
"Saya sudah menghubunginya, tapi tidak bisa. Apa nomor Ustazah Taqiya sudah ganti?" tanya Andre.
"Oh iya, saya baru ingat, beberapa hari ini nomor Ustazah Taqiya memang tidak bisa dihubungi. Saya juga belum tahu bagaimana kabarnya," jawab Ningrum.
Ningrum tidak bermaksud kongkalikong sama Qia. Memang nomornya juga diblokir Taqiya sungguhan. Qia berpikir, kalau nomor Andre dan Andrea tidak bisa menghubunginya, lelaki itu pasti akan meminta tolong pada Ningrum. Itu sebabnya, Qia juga memblokir nomor sahabatnya itu.
"Apa tidak ada nomor lain yang bisa dihubungi?" tanya Andre lagi.
"Saya tidak tahu, Pak. Mungkin nomor suaminya, tapi saya tidak punya."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Terima kasih, Ustazah Ningrum."
"Sama-sama, Pak Andre. Saya permisi dulu."
Ningrum bangkit dan melangkah keluar. Namun, ketika sampai di depan pintu, ia berbalik.
"Maaf, Pak Andre, kalau tidak salah, Rabu siang besok Ustazah Taqiya ada jadwal ke sekolah. Masalah nubar, insyaallah akan saya tanyakan," kata Ningrum.
Seketika, wajah Andre yang tadinya suntuk menjadi cerah.
***
Hari Rabu pun tiba. Seperti biasa, Qia diantar Satrio ke sekolah. Meski agak takut kalau-kalau bertemu dengan Andre, ia tetap berangkat juga.
Ia sudah berjanji pada sang suami untuk resign dari pekerjaan kalau proyek nubar sudah kelar.
"Nanti Kakak jemput jam lima sore. Langsung keluar, ya," kata Satrio.
Qia mengangguk kemudian mencium punggung tangan suaminya, salim. Setelah itu, gadisĀ bergamis itu langsung turun dan berjalan menuju pintu gerbang.
Satrio tidak ikut turun. Ia baru akan menghidupkan mesin mobil ketika tiba-tiba perasaannya tidak enak. Intuisinya yang tajam menuntun pria itu turun dan mengikuti sang Istri.
Sampai di dekat ruang kantor, Satrio berhenti. Ia melihat seseorang menyapa istrinya.
"Ustazah Taqiya. Maaf, apa bisa ke ruangan saya sebentar?" Andre berseru agak keras membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf, Pak Andre. Tadi saya agak telat sekarang anak-anak sudah menunggu saya," tolak Qia sopan.
"Sebentar saja, Ustazah. Ada hal sangat penting yang akan saya sampaikan." Andre masih tetap kukuh.
Namun, Qia sama sekali tidak memberi kesempatan. Ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh pemilik yayasan itu. Ini pasti tentang nomornya yang tidak bisa dihubungi beberapa hari ini.
"Itu, anak-anak pada berhamburan, takutnya malah pulang semua, dikira saya tidak datang," kata Qia sambil menunjuk ke arah kerumunan siswa. Ia melangkah tergopoh menuju anak-anak itu.
Andre tidak bisa memaksa. Faktanya, ia melihat beberapa anak memang sedang berhamburan keluar. Lagipula, Qia sudah terlanjur melangkah. Tidak mungkin ia mencekal lengan gadis itu dan menghentikannya, kan? Bagaimanapun, atasan Qia itu harus tetap menjaga citra dan wibawa dihadapan Qia.
"Baiklah, kalau begitu nanti saja kalau pulang!" Andre setengah berteriak.
Qia mendengarnya, tetapi tidak berhenti ataupun menoleh. Ia berjalan tergesa-gesa menuju kelas, seolah takut kalau anak-anak betul-betul berhamburan pulang. Padahal, ia bergegas pergi karena takut kalau Andre akan mengejar. Masalah dengan lelaki itu akan ia pikirkan nanti setelah masuk ke dalam kelas.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," batin Qia lega sambil masuk ke kelas khusus ekstra. Kelas itu cukup besar, lebih besar dari kelas biasa, sehingga bisa menampung banyak siswa.
Ia segera duduk dan menyapa para siswa. Jumlah mereka tidak banyak, meski sekolah Bina Insani ini sangat besar. Dari sekian ratus siswa yang ada, hanya beberapa siswa saja yang memilih ekstra menulis.
Memang faktanya minat berliterasi generasi saat ini cukup memprihatinkan. Jangankan menulis, membaca saja ogah, kecuali baca status di sosial media.
Dari database yang diterima Qia, hanya sekitar limapuluhan yang berminat. Mereka semua semua dari kelas satu dan dua. Kelas tiga memang tidak ada pelajaran ekstra karena mereka lebih fokus dengan berbagai ujian.
