Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
131



Andre yang sudah terpancing emosinya mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun, pemuda di depannya itu terlalu kuat.


Karena kedua tangannya dipegang kuat oleh Satrio dan sulit untuk dilepaskan, maka Andre membenturkan kepalanya ke kedua tangannya agar terlepas dari cengkeraman Satrio. Namun, semua sia-sia. Ia bahkan seperti membentur sebongkah batu yang sangat keras hingga membuat kepalanya sakit.


"Sebenarnya, apa yang kau inginkan?" desis Andre geram.


Satrio menyeringai, marah.


"Gue hanya ingin lo membebaskan Qia," jawab Satrio.


"Apa maksudmu membebaskan Qia? Apa terjadi sesuatu padanya? Sebagai seorang suami, kau betul-betul tidak becus. Dan sekarang malah menuduh dan memintaku membebaskannya?" Andre tampak tidak terima.


Mendengar itu, Satrio bertambah kesal. Ia ingin sekali menghajar anak Wijaya Kusuma itu, tetapi dia tahan. Tentu saja karena ia membutuhkan Andre untuk mencari tahu keberadaan Qia. Itu sebabnya, Satrio tidak ingin berlama-lama.


"Baiklah, mari kita bicara baik-baik," ujar Andre. Ia lalu melepaskan cengkeramannya, kemudian duduk kembali di sofa. Andre juga duduk di tempatnya semula.


"Bapak Andre yang terhormat, sejak beberapa hari yang lalu, Qia memang hilang. Dia diculik saat dirawat di rumah sakit. Gue tahu, bukan lo yang menyembunyikan ISTRI GUE, tapi BAPAK lo," ujar Satrio, sengaja menekan pada kata istri dan bapak.


"Itu tidak mungkin. Kenapa kau selalu menuduh papaku seperti itu? Papaku adalah orang yang sangat baik. Lagipula, apa untungnya papa menyandera Qia?" bela Andre.


"Itu karena Lo tidak tahu, betapa jahat dan berbahayanya bapak lo. Lo pikir untuk apa? Tentu saja untuk menyembunyikan kejahatannya."


"Jangan ngawur kamu!" Andre kembali emosi.


Sebenarnya gue gak mau buka ini karena kasihan sama lo. Tapi lo harus tahu yang sesungguhnya. Tanpa disengaja, Qia mengetahui rahasia besar bapak lo. Itu sebabnya, ia selalu diburu. Dan sekarang, bapak lo telah menculiknya. Bisa lo bayangkan, apa yang terjadi padanya. Gue hanya butuh informasi, di mana kira-kira Qia ditahan. Terserah, lo mau bantu atau tidak. Ada atau tidak ada bantuan dari lo, gue tetap akan mencari dan menemukannya."


Satrio lalu memanggil anak buahnya kemudian menyuruhnya untuk mengantar Andre ke tempat mobilnya ditinggal.


Sebenarnya Satrio ogah minta tolong sama saingan cintanya. Ini adalah usulan dari Hendra. Lagipula, ia sendiri sudah mengerahkan seluruh anak buahnya, juga orang-orang kepercayaan Adrian, tetap belum menemukan tempat di mana Qia disembunyikan. Tidak ada jalan lain, terpaksa ia menerima usulan Hendra. Namun, dilihat dari pernyataan Andre tadi, sepertinya anak emas itu tidak tahu apa-apa tentang kejahatan orang tuanya. Itu sebabnya, ia tidak banyak berharap.


***


Sementara itu, Andre kembali ke kediamannya. Saat itu, kondisi rumah sangat sepi. Namanya sejak beberapa hari yang lalu sedang plesir ke Eropa bersama dengan geng sosialitanya. Sedangkan papanya, tentu saja sedang kerja.


Ingat papanya, Andre jadi gelisah.


"Benarkah yang dikatakan oleh suami Qia? Benarkah qiay kini sedang diculik dan ditahan oleh papa?" batin Andre. Ia betul-betul gelisah.


Andre mondar-mandir di kamar, tanpa berbuat apa-apa. Sebenarnya ia benci sekali sana suami Qia. Tak hanya karena ia telah merebut Qia dari sisinya, tetapi juga berani memfitnah papanya di depannya.


Namun, ia sangat mengkhawatirkan pujaan hatinya itu. Di satu sisi, ia juga tidak percaya kalau papanya tega berbuat sekeji itu.


"Qi, apa yang terjadi padamu? Apa sekarang kau baik-baik saja? Benarkah papa tega berbuat seperti itu padamu?"


Andre betul-betul gelisah. Sungguh, hatinya sekarang bercabang. Keduanya adalah orang-orang yang sangat berarti untuknya.