Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
11. Persiapkan Hatimu, Qi!



Bu Mirna terdiam. Ia memang tidak membenarkan apa yang diucapkan anak gadisnya. Wanita itu menyadari, kesedihan mendalam yang dirasakan Qia membuat anak itu sangat sensitif, terutama dari pandangan orang-orang.  


Karena itu, wanita yang sudah banyak makan asam garam itu lebih suka mengalihkan pembicaraan jika itu masih terkait dengan Prasetyo. Ia akan membahas hal lain dan berusaha menjauhkan Qia dari hal-hal yang membuatnya sakit.


Akan tetapi, sampai kapan? Bukankah seseorang yang sedang mengalami masalah kejiwaan terkait dengan satu persoalan sebaiknya dibenturkan dengan persoalan tersebut secara perlahan-lahan? Ia harus belajar untuk bersikap tegar dan berusaha menghadapi persoalan itu sedikit demi sedikit. Dengan begitu, luka jiwanya akan sembuh secara alamiah. 


Ia juga sadar, menjauhkan Qia dari persoalan yang sedang dihadapi, akan membuat gadis itu tidak dewasa. Pengalihan persoalan hanya akan membuat luka batinnya menumpuk dan akan terakumulasi sedikit demi sedikit. Suatu saat, jika ia berhadapan secara langsung dengan persoalan yang sesungguhnya, maka guncangan yang dirasakan akan lebih dahsyat.


Bu Mirna menjadi bingung. Di satu sisi, ia ingin melindungi Qia dari suara-suara sumbang di luar, di sisi lain wanita itu juga tidak ingin anak gadisnya mengalami depresi berat. Ia sadar, tidak mungkin ia menyembunyikan persoalan yang sebenarnya pada anak itu. Suatu saat, Qia pasti akan mengetahuinya.


Pras meninggal secara tidak wajar. Terlebih pekerjaan lelaki itu sebagai seorang wartawan di media yang cukup besar, membuat peristiwa itu menjadi besar pula. Sampai saat ini, berbagai spekulasi dan teori mulai bermunculan terkait siapa pelakunya dan apa motif dibalik pembunuhan itu.


Satu hal yang paling ditakutkan Bu Mirna adalah kalau orang-orang serta polisi mengaitkan pembunuhan itu dengan Qia. Itu bukan sesuatu yang mengada-ada. Semalam saja, ada media yang mulai menyinggung-nyinggung rencana pernikahan Pras  yang akan berlangsung sebulan lagi. Dan ketakutan itu akhirnya terjawab juga.


Koran langganan keluarga mereka tadi bagi berbicara tentang tunangan Pras. Entah siapa yang menjadi nara sumbernya. Yang jelas, banyak dugaan terkait keberadaan Qia.


Ada yang bilang tentang adanya orang ketiga, dugaan perselingkuhan oleh kedua pihak, dugaan adanya penyimpangan seksual dan sebagainya. Yang jelas, jika Qia mengetahui hal ini, ia pasti syok sekali. Bu Mirna berpikir, salahkah ia jika menyembunyikan hal itu dari Qia?


Akan tetapi, Qia bukan anak kecil. Ia memiliki pergaulan yang sangat luas baik di dunia maya atau pun di dunia nyata. Kalau beberapa hari ini anak itu tidak tahu apa-apa, itu karena ia belum membuka ponsel sama sekali sejak keluar dari rumah sakit. Ia juga hampir tidak pernah keluar  rumah. Tapi sampai kapan? Tidak lama lagi, Qia pasti akan mengetahui yang sebenarnya.


Satu lagi, polisi pasti akan datang untuk meminta keterangan. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya Qia. Belum lagi pandangan orang-orang sekitar. Kedatangan polisi pasti akan membuat kesan tersendiri bagi mereka. Kebanyakan orang suka menghukumi sesuatu yang belum jelas, kemudian menetapkan stempel yang tidak sesuai dengan fakta. Ini bukan ketakutan yang hanya berdasar pada praduga semata, tetapi realitas yang terjadi di masyarakat memang seperti itu.


“Aaah, aku harus bagaimana? Aku hanya seorang ibu yang ingin melindungi anakku,” bisik hati Bu Mirna. 


“Kenapa, Bu?” tanya Qia melihat sang ibu tampak gundah. Bu Mirna menghela napas dan berusaha menguasai keadaan.


“Tidak ada, Nak. Ibu hanya sedikit sakit kepala,” jawab Bu Mirna.


“Ya sudah, ibu minum obat dulu terus istirahat! Qia tidak apa-apa, kok,” kata Qia lagi.


“Baiklah, sebaiknya ibu istirahat dulu,” kata Bu Mirna sambil beranjak.


Namun,  baru saja mau masuk kamar, wanita itu mendengar pintu depan di ketuk. Ia tidak jadi masuk, tetapi melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan membuka pintu.


“Assalamualaikum, Bulek!”


“Waalaikum salam. Ningrum?” seru Bu Mirna setengah tak percaya.


Sebenarnya Bu Mirna merasa senang. Namun, hati wanita itu tetap diliputi kekhawatiran. Meski berbeda usia, Ningrum dan Qia cukup dekat. Kedatangan Ningrum diharapkan bisa membuat Qia sedikit melupakan masalahnya dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Namun, ia juga khawatir kalau-kalau Ningrum akan bercerta tentang kondisi sebenarnya. Mau menolak Ningrum dan mengatakan Qia keluar juga tidak mungkin.