***
Qia memberi arahan singkat pada siswa. Materi kali ini tentang tips menulis opini di media. Setelah itu, ia duduk kembali dan meraih ponselnya.
Qia teringat dengan kata-kata Andre yang meminta bertemu sebelum pulang nanti. Itu sebabnya, Qia bermaksud mengirim pesan ke Satrio.
Sementara itu, Satrio yang tadi memutuskan tidak pulang dan mendengar perbincangan antara Qia dan Andre tersenyum begitu mendapat pesan dari istrinya.
"Rupanya kelinci kecilku takut diterkam rubah," pikir Satrio. Lelaki tampan itu mengakui kecerdikan istrinya.
Diam-diam Satrio melangkah menuju kelas ekstra. Ia jadi penasaran, sebenarnya Qia mengajar apa. Setahunya, istrinya itu mengambil jurusan Teknologi Pangan. Lantas, di sekolah ini, ia mengajar apa?
Menurut para informan, Qia mengajar kelas tambahan.
"Mungkin seperti les gitu, kali?" pikir Satrio.
Dulu ia tidak terlalu memusingkan hal itu karena merasa tidak berhubungan dengan kasus kakaknya. Informasi bahwa Qia mengajar kelas tambahan di Bina Insani sudah cukup. Jenis pelajaran apa yang diajarkan, toh tidak berkaitan.
Ya, sehebat-hebatnya seseorang, dia pasti punya keterbatasan. Pasti ada kalanya ia melakukan suatu kesalahan. Satrio tidak tahu, justru apa yang diajarkan istrinya itu berkaitan sangat erat dengan kasus Prasetyo.
***
Qia masih menunggu para siswa mengerjakan tugas membuat opini yang ia berikan. Sesekali ia menerangkan secara gamblang ketika ada siswa yang bertanya.
Sementara itu, tanpa ia sadari, Satrio memperhatikannya dari luar.
"Ustazah, saya sudah membuat kerangkanya, tetapi kesulitan untuk mengembangkan. Bagaimana cara mengatasinya?" tanya seorang siswa. Namanya Prita.
"Sebagai seorang penulis, apakah itu fiksi ataupun nonfiksi, kita memang harus banyak membaca, tidak terbatas pada apa yang kita sukai saja. Apalagi, ini adalah tulisan opini. Meski bersifat subyektif, sesuai dengan sudut pandang penulis, tetapi tidak boleh melenceng dari fakta yang ada.
Karena itu, kita harus tetap melakukan riset, memperkuatnya dengan data dan pendapat para tokoh untuk memperkuat pendapat kita. Jadi carilah bahan sebanyak-banyaknya.
"Prita masih bingung, Ustazah. Risetnya bagaimana?" tanya Prita lagi.
"Pertama, pilih topik yang sedang ngetren saat ini. Pilih yang kamu kuasai. Kumpulkan banyak-banyak tulisan apa pun yang berkaitan dengan topik yang sedang kamu usung. Sebanyak-banyaknya, dari media mana pun.
Setelah itu, pilah mana yang bisa mendukung gagasanmu. Dengan begitu, kamu tidak akan kesulitan mengembangkan kerangka yang sudah kamu buat."
Qia menjelaskan panjang lebar. Juga beberapa pertanyaan yang lain ia jawab dengan memuaskan.
Di luar, Satrio cukup terkejut dengan pengetahuan istrinya. Ternyata pengetahuan gadis itu sangat luas. Apalagi tulisan opini ini mencakup banyak hal, seperti masalah sosial, pendidikan, hukum, kriminal, bahkan politik.
Padahal kalau di rumah, Qia seperti kelinci kecil yang jinak-jinak merpati. Ia juga tidak banyak bicara kalau tidak ada hal yang penting.
"Mungkin karena masih adaptasi," pikir Satrio.
Maklum, mereka belum genap dua bulan menikah. Apalagi, sebelumnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Di dalam kelas, Qia duduk sambil memperhatikan para pejuang literasi itu serius berpikir. Entah mengapa tiba-tiba perutnya terasa mulas. Ia kemudian beranjak menuju toilet yang ada di ruangan itu.
Selagi Qia tidak ada di ruang kelas, Satrio berinisiatif untuk masuk. Ia ingin menjahili istrinya.
Begitu seraut wajah tampan muncul di depan pintu, seketika ruang kelas gempar, terutama yang perempuan.
"Euiiih ... Ganteng banget ....!" seru seorang Prita.
Mendengar itu, yang lain mendongak dan sontak menjadi histeris.
"Ssssttt!" Satrio mendekatkan jari telunjuk di bibirnya. Ia tidak ingin Qia tahu keberadaannya karena ingin memberi kejutan.
Seketika ruangan itu menjadi sunyi.
Dengan santai, Satrio melangkah masuk, kemudian duduk di bangku paling belakang.
BERSAMBUNG