
Andre memutuskan untuk menyelidiki masalah ini. Ia tidak ingin sembrono dengan menuduh papanya melakukan kejahatan secara asal. Namun, di satu sisi, Andre juga sangat mengkhawatirkan Qia.
Ia merasa, ada sesuatu yang janggal di sini. Ia dapat melihat keseriusan dan kesungguhan suami Qia lewat kata-kata dan tatapan mata.
"Tidak ada salahnya aku menyelidikinya," pikir Andre.
Ia tidak ingin konfrontasi secara langsung dengan papanya karena tidak ingin orang tua yang sangat dia kagumi dan selalu menjadi panutannya itu tersinggung.
Karena itu, Andre memulainya dengan menyelidiki anak buah papanya. Meski tidak begitu detil, paling tidak, ia tahu kalau papanya punya banyak pengawal dan orang-orang terlatih di sekitarnya.
Menurut Andre, itu tidak masalah. Tidak ada yang aneh, mengingat Wijaya Kusuma adalah orang terpandang dan memiliki pengaruh luar biasa di tengah masyarakat. Tidak ada salahnya memiliki pengawal karena banyak sekali pesaing bisnis ataupun orang yang iri yang tidak menyukainya.
***
Sementara itu, di tempat penyekapan, kondisi Qia masih sangat memprihatinkan. Karena beberapa kali mendapat pukulan dan tidak mendapat asupan makanan, akhirnya ia tidak sadarkan diri lagi.
Dua orang penjaga itu tampak santai. Mereka meninggalkan tempat itu tanpa memiliki beban sama sekali.
***
Di tempat terpisah, Satrio terus berkoordinasi dengan anak buahnya untuk mencari keberadaan Qia. Ia sudah mengerahkan tim terbaiknya untuk melacak, tetapi tetap tidak bisa menemukan. Bahkan, ia sendiri juga turun langsung untuk mencari.
"Dia memang hebat. Kerja mereka sangat rapi dan cepat. Bahkan, tim IT kita sampai saat ini belum bisa melacak mereka," gumam Satrio.
"Semoga Andre tidak mengecewakan kita, Bos," jawab Hendra penuh harap.
Mendengar itu, Satrio melengos kesal. Sebenarnya ia tidak mau minta tolong anak Wijaya Kusuma itu, terlebih jika mengingat lelaki itu sangat mendambakan Qia.
Ide menemui Andre adalah ide Hendra. Namun, Satrio tidak punya pilihan lain. Untuk saat ini, keselamatan Qia dan bayinya jauh lebih penting daripada mengedepankan egonya. Itu sebabnya, Satrio setuju untuk bertemu dengan Hendra dan memancing kemarahannya.
***
Sementara itu, Andre sudah memerintahkan pada anak buah papanya yang juga loyal pada dirinya untuk mencari keberadaan Qia. Ia sendiri juga mencari di beberapa titik, tetapi belum menemukan.
Tepat saat ia mulai frustasi, terdengar notifikasi di ponselnya.
"Ya, ada apa? Apa kau sudah berhasil menemukannya?" tanya Andre.
"Iya, Bos. Kebetulan sepupu saya kemarin dapat giliran jaga," kata suara di seberang.
"Di mana lokasinya?" tanya Andre.
"Di jalan Anggur 123, Bos, rumah seorang artis yang lagi naik daun. Cuma, beberapa hari ini, artis itu sedang tidak ada di rumah. Ia sedang syuting di luar negeri," jelas anak buah Andre.
"Kita akan segera meluncur ke sana," jawab Andre.
Andre lalu menghubungi beberapa anak buahnya untuk ketemu langsung di tempat penyekapan. Ia sendiri ditemani oleh seorang supir dengan pajeronya.
Andre memang memerlukan seorang sopir karena ia sendiri akan menggendong Qia jika sewaktu-waktu diperlukan. Begitulah yang ada di dalam benaknya.
"Lebih cepat lagi, Jo!" kata Andre mulai tidak sabar. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Qia.
"Sabar, Mas Andre. Ini juga sudah ngebut," jawab Tejo kalem.
Andre tidak menjawab. Ia tahu batas kemampuan sopirnya.
