
Dalam tidur panjangnya, Satrio seperti mendengar suara seseorang yang ingin mengganggu Qia. Namun, tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Suami Qia itu berjuang sekuat tenaga untuk mengumpulkan kekuatan, tetapi tetap saja tubuh kokoh itu tidak bisa digerakkan.
Sekali lagi ia mencoba dan terus mencoba, sampai akhirnya, ia mendengar suara dokter Iman yang mengatakan kalau istrinya dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Tentu saja ia tidak terima.
Akhirnya lelaki itu mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa, barulah ia bisa menggerakkan menggerakkan sedikit ujung jari telunjuknya. Kemudian, Satrio mengerahkan semua kekuatan sekali dan akhirnya ....
Saat itu dokter Iman melihat tubuh Satrio bergerak-gerak seperti meronta setelah tadi sempat menggerakkan ujung jari telunjuknya.
Satrio berhasil melawan kekuatan besar yang membelenggu dirinya dan serta-merta membuka mata.
"Astaghfirullah al aziim."
Satrio tampak terengah-engah. Beberapa saat, ia seperti orang linglung.
"Lo sudah sadar, Alhamdulillah ...." kata dokter Iman tenang.
Lelaki tampan yang cukup kalem itu mulai memeriksa keadaan Satrio.
Satrio bergeming. Beberapa saat setelah berhasil menggenapkan jiwanya, ia kembali tersadar dan tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Qia?" ucapnya dengan nada tanya. Ia tampak celingukan.
"Di mana istri gue?" tanya Satrio sekali lagi. Kali ini dengan agak panik sambil menatap dua sahabatnya.
Dokter Iman dan Adrian saling tatap.
"Tenanglah, istri lo baik-baik saja, lo baru saja sadar," jawab dokter Iman menenangkan.
Namun, Satrio tampak sangat mencemaskan Qia. Ia tahu, istrinya itu kini pasti sangat ketakutan. Apalagi, saat ini Qia sedang sendirian, tidak mengenal satu pun orang yang ada di tempat itu.
"Gue bilang, di mana istri gue!" teriaknya dengan cukup keras. Kali ini pemuda itu betul-betul marah.
"Sat, lo itu baru sadar. Tenanglah, jangan berisik, kenapa. Istri lo baik-baik saja. Dia ada di luar." Kali ini yang berbicara adalah Big Bos. Lelaki itu terlihat rada kesal karena Satrio begitu keras kepala.
Andrian menatap sekilas lelaki itu, kemudian mendengkus kesal juga.
"Lo? Dasar kakak lucknut!" umpatnya pelan. Nada suaranya terdengar sangat dingin.
"Lihatlah, salam lo mesra banget sama gue. Baru sadar saja sudah kurang ajar. Cepat sungkem!" kata Adrian.
Satrio tidak menggubris. Ia hanya mendengkus kesal, kemudian bangkit dari tempat tidur dan berniat turun. Ia bermaksud mencari Qia. Tampak dengan jelas kecemasan di wajahnya.
"Eeeeh ... lo mau ke mana? Lo belum boleh turun," cegah dokter Iman.
Namun, Satrio tampak tak mau dengar. Dia tetap berniat untuk turun.
"Oke oke, gue panggil istri lo kemari. Lo tetap di sini," kata dokter Iman menenangkan.
Satrio menurut, ia akhirnya tetap duduk di pembaringan, tak lagi berontak. Tubuhnya memang masih terasa lemas.
Sementara, dokter Iman melangkah keluar untuk menemui Qia.
Begitu pintu dibuka, terlihat seraut wajah pucat menatap dengan penuh harap ke arahnya. Lelaki yang sudah mengikrarkan diri sebagai kakaknya Satrio itu jadi tidak tega.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia sudah sadar? Dia baik-baik saja, kan?" berondong Qia.
Dokter tampan itu mengangguk.
"Silakan masuk!" kata dokter Iman sopan.
Tanpa membuang waktu, Qia langsung masuk dan mendapati Satrio sedang duduk dengan kaki menjuntai di lantai. Kepalanya dibebat perban sementara tangan kirinya terhubung dengan selang infus. Wajah lelaki itu terlihat masih pucat.
Qia yang melihat itu, hatinya bagai diremas-remas.
"Kak ...." panggilnya tertahan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung menghambur ke pelukan Satrio.
"Kak ...." Tanpa bisa dicegah, gadis itu menangis sesenggukan di sana.