“Ayo, masuk, Qia ada di dalam!Tunggu, ya! Saya panggilkan dulu.”


“Iya, Bulek.” 


Bu Mirna mendatangi kamar Qia lagi. Dalam hati wanita itu berdoa, semoga semua baik-baik saja.


****


“Qi, ada tamu!” seru Bu Mirna sambil mengetuk pintu kamar Taqiya.


Qia membuka pintu dengan malas. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Namun, gadis itu teringat dengan kata-kata yang ia ucapkan pada Ustazah Kamila. Qia berjanji untuk bangkit dan tidak berlama-lama dalam keterpurukan. Karena itu, ia memutuskan untuk menemui orang itu.


“Siapa, Bu?” tanya Qia. Gadis itu membuka pintu dan mendapati sang Ibu yang menatapnya dengan penuh kecemasan.


“Ningrum. Ia ada di ruang tamu,” jawab Bu Mirna.


Sejenak, wajah pucat itu terlihat berseri. Kedatangan Ningrum tentu saja membuat Qia bahagia. Apalagi, selama beberapa hari ini, ia hampir tidak keluar kamar, kecuali ada keperluan yang benar-benar mendesak.


Ningrum sedang asik mengutak-atik ponsel ketika Qia datang. Seketika gadis itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Qia. Gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu masih terlihat sembab meski sudah dibasuh dengan air. Ningrum jadi prihatin melihat itu semua. Qia, gadis sederhana yang selalu bersemangat menyongsong masa depan, kini terlihat sayu tanpa cahaya.


"Qi … kamu baik-baik saja, kan?” songsong Ningrum sambil berdiri dan memeluk Qia.


Qia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menatap Ningrum. Keduanya lalu duduk di sofa.


“Qi, aku sangat mengkhawatirkanmu. Teman-teman di sekolah juga, apalagi Pak Andre,” cerocos Ningrum.


Sekali lagi Qia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil mendengarkan kehebohan yang dilakukan oleh Ningrum.


“Qi …, jawab, dong! Beneran loh, kami sangat mengkhawatirkan kamu. Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Ningrum lagi.


“Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih, kamu sudah peduli sama aku,” jawab Qia lirih.


“Kamu ini ngomong apa? Tentu saja aku perduli sama kamu. Kita kan sudah lama berteman. Maaf, kalau aku baru bisa datang hari ini. Aku menunggu balasan darimu, tetapi sampai saat ini belum kamu berikan,”kata Ningrum.


“Balasan?” tanya Qia.


“Iya. Aku mengirimimu pesan dan menelpon  berkali-kali. Tapi, tidak kamu angkat. Juga tidak ada pesan balasan.”


“Maaf, Mbak Ning. Beberapa hari ini aku tidak membuka ponsel. Ponsel kubiarkan mati karena aku masih ingin menyendiri,” jawab Qia pelan.


“Kamu juga tidak melihat televisi?” tanya Ningrum. Qia menggeleng.


“Aku belum berselera lihat tontonan di televisi,” jawab Qia.


“Berarti kamu belum tahu berita itu?” Tanya Ningrum  lagi. Sekali lagi Qia menggeleng.


“Berita apaan?”


“Berita tentang tunangan Kak Pras.” Seketika telinga Qia tegak. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar.


“Tunangan Kak Pras? Bukankah itu aku?” tanya Qia penasaran.


”Iya, Qi. Itu memang kamu. Taqiya Eldiina memang sedang menjadi perbincangan di media. Makanya aku sangat mengkhawatirkanmu. Kamu yang sabar, ya, Qi. Kebenaran pasti akan terungkap. Kamu tidak bersalah, jadi tidak usah cemas. Jangan termakan omongan media, Qi!” Jelas Ningrum hati-hati. Ia tidak ingin Qia tersinggung.


“Memangnya, media bicara apa tentang aku?” Qia semakin penasaran.


“Sebaiknya kamu searching  sendiri aja nanti. Tapi kamu harus siap dengan apa pun yang diberitakan!” kata Ningrum.


“Kenapa tidak kamu ceritan saja sekarang?” desak Qia.


“Tidak, Qi. Sebaiknya kamu baca sendiri saja. Aku tidak ingin berita itu sampai padamu dari satu arah saja.”


Qia terdiam.  Sepertinya ada yang tidak beres. Harusnya ia sudah menduga tentang ini. Namun, karena terlalu larut dalam kesedihan, sampai-sampai ia tidak kepikiran ke arah sana. Akan tetapi, ia salah apa? Orang dirinya tidak melakukan apa-apa. Lagipula, ia yakin kalau tidak semua media seperti itu.


“Baiklah, nanti akan kucari tahu sendiri. Terima kasih atas infonya, Mbak Ning.”


Dua gadis itu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Qia tahu, sesuatu yang buruk tentangnya tengah terjadi. Karena itu, Ningrum tidak mau cerita secara langsung. Akan tetapi, ia sudah berjanji pada Ustazah Kamila untuk belajar menerima segala yang ditetapkan untuknya dengan lapang dada. Karena itu, ia bertekad untuk menghadapinya secara kesatria. Ia akan mempersiapkan hatinya untuk menghadapi segala kemunginan.


-Bersambung-