ucapan Satrio itu membuat mulut Qia kembali mengerucut. Ia membayangkan, betapa tersiksanya sang ibu kalau dibonceng pakai motor ini.
"Cuma hari ini, Qi. Kakak janji besok motor ini bakal Kakak tukar dengan yang lain. Sekarang, cepat naik, kita sudah terlambat.'
Akhirnya, dengan terpaksa Qia naik juga. Sangat aneh, rasanya dibonceng motor sport dengan memakai gamis seperti itu. Terlebih, dengan posisi jok yang lebih tinggi di bagian atas, membuat Qia harus betul-betul menempel ke punggung Satrio. Ia harus berpegangan erat kalau tidak ingin jatuh.
Posisi seperti itu tentu sangat tidak aman, terutama untuk jantung mereka. Satrio lelaki normal, dipepet seperti itu, mana tahan?"
***
"Kakak langsung ke tempat kerja?" tanya Qia sambil mencium punggung tangan Satrio.
"Kakak akan pulang sebentar, tadi ada barang Kakak yang tertinggal. Setelah itu, baru ke kantor."
Qia mengangguk.
"Jangan lupa kabari Kakak kalau sudah selesai. Ingat, jangan pergi ke mana pun sendirian," pesan Satrio.
Sekali lagi Qia mengangguk.
Satrio lalu memacu kuda besinya dengan cepat, menuju ke rumah Qia, tepatnya ke kamarnya. Sebenarnya, tidak ada barang yang tertinggal. Ia sengaja pulang untuk memeriksa semua barang milik Qia yang ada di kamar itu. Saat Qia tidak ada di rumah, itulah kesempatan baginya.
***
Di markas
[Bagaimana, apakah kamu sudah menemukan sesuatu]
[Masih kucari, Bos. Sabar dikit, kenapa?]
[Jangan terlalu lama. Ada selentingan kalau kasus ini akan dibekukan]
[Kenapa begitu?]
[Terlalu banyak pihak yang terlibat. Karena itu, kau harus cepat. Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja padanya?]
[Aku sudah menginterogasinya secara halus, jawabannya tetap sama. Aku sangat yakin kalau dia tidak berbohong. Bahkan, sempat terpikir olehku kalau kau hanya terobsesi padanya]
[Tidak, aku sangat yakin kalau istrimu mengetahui sesuatu. Mungkin saja saat ini ia belum menyadarinya]
[Baiklah, beri aku waktu]
[Jangan terlalu lama]
[Oh ya, apa menurutmu Wijaya Kusuma juga terlibat? Informanku mengatakan kalau Jack adalah orang suruhannya]
[Aku sudah memeriksanya, ia cukup bersih]
[Aku tidak yakin ia berusaha menggagalkan pernikahanku hanya karena ingin membantu anaknya untuk mendapatkan Qia]
[Entahlah, faktanya aku belum bisa mengendus keterlibatannya. Namun, apa pun itu, kalian harus tetap waspada]
[Siap]