Qia menumpahkan segala rasa, antara takut karena nyawanya sendiri sedang terancam, juga khawatir akan keselamatan suaminya. Betapa ia tadi sedang kebingungan. Ia betul-betul merasa sendirian. Sekarang ia menumpahkan semua itu sampai tubuhnya berguncang.
"Ssstttt ... tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kakak ada sini," kata Satrio menenangkan. Ia memeluk Qia erat-erat dengan tangan kirinya, sesekali menepuk punggung dan mengelus kepalanya. Suaranya terdengar sangat lembut membuat Adrian dan dokter Iman saling pandang.
Sementara itu, Qia masih tetap menangis sesenggukan.
"Qia takut. Qia takut Kakak kenapa-napa," bisik Qia pelan sambil masih sesenggukan. Namun, suaranya masih terdengar oleh dokter Iman dan Adrian. Gadis itu mempererat pelukannya.
"Kakak baik-baik saja. Lihatlah, luka sekecil ini tidak akan membuat Kakak tumbang," kata Satrio.
Sekali lagi dengan nada sangat lembut, sampai-sampai dua orang di dekat mereka sekali lagi saling pandang.
Untuk pertama kalinya mereka melihat Satrio selembut itu. Kalau tidak melihat sendiri, pasti mereka tidak akan percaya.
Qia mengurai pelukannya, kemudian menatap suaminya. Rasa khawatir masih tampak di manik mata kelinci itu. Ia menyentuh lembut perban di kepala Satrio kemudian turun ke pipinya.
Diperlakukan seperti itu, dada Satrio langsung bergetar. Ada gelenyar aneh yang terus berdesir di hati pemuda itu. Jangan ditanya, jantungnya sedari tadi berdegup kencang.
Ia menatap lembut gadis itu, tangan kokohnya mengusap lembut sisa-sisa air mata di pipi Qia.
Dua insan itu saling tatap dan saling sentuh membuat dua orang di sebelah mereka ikut terhanyut, betul-betul tak menyangka ada adegan seperti itu di depan mereka. Dan yang membuat mereka hampir tidak percaya adalah pemeran utama pria, Satrio Adi Kuncoro, yang terkenal dingin, angkuh, dan pelit bicara sama perempuan.
Saking speechlessnya, sampai-sampai seorang dokter yang kurang kerjaan mengabadikan momen itu di dalam ponselnya.
"Ehem ... ehem." Adrian berdehem.
Suara Jomlowan sejati ini menyadarkan dua insan berlainan jenis itu. Qia menatap sekilas ke orang bersuara itu, kemudian menunduk malu.
"Astaghfirullah, kenapa aku hilang kendali?" pikirnya. Wajahnya terlihat memerah. Buru-buru ia melepaskan pegangan tangannya dan sedikit bergeser, agak menjauh dari Satrio. Namun, sang suami kembali menyeretnya untuk mendekat.
"Sini, Kakak mau mengenalkan mereka."
Qia menatap sekilas ke suaminya kemudian beralih ke dua lelaki di depannya secara bergantian.
"Ini dokter Iman, dokter hebat yang selalu ada di saat Kakak terluka. Sayangnya, dia ini agak cerewet, suka larang Kakak melakukan ini dan itu," kata Satrio. Pernyataan terakhir itu kontan membuat dokter Iman mendelik, kemudian menatap Qia sambil tersenyum dan menganggukkan ringan.
Qia mengatupkan kedua telapak tangan dan diletakkan di dadanya untuk memberi salam sambil balas tersenyum sopan dan mengangguk ringan.
"Kalau yang ini, namanya Adrian. Ia ini yang punya Porche hitam yang tadi kita pakai." Satrio menjeda ucapannya untuk mengetahui reaksi Qia.
"Bos?" ujar Qia dengan nada tanya. Tiba-tiba ia ingat kalau mobil itu sekarang rusak parah.
"Sayangnya, dia suka sekali nyuruh-nyuru Kakak," lanjutnya. Kontan itu membuat Adrian yang ganti mendelikkan mata.
Sesaat Qia tampak terkejut dengan sikap suaminya. Ia jadi agak takut kalau-kalau suaminya kena marah karena bersikap tidak sopan pada atasan.
Ia lalu mengangguk sopan ke arah Adrian sambil mengatupkan kedua tangan di dada.
"Qi, Mereka berdua adalah Kakak kita, selain Kakak Pras. Jadi, kamu jangan takut sama mereka," ujar Satrio kemudian, membuat hati dokter Iman dan Adrian menghangat.