Selama dalam perjalanan itu, Andre hanya banyak diam. Ia mulai berpikir, kalau memang Qia betul-betul disekap papanya, berarti benar apa yang dikatakan oleh suami Qia itu, bahwasanya papanya itu tidak sesederhana kelihatannya.
"Benarkah papa sejahat itu?" batin Andre.
"Benarkah semua karena ulah papa?" Andre kembali membatin.
Rasanya ia tidak ingin percaya. Namun, faktanya saat ini Qia betul-betul sedang disekap oleh anak buah papanya atas perintah lelaki itu.
"Sebenarnya apa rahasia yang dimiliki Qia hingga papa tega melakukan itu?" Kembali pikiran Andre berputar-putar
"Sebenarnya, kejahatan apa yang papa lakukan? Dan tempat itu? Kenapa harus di rumah artis itu? Apa papa memiliki hubungan khusus dengan artis yang lebih cocok menjadi anaknya itu?" pikir Andre lagi.
Andre tidak begitu mengikuti infotainment, tetapi ia juga tidak buta sama sekali. Ia tahu, namanya Wandira. Wajahnya cukup cantik dan polos. Soal kualitas akting, tentu saja Andre tidak begitu paham. Yang jelas, gadis itu sekarang sedang naik daun. Bahkan, dalam waktu yang relatif singkat, ia sudah bisa melejit ke puncak.
"Apa ada campur tangan papa?" Andre mulai bersuuzon.
Ketika mengingat itu, perasaan Andre mulai tidak enak. Tiba-tiba, seraut wajah cantik muncul di benaknya, wajah khas wanita sosialita.
"Apa papa mengkhianati mama?"
Pikiran Andre semakin tidak keruan. Sampai tak terasa, mobil yang dikendarai Tejo berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Melihat kenampakan rumah itu, tak ada yang menyangka kalau tempat sebagus itu dijadikan tempat penyekapan. Pantas Satrio CS kesulitan untuk melacak.
Rumah itu ada di kawasan elit dengan sistem sekuritas yang cukup ketat.
"Kenapa kalian ramai-ramai datang ke sini? Apa kalian tidak tahu, ini adalah tempat terlarang untuk masuknya sembarang orang?" kata penjaga pada beberapa anak buah Andre yang lebih dulu sampai.
Para penjaga itu masih bersikap sopan karena beberapa di antara mereka saling mengenal.
Namun, peraturan tetaplah peraturan. Anak buah Andre tidak bisa masuk dengan seenaknya, meski sempat terjadi perdebatan ringan.
Namun, begitu Andre keluar dari mobil dan berjalan menuju mereka, orang-orang yang berdebat itu akhirnya diam. Para penjaga pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Minggir!" hardik Andre marah.
Mau tidak mau, mereka akhirnya memberi jalan.
"Di mana kalian menyekapnya?" tanya Andre kasar.
Tidak ada yang berani menjawab. Penjaga itu saling berpandangan. Bagi mereka, ini adalah dilema. Mereka memang harus mematuhi bosnya, tetapi yang ada di hadapan mereka kali ini adalah anak kesayangan bos.
"Apa telinga kalian sudah tuli?" hardik Andre marah.
"Di dalam, Bos. Di gudang belakang." Seseorang tiba-tiba bersuara.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Andre langsung masuk ke dalam.
"Cari!" serunya pada anak buahnya.
Beberapa orang langsung berpencar menggeledah setiap inci dari rumah yang cukup besar itu.
Sementara itu, para penjaga yang tidak berdaya langsung menghubungi Wijaya Kusuma.
"Ada apa? Sudah kubilang, kalau tidak penting benar, jangan menghubungiku!" bentak Wijaya Kusuma galak membuat penjaga yang menelpon itu ketakutan.
Untuk berjaga-jaga keterlibatan dirinya dengan beberapa kecurangan yang dia lakukan terendus oleh media ataupun aparat, Wijaya memang sangat membatasi interaksi dengan anak buahnya, kecuali dalam kondisi betul-betul genting.
"Gawat, Bos. Bos muda ada di sini, Bos. Beliau sekarang sedang memeriksa setiap inci di rumah ini," jawab penjaga sambil gemetaran.
Tentu saja jawaban itu membuat Wijaya Kusuma terkejut.